Sabtu, 27 November 2021

III PENGABDIAN PADA PROFESI GURU

III. PENGABDIAN PADA PROPESI GURU


1. Mengawali Bhakti Guru

Setelah mengantongi Izasah Sekolah Pendidikan Guru Yogyakarta, aku bersama teman-temanku dari Priangan pergi ke Kantor Gubernuran di Gedung Sate Bandung, untuk mendaftarkan diri menjadi Guru sekaligus meminta konfirmasi penempatan tugas. Saat itu tidak sulit mendapatkan pekerjaan, karena tenaga Guru sangat diperlukan dan kami mengikuti pendidikan di Yogyakarta pun untuk mengisi formasi tersebut.

Setelah selesai mengadakan registrasi dan melengkapi semua administrasi persyaratan pengangkatan pegawai negeri, kami langsung diberi tugas ke daerah yang diinginkan. Pada saat itu penempatan tugas masih opsi pilihan dari pegawai sendiri, bukan penempatan langsung oleh negara.

Aku sendiri memilih tempat tugas di daerah Tasikmalaya, bukan di Garut dimana kakakku tinggal. Pertimbangannya, bahwa kakakku sendiri di Garut sering berpindah-pindah tugas, sehingga perumahan pun nantinya tetap menjadi masalahku sendiri. Aku memilih tempat tugas di Tasikmalaya, karena jarak dengan tempat asalku Panumbangan tidak begitu jauh. 

Kepala Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya kebetulan ayah teman sekolah sewaktu di VDS Bandung. Beliau rumahnya di jalan Sukawarni. Di kemudian hari kalau aku ada kegiatan kursus bahasa Jepang sampai malam di Kota Tasikmalaya, aku bermalam di rumah beliau atau di rumah temanku yang lainnya di Jalan Gunung Sabeulah.

Pada saat aku pertama kali menghadap beliau untuk menyerahkan Surat Tugas, beliau menawari ku untuk mengajar di kota, karena menurut penjelasan beliau, biasanya alumni VDS memilih tempat tugas di Ibu Kota Kabupaten. 

Beliau sangat terkejut, ketika aku memilih tempat tugas di Kecamatan Rajapolah. Aku menjelaskan kepada beliau bahwa tempat asalku dari Panumbangan dan kalau aku memilih mengajar di Rajapolah karena pertimbangan dekat "ka lembur".


Pertama kali aku mengajar yaitu di Sekolah Dasar Rajapolah. Dulu di tingkat Kecamatan hanya ada satu sekolah dasar, sedangkan di desa-desa berdiri Sekolah Desa tiga tahun sebagai onderbouw. 

Di Rajapolah aku tinggal disebuah rumah kontrakan di blok kaum bersama seorang teman sesama guru. Ia berasal dari Pangandaran, pendidikannya dari Cursus Vork Onderwijs (CVO). Tidak lama kemudian dia pindah ketempat asalnya, sehingga aku sendirian di rumah itu. 

Seorang pengusaha dan tokoh masyarakat Rajapolah yang juga pensiunan Guru, memintaku untuk tinggal di rumahnya. Beliau bernama Bapak Adiratma. Rumahnya sangat besar terletak di persimpangan ke Terminal sekarang. Beliau mempunyai anak perempuan satu-satunya, tapi dibawa suaminya ke Jakarta, sehingga beliau hanya tinggal bersama cucunya, dua orang anak laki-laki. Mereka adalah murid-muridku. 

Bapak Adiratma menganggap aku seperti kepada anak kandungnya, dan aku pun hormat serta mengganggap beliau sebagai orang tua ku sendiri. Kalau beliau sakit, aku sendiri yang merawatnya.

Menurut Mama Haji, Bapak Adiratma mepunyai hubungan keluarga dengan kami. Keponakan Bapak Adiratma di Sukaregang memanggil mama haji dengan sebutan "paman". 

Pada saat ini tentunya keluarga Bapak Adiratma masih ada, karena merupakan keluarga besar. Tapi yang aku tahu, Bapak Adiratma sendiri telah lama wafat.

Masih terkesan, dulu apabila aku pulang mengajar, sering diajak pergi ke kebun milik Bapak Adiratma yang sangat luas. Di kebunnya ditanami berbagai macam buah-buahan. Terutama buah rambutan dan mangga. Apabila musim panen tiba, kami memitiknya, hingga mendapat satu truk penuh dan menjualnya kepada tengkulak. 

Disamping itu, Bapak Adiratma seorang pengusaha sukses. Beliau bisa mengekport topi pandan ke Belanda. Serta beliau menampung anyaman samak pandan dari daerah Panjalu dan Panumbangan.

Bagiku, tinggal di rumah Bapak Adiratma menjadi sungkan. Aku tahu diri, karena sekian lama tinggal di rumahnya, beliau menolak uang pembayaran tinggal dariku. Meskipun aku menjalankan tugas rumah sehari-hari serta mengurusi kedua cucunya, tapi kebaikan Bapak Adiratma terlalu besar untuk diperhitungkan. Ahirnya aku memutuskan pindah rumah ke Panumbangan dan tinggal bersama Ibu Haji, sementara tugas mengajar tetap di Rajapolah. 

Aku mengajar ke Rajapolah tiap hari pulang-pergi dari Panumbangan. Berangkat dari rumah setelah sholat subuh. Berjalan kaki diantar oleh adik bungsuku Umun sampai ke Pamijahan. Selanjutnya dari Pamijahan aku berjalan kaki bersama pedagang bakulan yang akan berjualan di pasar Rajapolah. Makin pagi, makin terang dan makin banyak orang pejalan kaki. Jika aku pulang mengajar dari Rajapolah sampai di rumah sekitar pukul 17.oo sore.



Pada saat itu angkutan yang ada adalah delman, begitupun jarang-jarang lewat kecuali dipesan ke rumah pemiliknya.

2. Mengajar di Kampung Halaman

Lama-lama tenagaku terkuras sekedar untuk malakukan perjalanan. Sampai di Sekolah atau di rumah, badanku sudah lusuh dan amat lelah. Makanpun tidak teratur. Kalau sempat, hanya satu kali pada sore atau malam saja, sehingga badanku menjadi kurus kering. 

Pada zaman Jepang, aku menerima gaji guru sebesar Rp.40/bulan. Besar gaji seperti itu jangankan cukup buat makan, untuk ongkos ke sekolahpun masih kekurangan. 

Dari segi ekonomi, zaman Jepang lebih terpuruk dibandingkan zaman Belanda. Waktu zaman Jepang rakyat sengsara dan kelaparan merajalela dimana-mana. Nasi sudah menjadi makanan langka. Makanan rakyat sudah beralih ke "tiwul" dan "oyek". Memang ironis, bumi nusantara dengan pesawahan terhampar luas, namun setelah panen malah menumpuk di gudang pelabuhan terbesar di Nagasaki. Penduduk Indonesia sendiri banyak yang "busung lapar" padahal mereka hidup di negeri yang subur makmur.

Walaupun keadaan ekonomi saat itu begitu sulit, aku harus tetap menjalankan pengabdian sebagai guru, enak atau tidak enak adalah pilihanku sejak kecil. Pengabdianku kepada profesi guru, tidak lagi berorientasi pada pamrih. Hayalan saat dibangku sekolah VDS, bahwa jika diangkat guru mendapat gaji besar, ahirnya motifasi bergeser menjadi murni pengabdian. Untuk biaya ongkos mengajar, ahirnya aku harus menombok di luar gaji.


Yang menjadi masalah ku menjalankan tugas mengajar waktu itu, bukan karena kecil pendapatannya, tapi terlalu lelah harus mengajar ke Rajapolah pulang-pergi dari Panumbangan. Ahirnya aku menghadap Kepala Pendidikan Kabupaten untuk meminta pindah ke Panumbangan.

Di Panumbangan, guru-gurunya berasal dari CVO sedangkan Kepala Sekolah berasal dari Sekolah Guru Normal. 



Kepala Sekolah sering menyampaikan kesungkanan beliau kepadaku: "Uwa bagja aya hidep di sakola ieu, mung hapunten bae ulah asa kaungkulan pangartos, anggap bae uwa kokolot eneng".  Yang segera ku jawab hormat bahwa beliau adalah guru kahot yang "genténg ku kadék, legok kutapak" yang sewajibnya aku sebagai generasi muda manut dan taat kepada beliau.

Kedatanganku di Panumbangan, bukan saja disambut baik oleh kalangan pendidikan, namun juga oleh Pemerintahan setempat.  Bapak Wedana Mangku menyambut dengan harapan baik, malah kemudian aku diserahi kepercayaan diberbagai organisasi, diantaranya di Organisasi Wanita dan PMI serta sebagai Ketua Persatuan Pemuda/i Indonesia (PPI). Kegiatanku bertambah padat. Selain tugas mengajar, juga harus mengurus Organisasi.





1 komentar:

  1. Kaitan Keluarga Bapak Adiratma dari Sukaregang dengan Murdagiri, yang lebih mungkin adalah dari keturunan Nyimas H.Siti Maryam, karena memanggil "paman" kepada Mohamad H.Idris. Lebih mungkin lagi adalah keluarga istrinya Mohamad Karta Abdur Razak (kakeknya Anton Carlian) kerena Mohamad Karta Abdur Razak berketurunan di daerah Tasikmalaya (Cisayong).

    BalasHapus

VI. KENANGAN LAMA MUNCUL TENGGELAM

1. Rumah  Untuk Keluarga Baru Setelah aku menikah dengan seorang polisi, kami menempati sebuah rumah pinggir jalan sebelah Barat rumah Ibu H...