Sabtu, 27 November 2021

IV KELANA DALAM ASMARA


IV. KELANA DALAM ASMARA


1. Pria Pada Tempat dan Keadaan yang Salah


Di awal menjalani tugas sebagai Guru, ada secuil kisah yang  seharusnya tidak aku sisihkan, karena setidaknya berkaitan erat terhadap jalan hidupku selanjutnya. Kisah dari seorang Pria yang selalu mencari celah untuk menempati ruang hatiku. Tokoh Pria dalam kisah ini sebenarnya mengikuti langkah hidupku yang berkepanjangan, walapun kehadirannya selalu pada keadaan dan waktu yang salah. 

Namun ada keunikan dari tokoh pria ini. Cercaan dan usiran ku malah dijadikan pendorong bagi dirinya untuk menjadi seorang tentara. Ia bersikeras meraih stastus itu, karena menganggap status tersebut merupakan standarku dalam memilih pasangan.

Awal kisah, di mulai pada ahir tahun 1946. Di Panumbangan, Mama Haji membobolkan Balong Gede, kemudian aku disuruh mengantarkan Goreng Ikan kepada Kak Ami di Garut. 

Waktu perjalanan pulang, dalam Kereta Api jurusan Banjar dari Cibatu yang aku tumpangi, disampingku duduk seorang pria yang akan pergi ke Tasikmalaya. Dia mengenalkan diri, sebut saja namanya Ariefin. Ia mengaku berasal dari Garut dan bekerja di Dinas Pertanian. Aku juga menyebutkan namaku, malah kemudian memberikan alamat ku waktu dia memintanya. 

Selanjutnya aku turun di statsiun Ciawi dan dia pun melanjutkan perjalanan ke Tasikmalaya. Kami tidak bercerita panjang lebar, karena waktu tempuh Cibatu ke Ciawi sangat singkat. Ceritapun berahir saat aku menginjakan kaki di Statsiun Ciawi. Tidak bersisa sedikitpun kesan khusus dengannya.

Sampai pada suatu hari, dia datang ke Panumbangan dan bertandang ke rumah. Ia disambut oleh Ibu Haji. Tentu saja, jika ada seorang pria yang ingin bertemu dengan ku, sikap Ibu Haji menyambut dengan baik dan ramah, karena ibu Haji bersikeras agar aku cepat berumah tangga. 

Aku juga tidak mengerti pemahaman Ibu Haji, seolah-olah sangat khawatir kehabisan tiket untuk ku berumah tangga. Atau barangkali Ibu Haji memegang syariat, jika mempunyai anak gadis harus segera dinikahkan.

Aku mempunyai firasat kurang baik, ketika pria yang ku temui di kereta dan kemudian bertandang ke rumah menunjukan tingakah yang agak "ceriwis". Firasatku ternyata benar, bagi karakter pria semacam Ariefin, jika diberi hati dan peluang akan gede rasa seperti pantun  "Cau Ombon di korangan, Kanyere ka pipir-pipir". Pria itu terlalu "baper" meskipun wanita tidak memikirkannya.

Ariefin sebenarnya bukan type pria idamanku. Cara dia mendekati wanita terlalu "klasik". Ia tidak pernah menanyakan perasaanku padanya terlebih dulu, tapi ia langsung mendekati orang tua dengan ketat untuk mengepung hatiku. Itulah karakter Dia yang tidak aku senangi. Dia seorang pria pengecut untuk menyatakan Cinta.

Melihat sambutan keluargaku begitu terbuka kepadanya, membuat dia setiap minggu berkunjung ke rumahku. Walaupun kemudian sikapku berubah dingin, tapi dia malah lebih menunjukan kedekatan dengan orang tuaku dan saudara-saudaraku. 

Sampai pada saat keluarga kami mengungsi pun, dia ikut mengungsi dengan kami. Aku makin merasa tidak nyaman oleh kehadiran dia diantara keluarga kami.

Kemudian ternyata karakter Pengecut Ariefin makin nampak, ketika meminjam mulut Ibu Haji untuk dijadikan corong bicara. Suatu hari aku dipanggil oleh Ibu Haji, disamping beliau telah duduk seorang pria yang selama ini menjengkelkan ku. Ibu Haji menekanku agar aku segera menikah dengan pria yang katanya "pilihanku" dan orang tua menyetujuinya. Pria itu ternyata Arirfin yang dari awal duduk dekat di samping Ibu Haji, seperti anak ayam bersembunyi diketiak induknya.

Kejengkelanku kepadanya makin menjadi-jadi. Sambil menatap tajam wajah Ariefin yang selalu menunduk pengecut, aku lantang berkata, bahwa antara aku dengan dia tidak ada hubungan apa-apa. Aku tidak kenal sifat dan tabiat dia sebenarnya, karena bertemu pun baru selintas di Kereta. Aku belum pernah mendengar sepatah katapun perasaan dia kepadaku. Sayang sekali, begitu alasan yang aku kemukakan, hatiku sekarang sudah terisi oleh seseorang tentara yang sedang berjuang demi bangsa dan negara, bukan seorang pria pengecut yang berjuang hanya demi kepentingan sendiri.

Sebenarnya, alasanku bahwa hatiku sudah ada yang mengisi seorang pejuang, hanyalah sekedar perisai dari serangan Sang Pengecut. Yang aku harapkan dia mau mundur. Kenyataannya, belum ada seorangpun yang sudah hinggap di hatiku, kecuali ada seorang komandan Tentara Pelajar (TRIP), mencoba mendekatiku.

Aneh memang, Ariefin yang mendengar ucapanku begitu pedas, "keukeuh peuteukeuh", akan menunggu untuk menikahiku. 

Memang dia tuh ngototnya kebangetan, seperti terjadi dua tahun kemudian, setelah aku mengikat janji dengan Perwira dan kekasihku itu berhijrah ke Jogyakarta, Ariefin datang lagi kepadaku untuk mengajak nikah dengan provikasi bahwa tentara yang berjuang itu tidak akan kembali. 

Aku bentak-bentak dia dan aku usir dia dari rumahku.
Tapi lebih aneh lagi, setelah berlangsung sepuluh tahun kemudian, bentakanku, cacianku dan usiranku kepada seorang pegawai dinas pertanian itu, justru telah mendorongnya menjadi seorang Perwira TNI-AD berpangkat Mayor.

Lagi-lagi dia datang menjengukku ketika aku di rawat di RS. Boromious Bandung, menyampaikan keinginannya lagi untuk berumah tangga denganku, padahal aku sendiri sedang berumah tangga dengan seorang Inspektur Polisi suamiku. Dengan congkaknya dia berbangga oleh pangkat perwira dan menawarkan kebaikannya untuk menanggung biaya opname selama delapan bulan di RS.Boromious itu. 

Tentu saja aku dan suamiku merasa sangat direndahkan oleh karakternya. Meskipun biaya pengobatan itu sangat besar, tapi harga diri kami jauh lebih besar. Aku dan suami ku, kemudian menjual kolam demi "banda tatalang raga".

Barangkali Ariefin telah salah menafsirkan seleraku. Dia mengira aku silau oleh status dan kepangkatan. Kalau dulu aku membagakan Perwiraku dan menyisihkan dirinya, bukan berarti aku memandang pangkat hingga menyampingkan seorang Pegawai Pertanian demi seorang Perwira. Aku lebih memandang kepada karakter pengorbanan Perwiraku dalam memperjuangkan bangsa dan negara, dibandingkan karakter Ariefin hanya memperjuangkan egoistis untuk memiliki orang lain.

Memang Ariefin dalam rangakaian perjalanan hidupku selalu menjadi seorang pria yang menduduki tempat yang salah, waktu yang salah dan keadaan yang salah. Hingga keinginannya tidak pernah tercapai.


2. Hadirnya Tentara Republik Indonesia Pelajar

Sejak Jepang kalah dalam Perang Asia Timur Raya dan menyerah tanpa syarat kepada Sekutu tanggal 14 Agustus 1945, tentara Sekutu yang tergabung dalam Allied Forces Netherlands East Indie (AFNEI) mendarat di Jakarta tanggal 29 September 1945 dibawah pimpinan Jenderal SP. Christison. Tentara sekutu bermaksud mengambil alih kekuasaan dari tangan Jepang untuk kemudian diserahkan kepada Pemerintahan Sipil Hindia Belanda, Netherlands Indie Civil Administration (NICA). Padahal, sebulan sebelumnya Indonesia telah Merdeka dan mendirikan sebuah Negara Republik.

Dengan demikian Sekutu harus melihat kenyataan, ditempat yang mereka datangi telah berdiri sebuah negara yang secara de facto berkuasa. Sehingga pelaksanaan pengalihan kekuasaan harus berhadapan dengan perlawanan militer dari pribumi.

Tentara Indonesia bahu membahu dengan rakyat untuk mempertahankan setiap jengkal tanah Ibu Pertiwi dari penyerobotan Belanda yang membonceng dibelakang Sekutu. Harta, air mata, darah dan nyawa, rela dikorbankan untuk mempertahankan kemerdekaan. Mereka mengadakan perlawanan walaupun kekuatan militer tidak seimbang. Tidak ada pilihan lain bagi mereka, selain semboyan perjuangan yang selalu mereka gelorakan "Merdeka atau Mati". 

Memang perundingan dengan Belanda sering dilakukan, tapi setiap persetujuan disepakati kemudian dilanggar sendiri oleh Belanda dengan melakukan agresi militer. 



Dalam menghadapi agresi militer Belanda tersebut, terpaksa tentara pejuang mundur keperkampungan dan pegunungan membuat “kantong pertahanan” sambil mengadakan perlawanan dengan sistim gerilya.

Pada akhir tahun 1946, Bandung sebagai pusat komando Divisi Siliwangi, diserang secara mendadak oleh tentara Belanda. Tentara pejuang mundur kedaerah-daerah membuat kantong pertahanan, termasuk di daerah Tasikmalaya Utara dan Ciamis Utara. 


Komandan Divisi Siliwangi saat itu adalah Kolonel AH.Nasution yang berkedudukan di Gombong Ciawi Tasikmalaya. Sedangkan di daerah Panumbangan berkedudukan satu Batalyon. Markas Batalyon menggunakan Kantor Kewadanan Panumbangan.



Suasana di Panumbangan saat itu menjadi ramai. Selain dipenuhi oleh tentara pejuang, juga banyak keluarga tentara serta warga-warga kota lainnya yang ikut mengungsi. Para tentara tersebar menghuni rumah-rumah penduduk. Rakyat merelakan rumahnya ditempati, karena mereka umumnya mengungsi kepinggiran kampung atau kepegunungan. 


Dalam pengungsian saat itu, banyak tentara terluka korban agresi militer di Bandung yang dibawa mengungsi ke Panumbangan. Pada saat itu aku sebagai anggota Palang Merah Indonesia (PMI),  kesehariannya sibuk merawat tentara yang terluka.

Batalyon di Panumbangan terdiri dari beberapa kompi dan diantaranya adalah Kompi Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Banyak saudara-saudaraku yang berbagabung dengan TRIP, antara lain Yoyo Djajapoerawinta putera pamanku H. Gozali Djajapoerawinta dan Adang Kartaman suami keponakanku Neng Kartika, cucunya kakak ibuku.


Diantara anggota Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP), ada seseorang Komandan berpangkat Kapten yang kemudian menoreh kisah cinta di hati aku. Dia akan selalu ku sebut nama Sang Perwira.


3. Kedai Kopi Berontak.

Di Markas Batalyon (BC) banyak gadis-gadis dari keluarga pengungsi berasal dari Bandung dan Bogor. Mereka bergabung dengan kami dalam berbagai kegiatan. Diantara mereka ada yang bergabung menjadi tenaga guru di Sekolah Dasar dimana aku mengajar. Ada juga yang ikut aktif di Palang Merah. Aku sendiri melakukan tugas mengajar tidak dapat sepenuhnya karena kesibukan di PMI dan PPPI.

Pada suatu hari, aku dengan gadis-gadis pengungsi mempunyai gagasan membuat warung dadakan sederhana tapi menarik, untuk melayani jajanan para pejuang. 

Di warung itu kami menyediakan gado-gado dan minuman. Minuman khas yang kami sediakan adalah “kopi berontak”, yaitu campuran kopi, jahe, lada dan telur ayam kampung yang diseduh dengan pemanis gula aren atau madu. Entah mengapa kopi itu dikatakan berontak, tentara sendiri yang memberi nama itu. 

Malam pertama berjualan, warung kami dipenuhi tentara pejuang, termasuk anggota TRIP dan Komandan Kompinya. Makanan dan minuman yang kami jajakan laris habis. Maklum yang melayaninya gadis-gadis cantik dari kota. Merekalah yang selalu meladeni warung setiap malam, sedangkan aku hanya mengawasi, namun sesekali suka membantu melayani juga.

Warung itu kami dirikan disebelah Timur rumah Ibu Haji, dibawah pohon Jambu Aer yang rindang. Dihalaman itu dipasangi meja-meja dan kursi tempat duduk pembeli. Sedangkan untuk memasak, tetap menggunakan dapur rumah Ibu Haji. 

Kegiatan kami mendapat dukungan orang tua yang saat itu sedang mengungsi di Pasir Bilik. Katanya, lumayan untuk menambah biaya hidup dipengungsian terutama untuk menjamu pengungsi-pengungsi dari jauh.

Di rumah Ibu Haji ada tiga keluarga pengungsi dari Bandung menempati paviliun, kamar belakang dan lumbung padi (leuit) yang telah dirubah menjadi ruangan tidur. Kasihan mereka harus hidup terlantar dipengungsian, padahal ditempat asalnya merupakan orang berada. Barang-barang yang sempat mereka bawa kepengungsian hanya pakaian seadanya dan perhiasan-perhiasan berharga. Selebihnya, kekayaan yang berlimpah di rumah asalnya ditinggalkan begitu saja dan menjadi sasaran penjarah.

Halaman rumah ibu haji itu sangat luas. Memanjang dari sebelah Barat ke Timur pinggir jalan Kabupaten. Sepanjang pinggir jalan ditembok dan ditanami bunga mawar membentuk pagar. Kalau malam hari masuk pekarangan, tercium semerbak bunga mewangi bagai disebuah taman . Ditengah halaman ada kolam dan dipinggirnya tumbuh pohon jambu aer yang rindang. Warung itu kami bangun dibawah pohon jambu dan ditata sedemikian rupa sebagai hasil kreasi gadis-gadis pengungsi dari kota. Lokasinya sangat strategis dan asri, sehingga para tentara senang tinggal belama-lama di warung dadakan kami.

Tiap malam barang dagangan habis terus, walaupun kami telah menambah jumlahnya. Warung kami tutup jam 21.oo malam, karena kalau malam aku harus pulang ketempat pengungsian dipinggiran kampung babakan. Gadis-gadis pengungsi dari kota itu pun ikut bersamaku tidur ditempat pengungsianku. 

Pagi hari, kami turun ke kota untuk melakukan kegiatan-kegiatan. Kegiatan yang aku lakukan adalah mengajar, mengurus organisasi PPPI, merawat korban tentara terluka di PMI dan tentu saja membuka “warung dadakan”. 

Selain itu, setiap  aku turun ke kota senantiasa memeriksa rumah, karena ternyata banyak barang berharga milik Ibu Haji yang dijarah.

4. Janji Perwiraku

Diantara tentara yang jajan di warung kami, ada seorang komandan TRIP yang tidak pernah absen datang. Ia berpangkat Kapten bernama Perwira. Setiap malam ia datang sendiri atau dikawal oleh anggotanya. Malah kalau ia akan patroli sambil menunggang kuda kesayangannya, tak luput turun dan mampir dulu. 

Awal-awalnya, ada-ada saja keperluan yang ia disampaikan untuk bisa mampir, namun kemudian aku tidak pernah lagi menanyakan, karena aku sendiri mengharapkan kedatangannya dan merasa nyaman ditemani ngobrol olehnya. Lebih-lebih kalau tugasnya lagi santai, ia bisa seharian penuh menemaniku. Ahirnya, aku merasa kehilangan jika suatu hari dia tidak menemuiku.

Kalau senja berganti malam, aku bergegas dandan merias diri, karena malam harinya pasti dia mengajak ku ngobrol sambil duduk berdua dibangku pinggir kolam dibawah pohon Jambu itu.

Kami saling berbagi cerita, termasuk tentang pengalaman sekolah masing-masing. Tentang perjuangan yang sedang ia hadapi dan tidak terlewat tentang masa depan kami berdua manakala perjuangana telah usai. Dia berjanji, setelah Negara Republik Indonesia terlepas dari cengkraman kekuasaan Belanda, kami akan menikah dan membina keluarga, menikmati alam kemerdekaan. 

Janji yang dia ucapkan diahiri dengan sebuah lagu "De Orchiedeien Bloeien" yang lantunannya menggaung sampai kini.

Makin lama hatiku makin dekat dengan dia. Entah mengapa, perkenalan dengan pria yang satu ini, perasaanku berbeda dibandingkan kepada pria yang pernah kukenal sebelumnya. 

Pria yang pernah aku kenal sebelumnya tidak mampu menembus hatiku paling dalam. Begitu mudah datangnya, begitu juga mudah perginya. Tanpa meninggalkan bekas, tanpa luka dan khawatir ditinggalkan.

Kali ini, benih asmara yang disemai Sang Perwira itu, telah tumbuh subur dan akarnya merambah keseluruh rongga kalbu. Aku menjadi tidak berdaya tanpa dia. Tidak bertemu sehari pun benar-benar membuatku gelisah. Begitupun perasaan dia, jika kesibukanku tidak sempat menemuinya, ia selalu bertanya: “Waar ben je geweest?”.

Batalyon membuat pabrik roti untuk makanan para tentara dan aku selalu membantu disana. Kalau aku sedang ada di pabrik atau sedang sibuk merawat pasien di PMI, dia selalu menghampiri dan menemaniku. Kemudian kedekatanku dengannya menjadi terkenal dikalangan anggota TRIP atau tentara pada umumnya, termasuk juga dikenal oleh para Komandan Kompi lainnya.

5. Kecemburuan Sang Perwira

Perwiraku mengetahui tentang seseorang bernama Ariefin yang “keukeuh” ingin menikahiku dengan cara mendekati keluargaku. Mengambil hati mereka serta lekat menguntit mereka hingga ikut dalam pengungsian. Dan dia juga mengetahui sebenarnya aku tidak mau dan menolak pria itu. 

Walaupun demikian kecemburuan dia tetap besar. Dia khawatir seandainya pria itu mampu mengambil hati orang tua dan aku tak berdaya menolaknya. Jika aku tidak dapat menemui dia karena kepentingan keluarga, dia akan segera menduga aku bersama pria itu,  dipertemukan oleh keluarga. 

Seperti pernah terjadi ketika aku tidak bisa menemuinya selama tiga hari karena disuruh Ibu Haji menjemput Kak Ami ditempat pengungsian di lereng Gunung Talagabodas.

Pada suatu hari, aku bersama Kak Adi, Kang Purwa dan seorang panyawah mama haji, pergi ketempat pengungsian Kak Ami di daerah Cilengkrang dilereng gunung Talagabodas perbatasan Garut – Tasikmalaya. 

Kak Ami mengungsi di Desa Cinta, yaitu nama Desa, tempat pengungsian para pejabat Propinsi dan keluargannya. Malah Gubernur Jawa Barat saat itu mengendalikan pemerintahan daruratnya dari sana. Yang memegang jabatan gubernur saat itu adalah Pa Sewaka.

Pada saat itu bulan Ramadhan. Kami pergi dari Panumbangan sehabis sahur. Perjalanan yang harus ditempuh naik gunung turun gunung, mendaki bukit menyusuri lembah. Aku sangat kelelahan, lebih-lebih sedang menjalankan ibadah puasa. Kakiku sudah sangat lemah untuk melangkah sehingga perjalanan banyak dihentikan untuk istirahat beberapa saat. Lambatnya perjalanan karena kami sering melepas lelah, namun akhirnya sampai juga ditempat tujuan sore hari. Kami menginap satu malam ditempat pengungsian untuk memulihkan tenaga. 

Keesokan harinya, kami bersama Kak Ami dan dua orang anaknya, pulang ke Panumbangan. Dalam perjalanan pulang, kedua anak Kak Ami ditanggung oleh panyawah atau bergantian dengan yang lainnya. 

Seperti keadaanku dalam perjalanan kemarin, kali ini Kak Ami benar-benar kelelahan dan tidak dapat dipaksakan lagi berjalan. Kami memutuskan untuk bermalam di perjalanan. Kebetulan ada seorang Lurah yang baik hati menyediakan makanan untuk berbuka puasa dan menyediakan tempat bermalam. Ia adalah Lurah Ciheulang.

Pagi harinya kami pamit untuk meneruskan perjalanan. Perjalanan di pegunungan saat itu sambil menikmati keindahan alam. Sungai-sungai mengalir berkelok-kelok menelusuri celah dataran rendah, kelihatan bagai ular sedang melata. Pemandangan dari atas gunung terlihat lebih indah. Pesawahan dan perkampungan terlihat menghampar dibawah bagai maket mungil nan asri. Kota Ciawi dan Panumbangan terlihat juga dari sana.

Ketika kami turun di sebelah Barat Gentong sebelum jembatan kereta api, tiba-tiba sebuah Kapal terbang Belanda jenis “capung” terbang rendah serasa dekat kepala kami. Kami semua berhamburan mencari tempat persembunyian. Kebetulan kami melihat sebuah kolam, kami semua terjun dan merendamkan diri dibawah pancuran. Setelah pesawat terbang Belanda itu lewat, kami bangkit dengan pakaian basah kuyup. Barangkali pesawat itu hanya melakukan pengintaian udara untuk menyelidiki tempat persembunyian para pejuang.

Kami sampai di Panumbangan setelah Ashar sehingga bisa buka puasa bersama dirumah. 

Walaupun badanku masih terasa lesu dan pegal-pegal bekas perjalanan jauh, keesokan harinya, sebelum ke PMI aku pergi ke Pabrik Roti dulu. Tiba-tiba Perwiraku datang menghampiriku sambil menghujani pertanyaan penuh curiga: “Laats waar ben je geweest?” tanya dia. 

Wij zijn van Garut geweest” jawabku minta pengertian. 

Tapi kemudian dia berkata seperti menggugat: Mengapa tidak kasih tahu saya terlebih dulu?”

Aku jelaskan kepadanya bahwa kepergian ke Garut untuk menjemput kakak sekeluarga yang mengungsi di lereng Gunung Talagabodas serta keterlambatanku disebabkan kesulitan perjalanan harus menuruni dan mendaki gunung. 

Walaupun kelihatannya penjelasanku belum menyentuh keyakinan dia, ahirnya alasanku dia terima dan situasi kaku pun berubah menjadi derai tawa dan canda.

Akhirnya diketahui, bahwa dia menyangka kepergianku ke Garut bersama Si Ariefin, karena dia menyadari bahwa seluruh keluargaku mendukungnya. Kepergian kami ke Garut olehnya dianggap sebagai akal-akalan orang tuaku untuk mempertemukan aku dengan Si Ariefin itu. Malah Perwira menyangka lebih jauh, dia mencemburuiku tengah merencanakan pernikahan.


6. Persembahan Terakhir Bagi Sang Perwira

Suatu hari Perwira memberitahuku bahwa di markas batalyon akan diadakan malam hiburan. Dia memintaku agar anak-anak sekolah dapat mengisi salah satu acara hiburan itu. Aku menyanggupi. Untuk jenis hiburan yang akan dipertunjukan berupa nyanyian dan tarian sebagaimana telah kami gelar pada peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik lndonesia pertama bulan lalu. 

Untuk pertunjukan itu kami mengadakan persiapan seadanya. Properti hiburan bekas peringatan hari Kemerdekaan masih tersimpan di Sekolah sehingga masih bisa digunakan. Kami membagi-bagi tugas. Seni tari dan seni suara dipercayakan kepada Neng Deetje putri dr.Kartobi seorang dokter tentara. Aku dan teman lainnya mempersiapkan untuk karangan bunga (cocarde) yang nantinya akan disematkan di dada para pejuang.

Menjelang malam penyelenggaraan, Perwira datang menjemputku ke rumah di pengungsian. Ia datang dikawal dua anggota TRIP. 

Setelah dia meminta izin  orang tuaku, kami berangkat menuju alun-alun. Ibu haji menugaskan adik bungsuku Anggara melakukan pengawalan dan mendampingiku pergi.

Lucu, dalam hal kawal mengawal antara aku dengan dia sepertinya berlaku dua prosedur. Pertama prosedur keluarga untuk mengawal keselamatan ku termasuk ganguan dari kejahilan tentara disampingku. Kedua prosedur militer untuk mengawal komandanya. Kalau harus jujur, kedua prosedur pengawalan tersebut tidak membuat kami nyaman. 

Acara hiburan diawali pertunjukan Band dari anggota Trip. Walaupun band tersebut tidak tergolong profesional karena perlengkapan musik seadanya, tapi cukup menghibur kami. Kemudian disusul berbagai hiburan dari anggota tentara lainnya. Dan Acara terahir diisi oleh nyanyian dan tarian gadis-gadis dibawah asuhan Neng Deetje. 

Pertunjunkan mereka mendapat sambutan riuh dari penonton. Neng Deetje sendiri, mempertunjukan tarian tunggal Goro-gorone dan Tari Payung. Gerakannya dinamis dan lincah. Lenggang lenggoknya sesuai irama musik. Maklum ia Gadis Cantik orang kota. Penampilannya percaya diri, berbeda dengan gadis-gadis desa yang umumnya pemalu.

Selesai pertunjukan tarian, kami menyematkan cocarde di dada para tentara pejuang. Diawali kepada para komandan kompi kemudian tentara lainnya, di iringi lagu karangan bunga. 

Lirik lagu tiap bait seperti mengundang haru:

Seruan masa datang bagiku,
Membela Ibu Pertiwi,
Kan kukenang bunga karangan mu,
Untuk menambatkan hati.

Andai kata ku gugur nanti,
Beta pesan padamu
Hiaskan di batu nisanku
Tanda Cinta padaku.

Keharuan telah menggerakan getaran jiwa para pejuang, sehingga semua tentara serempak berdiri menyanyikan lagu bersama-sama.

Aku sendiri, tidak kuat menahan haru, air mata ku pun jatuh menetes. Syair lagu tadi serasa pesan bagi kami. Bagiku dan bagi Perwira.

Para tentara yang terkenal bermental tangguh dalam jurit, namun dalam keharuan, hati mereka lembut dan rapuh. Mata mereka nampak berlinang-linang, berkemerlip memantulkan cahaya lampu petromak. Benar-benar momen tersebut sangat menyentuh hingga meneguhkan jiwa pejuang dalam menghadapi kedholiman penjajah.

Selesai hiburan, Perwira menghampiriku dan mengucapkan terima kasih dengan suara terbata-bata. Terlihat matanya sembab. Diantara kelopak matanya masih tersisa beberapa butir tetesan yang tidak terseka. Bulu matanya masih terlihat kuncup membasah. Menunjukan bahwa beberapa saat yang lalu, ia terhanyut oleh nyanyian keharuan.

Ternyata nyanyian yang mengharukan tadi, bukan sekedar pengobar semangat para pejuang. Bukan saja sebagai penggugah kesadaran, betapa pahitnya suatu bangsa dibawah penindasan bangsa lain. Bukan saja sekedar seruan masa datang dari Ibu pertiwi. Tapi ternyata juga nyanyian itu merupakan persembahanku yang terakhir untuk Sang Perwiraku.


7. Bom Pertama Jatuh di Panumbangan

Sekolah tempat aku mengajar letaknya bersebelahan dengan Mesjid Agung Panumbangan. Memanjang dari Barat sampai Timur sebanyak enam kelas. 

Di Desa kami, sekolah itu dikenal dengan sebutan "Sakola Panjang". Ujung bangunan Sekolah bagian Timur sejajar dengan bagian depan Mesjid. Jarak antara Mesjid dengan Sekolah tidak lebih dari lima meter. Mesjid Agung itu menghadap Alun-alun yang berada di sebelah Timur. 

Di tengah Alun-alun tumbuh Pohon Beringin sangat besar dan rindang, hingga dahan-dahannya menaungi sebagian besar alun-alun. Saking besarnya lingkaran batang pohon beringin, baru bisa didekap oleh rentangan tangan delapan sampai sepuluh orang dewasa. 

Di puncak beringin itu dibangun Pos pemantauan udara berupa gubug terbuat dari bambu. Untuk mencapai gubug tersebut dibuatkan tangga-tangga yang tinggi. Tangga itu juga terbuat dari bambu.

Markas Batalyon berada di Sebelah Selatan alun-alun, menggunakan bangunan Kantor Kewadanan. Di sebelah Timur Markas Batalyon, terdapat istal (kandang) kuda dimana kuda-kuda yang biasa ditunggangi para komandan ditambatkan. 

Kalau aku berdiri dipojok sebelah Timur Sekolah, pandangan bisa langsung kearah Markas Batalion. Keadaan Markas Batalyon beserta kuda-kuda yang berada di istal akan terlihat jelas dari pojok sekolah dimana aku berdiri itu.

Sekolah Panjang menghadap kesebelah Utara pinggir jalan kabupaten. Di sebrang jalan depan sekolah, terdapat pesawahan yang luas, yang kami sebut "Serang". Namun sebelumnya harus menyebrangi sebuah sungai yang airnya membuncah besar. Sungai itu, kami sebut Cibolodo.

Sekirar pukul 09.oo pagi, yang sayangnya hari dan tanggalnya tidak kuingat lagi, tiba-tiba terdengar deru pesawat terbang Belanda dari arah Selatan. Kemudian disusul rentetan senapan mesin yang dimuntahkan dari pesawat itu mengarah ke pos pamantauan udara di atas pohon beringin.

Sirine tanda bahaya pun dibunyikan meraung-raung. Guru-guru dan murid yang tengah mengadakan kegiatan mengajar-belajar terperanjat kaget dengan panik berhamburan keluar kelas. Berlari tidak tentu arah mencari tempat perlindungan. Murid yang agak dewasa mampu berlari menyebrangi jalan dan bersembunyi ditepian Sungai Cibolodo, tapi murid kelas satu dan dua yang masih kecil tidak sempat berlindung jauh. Mereka hanya sempat berlindung di belakang Mesjid Agung dengan seorang guru, sebut saja bernama Bapak Mintarja.

Aku sendiri tidak sempat berlari jauh, karena sebelumnya membereskan buku-buku bekas kegiatan mengajar terlebih dulu. Pesawat Terbang Belanda terlanjur datang kembali dari arah Utara dengan serentetan tembakan senapan mesin.

Aku hanya bisa bersembunyi disebuah bak kosong dibagian depan Mesjid, dipojok Timur bangunan sekolah. Diatas bak itu, berdiri sebuah bangunan tingkat terbuat dari kayu yang biasa dipakai tempat penyimpanan bedug.

Menurut perhitunganku, jika ada tembakan dari arah atas, aku masih terlindung oleh bedug dan bangunannya. Aku tidak memperhitungkan pesawat Belanda itu kemudian akan menjatuhkan Bom. Jika bom itu jatuh disana dan meledak, tentu badanku hancur beserta seluruh bangunannya.

Dari tempat persembunyian, aku melihat jelas bagaimana pesawat terbang Belanda berputar-putar mengelilingi kota. Kemudian datang dengan posisi miring memuntahkan peluru menghujani Markas Batalion. Hujan peluru pun berjatuhan di halaman sekolah dan dibelakang Mesjid termasuk disekitar tempat persembunyianku. Aku menyaksikan genting-genting Masjid dan Sekolah hancur berterbangan. Malah aku melihat jelas kearah istal Markas Batalion. Aku menyaksikan sendiri, bagaimana kuda kesayangan Perwira meringkik kesakitan terkena tembakan ahirnya sekarat dan mati.

Setelah beberapa kali putaran sambil menghujani tembakan, pesawat terbang itu kemudian menjatuhkan Bom tepat dibelakang Mesjid dimana Bapak Mintarja beserta murid kelas satu bersembunyi. Aku memejamkan mata dan menutup telinga rapat-rapat. Terbayang di benak ku, Bom yang jatuh di belakang Mesjid itu meledak dan seluruh murid beserta guru hancur, termasuk aku sendiri yang bersembunyi tidak jauh dari jatuhnya Bom. 

Namun setelah beberapa saat aku menutup telinga, belum terdengar suara dentuman keras. Sepertinya Allah tidak mengizinkan terjadi malapetaka mengerikan didepan mata ku. Bom yang jatuh dibelakang Mesjid Agung, tepatnya di paimbaran itu tidak meledak.

Akibat serangan Belanda itu, banyak murid-murid yang bersembunyi di belakang mesjid menjadi korban peluru nyasar. Seorang murid kelas satu meninggal dunia tertembus peluru hingga isi perutnya keluar. Bapak Mintarja pun terluka dibagian tangannya.

Setelah terdengar suara sirine tanda aman, semua keluar dari tempat persembunyian. Mereka begitu panik dan ketakutan, malah banyak murid-murid yang keluar dari persembunyian sambil menjerit-jerit, karena melihat teman didekatnya sudah bersimbah darah.

Aku sendiri tidak dapat segera keluar dari persembunyian. Kakiku amat berat untuk dilangkahkan. Aku gemetar seperti orang mengigil kedinginan. Aku stres karena menyaksikan langsung bagaimana serangan udara dilancarkan dan korban berjatuhan. Sampai tua, aku menderita traumatik jika mendengar suara ledakan. Jantungku bedebar dan mulutku menjadi kaku.

Ibu dan keluargaku dipengungsian sangat mencemaskan aku. Mereka menangis, karena mendengar bom jatuh di halaman sekolahku. Bayangan mereka, aku telah menjadi korban serangan Udara. Tapi setelah aku datang di rumah pengungisian, mereka pun malah lebih mengeraskan tangisannya. Tangisan terahir itu, mungkin karena kebahagiaan aku lolos dari maut.


8. Serang Udara itu Awal Perpisahan Kami

Dengan adanya serangan Udara Belanda itu, kami sekeluarga pindah pengungsian lagi kedaerah pinggiran hutan gunung Sawal, sebab menurut informasi militer, Belanda akan segera menduduki Panumbangan.

Warung dadakan yang biasa kami bikinkan "kopi beronrak" untuk para pejuang di tutup. Selain situasi tambah genting, jumlah tentara pejuang pun makin sedikit. Markas Batalion sudah dipindahkan ke daerah lain, yaitu ke daerah Lemah Putih Majalengka.

Sebelum meninggalkan Panumbangan para Komandan Kompi termasuk Perwira menemuiku dan keluargaku dipengungsian. Mereka pamitan seraya mengucapkan terima kasih oleh bantuan dan dukunganku sekeluarga  kepada perjuangan.

Mereka sopan-sopan dan menghargai keluarga ku. Bukan karena mereka mengetahui aku pacarnya salah seorang komandan kompi, tapi juga karena aktifitasku selama ada Batalion tentara dinilai membantu perjuangan, terutama kegiatan PMI untuk merawat pejuang yang teluka.

Kompi TRIP mundur ke kaki Gunung Sawal di daerah Pasireurih Pamijahan dan sebagian lagi berada di kampung Singkup desa Medanglayang.

Sebenarnya, saat Belanda akan menyerang, pihak tentara pejuang sudah mengetahuinya, sehingga personil yang berada si Markas sudah ditarik mundur. Alat komunikasi radiogram sudah dipindahkan ke Kebonkopi. Tempat itu sekarang menjadi rumah putriku.

Sebelum serangan udara dilakukan Belanda, ada juga bangsa sendiri yang menjadi penghianat. Mereka menjadi mata-mata Belanda. Perwira pernah mengatakan orang-orang yang dicurigai, tapi tidak sepatutnya aku katakan lagi. Mereka memprovokasi keadaan di Panumbangan akan tetap tetap aman, katanya telah dicapai kesepakatan dalam perundingan Pemerintah Belanda dengan Republik. Maksud provokasi mereka untuk menjebak tentara agar tidak mundur dan nantinya mudah dihancurkan.

Tapi tentara pejuang pun lebih waspada, selain mempunyai jalinan komunikasi dengan para politisi Republik dan pembesar militer, juga mempunyai intelejen yang disusupkan di pihak Belanda.

Namun bagi rakyat umumnya banyak yang terprovokasi, sehingga ketika terjadi serangan, rakyat tengah mengadakan kegiatan rutin sehari-hari. Termasuk aku tidak menyangka akan terjadi penyerangan udara tapi bukan karena aku terkena provikasi. Hari itu, aku turun dari pengungsian karena panggilan nuraniku sebagai guru. Murid-murid telah berkumpul di sekolah menunggu Guru mengajar, sangat mustahil aku meninggalkan mereka. 

Setelah serangan udara itu aku tidak bertemu lagi dengan Sang Perwiraku. Ternyata rentetan peluru dari Senjata Otomatis dan Bom Belanda itu awal perpisahan kami. Setelah malam harinya aku kalungkan bunga dan nyanyian perpisahan, ternyata siang harinya Belanda menyerang.

Namun sebelum pasukan mundur ke Gunung Sawal, tentara pejuang terlebih dulu menghancurkan jalan dan jembatan. Maksudnya untuk menghambat pergerakan Belanda, agar tidak segera sampai ke Panumbangan.


9. Perwiraku Sakit Keras

Setelah peristiwa pengeboman dan para tentara pejuang ditarik mundur ke pegunungan, aku tidak bertemu lagi Perwira, sampai suatu hari aku mendengar berita bahwa dia bersembunyi disuatu lokasi, yaitu di pasir Singkup Medanglayang. Malah si pembawa berita menyampaikan pesan, bahwa Perwira dalam keadaan sakit parah.

Jarak tempat pengungsianku dengan tempat persebunyian kompi Trip sekitar dua sampai tiga kilometer dengan perjalanan melalui hutan dan melintasi bukit.

Begitu cemas hatiku setelah mendengar berita tentang keadaannya. Kecemasan berbaur rindu telah mengalahkan rasa takut dari ancaman keselamatan oleh keadaan yang sedang genting saat itu. Aku memberanikan pergi menemuinya di persembunyian, sekalipun sewaktu-waktu aku harus menanggung resiko di hadang pasukan Belanda. Perjalanan yang melelahkan, harus menerobos hutan dan mendaki bukit tidak lagi menjadi rintangan bagiku. Akhirnya aku sampai di tempat persembunyian Perwira.

Dia tengah tergolek diatas balai-balai gubug bambu yang lapuk, dialasi sehelai tikar kusam. Ia berbaring dengan ganjal sebuah bantal. Dari sarung bantal yang dipakainya, aku melihat bordiran buatan tanganku sendiri.Ternyata, kemanapun dia pergi selalu membawa sarung bantal dari ku.


Sedih hatiku melihat keadaan Sang Perwiraku. Aku menangis hingga terisak-isak, menyusupkan kepalaku ke dadanya.  Aku ingin terus mendekap dan memeluknya. Aku ingin lama di dekatnya. Aku ingin terus mendampingi dan merawatnya. Namun keadaan perang memaksakku untuk jauh darinya. 

Dia pun kemudian menyuruhku segera pulang, dengan nada perintah: "Tinggalkan Tentara demi nyawamu".  Namun aku malah mempererat pelukan hingga dia membentaku:" Zoo leven de tentara!!". Aku hanya bisa menjawab dengan anggukan seraya mengusap air matakaku yang membasahi pipi.

Disela-sela keharuan, aku memahami segenap keadaan dan tanggung jawab dia dalam perjuangan. Dengan hati berat, aku pelan-pelan meninggalkan dia dengan berjalan mundur tanpa melepas pandangan kearah gubug tempat dia berbaring. 

Langkahku terhenti, tertegun sejenak seraya menggit bibir menahan tangis. Tak kausa aku untuk membalikan badan dan pergi meninggalkan dia. Pirasatku mengatakan, hari itu terakhir aku melihat wajahnya dan dekat dengannya.

Tiba-tiba tanganku ditarik oleh seorang anggota Trip agar aku segera meninggalkan persembunyian. Kemudian aku pulang dikawal oleh dua orang anggota sampai ke batas Kampung Nyangkokot. Mereka mengatakan, tidak bisa masuk ke permukiman dengan senjata lengkap. Bisa saja ada penduduk sebagai mata-mata Belanda. Selebihnya aku disuruh berjalan sendiri dengan hati-hati. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

VI. KENANGAN LAMA MUNCUL TENGGELAM

1. Rumah  Untuk Keluarga Baru Setelah aku menikah dengan seorang polisi, kami menempati sebuah rumah pinggir jalan sebelah Barat rumah Ibu H...