Diantara tentara yang jajan di warung kami, ada seorang komandan TRIP yang tidak pernah absen datang. Ia berpangkat Kapten bernama Perwira. Setiap malam ia datang sendiri atau dikawal oleh anggotanya. Malah kalau ia akan patroli sambil menunggang kuda kesayangannya, tak luput turun dan mampir dulu.
Awal-awalnya, ada-ada saja keperluan yang ia disampaikan untuk bisa mampir, namun kemudian aku tidak pernah lagi menanyakan, karena aku sendiri mengharapkan kedatangannya dan merasa nyaman ditemani ngobrol olehnya. Lebih-lebih kalau tugasnya lagi santai, ia bisa seharian penuh menemaniku. Ahirnya, aku merasa kehilangan jika suatu hari dia tidak menemuiku.
Kalau senja berganti malam, aku bergegas dandan merias diri, karena malam harinya pasti dia mengajak ku ngobrol sambil duduk berdua dibangku pinggir kolam dibawah pohon Jambu itu.
Kami saling berbagi cerita, termasuk tentang pengalaman sekolah masing-masing. Tentang perjuangan yang sedang ia hadapi dan tidak terlewat tentang masa depan kami berdua manakala perjuangana telah usai. Dia berjanji, setelah Negara Republik Indonesia terlepas dari cengkraman kekuasaan Belanda, kami akan menikah dan membina keluarga, menikmati alam kemerdekaan.
Janji yang dia ucapkan diahiri dengan sebuah lagu "De Orchiedeien Bloeien" yang lantunannya menggaung sampai kini.
Makin lama hatiku makin dekat dengan dia. Entah mengapa, perkenalan dengan pria yang satu ini, perasaanku berbeda dibandingkan kepada pria yang pernah kukenal sebelumnya.
Pria yang pernah aku kenal sebelumnya tidak mampu menembus hatiku paling dalam. Begitu mudah datangnya, begitu juga mudah perginya. Tanpa meninggalkan bekas, tanpa luka dan khawatir ditinggalkan.
Kali ini, benih asmara yang disemai Sang Perwira itu, telah tumbuh subur dan akarnya merambah keseluruh rongga kalbu. Aku menjadi tidak berdaya tanpa dia. Tidak bertemu sehari pun benar-benar membuatku gelisah. Begitupun perasaan dia, jika kesibukanku tidak sempat menemuinya, ia selalu bertanya: “Waar ben je geweest?”.
Batalyon membuat pabrik roti untuk makanan para tentara dan aku selalu membantu disana. Kalau aku sedang ada di pabrik atau sedang sibuk merawat pasien di PMI, dia selalu menghampiri dan menemaniku. Kemudian kedekatanku dengannya menjadi terkenal dikalangan anggota TRIP atau tentara pada umumnya, termasuk juga dikenal oleh para Komandan Kompi lainnya.
5. Kecemburuan Sang Perwira
Perwiraku mengetahui tentang seseorang bernama Ariefin yang “keukeuh” ingin menikahiku dengan cara mendekati keluargaku. Mengambil hati mereka serta lekat menguntit mereka hingga ikut dalam pengungsian. Dan dia juga mengetahui sebenarnya aku tidak mau dan menolak pria itu.
Walaupun demikian kecemburuan dia tetap besar. Dia khawatir seandainya pria itu mampu mengambil hati orang tua dan aku tak berdaya menolaknya. Jika aku tidak dapat menemui dia karena kepentingan keluarga, dia akan segera menduga aku bersama pria itu, dipertemukan oleh keluarga.
Seperti pernah terjadi ketika aku tidak bisa menemuinya selama tiga hari karena disuruh Ibu Haji menjemput Kak Ami ditempat pengungsian di lereng Gunung Talagabodas.
Pada suatu hari, aku bersama Kak Adi, Kang Purwa dan seorang panyawah mama haji, pergi ketempat pengungsian Kak Ami di daerah Cilengkrang dilereng gunung Talagabodas perbatasan Garut – Tasikmalaya.
Kak Ami mengungsi di Desa Cinta, yaitu nama Desa, tempat pengungsian para pejabat Propinsi dan keluargannya. Malah Gubernur Jawa Barat saat itu mengendalikan pemerintahan daruratnya dari sana. Yang memegang jabatan gubernur saat itu adalah Pa Sewaka.
Pada saat itu bulan Ramadhan. Kami pergi dari Panumbangan sehabis sahur. Perjalanan yang harus ditempuh naik gunung turun gunung, mendaki bukit menyusuri lembah. Aku sangat kelelahan, lebih-lebih sedang menjalankan ibadah puasa. Kakiku sudah sangat lemah untuk melangkah sehingga perjalanan banyak dihentikan untuk istirahat beberapa saat. Lambatnya perjalanan karena kami sering melepas lelah, namun akhirnya sampai juga ditempat tujuan sore hari. Kami menginap satu malam ditempat pengungsian untuk memulihkan tenaga.
Keesokan harinya, kami bersama Kak Ami dan dua orang anaknya, pulang ke Panumbangan. Dalam perjalanan pulang, kedua anak Kak Ami ditanggung oleh panyawah atau bergantian dengan yang lainnya.
Seperti keadaanku dalam perjalanan kemarin, kali ini Kak Ami benar-benar kelelahan dan tidak dapat dipaksakan lagi berjalan. Kami memutuskan untuk bermalam di perjalanan. Kebetulan ada seorang Lurah yang baik hati menyediakan makanan untuk berbuka puasa dan menyediakan tempat bermalam. Ia adalah Lurah Ciheulang.
Pagi harinya kami pamit untuk meneruskan perjalanan. Perjalanan di pegunungan saat itu sambil menikmati keindahan alam. Sungai-sungai mengalir berkelok-kelok menelusuri celah dataran rendah, kelihatan bagai ular sedang melata. Pemandangan dari atas gunung terlihat lebih indah. Pesawahan dan perkampungan terlihat menghampar dibawah bagai maket mungil nan asri. Kota Ciawi dan Panumbangan terlihat juga dari sana.
Ketika kami turun di sebelah Barat Gentong sebelum jembatan kereta api, tiba-tiba sebuah Kapal terbang Belanda jenis “capung” terbang rendah serasa dekat kepala kami. Kami semua berhamburan mencari tempat persembunyian. Kebetulan kami melihat sebuah kolam, kami semua terjun dan merendamkan diri dibawah pancuran. Setelah pesawat terbang Belanda itu lewat, kami bangkit dengan pakaian basah kuyup. Barangkali pesawat itu hanya melakukan pengintaian udara untuk menyelidiki tempat persembunyian para pejuang.
Kami sampai di Panumbangan setelah Ashar sehingga bisa buka puasa bersama dirumah.
Walaupun badanku masih terasa lesu dan pegal-pegal bekas perjalanan jauh, keesokan harinya, sebelum ke PMI aku pergi ke Pabrik Roti dulu. Tiba-tiba Perwiraku datang menghampiriku sambil menghujani pertanyaan penuh curiga: “Laats waar ben je geweest?” tanya dia.
“Wij zijn van Garut geweest” jawabku minta pengertian.
Tapi kemudian dia berkata seperti menggugat: “Mengapa tidak kasih tahu saya terlebih dulu?”.
Aku jelaskan kepadanya bahwa kepergian ke Garut untuk menjemput kakak sekeluarga yang mengungsi di lereng Gunung Talagabodas serta keterlambatanku disebabkan kesulitan perjalanan harus menuruni dan mendaki gunung.
Walaupun kelihatannya penjelasanku belum menyentuh keyakinan dia, ahirnya alasanku dia terima dan situasi kaku pun berubah menjadi derai tawa dan canda.
Akhirnya diketahui, bahwa dia menyangka kepergianku ke Garut bersama Si Ariefin, karena dia menyadari bahwa seluruh keluargaku mendukungnya. Kepergian kami ke Garut olehnya dianggap sebagai akal-akalan orang tuaku untuk mempertemukan aku dengan Si Ariefin itu. Malah Perwira menyangka lebih jauh, dia mencemburuiku tengah merencanakan pernikahan.
6. Persembahan Terakhir Bagi Sang Perwira
Suatu hari Perwira memberitahuku bahwa di markas batalyon akan diadakan malam hiburan. Dia memintaku agar anak-anak sekolah dapat mengisi salah satu acara hiburan itu. Aku menyanggupi. Untuk jenis hiburan yang akan dipertunjukan berupa nyanyian dan tarian sebagaimana telah kami gelar pada peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik lndonesia pertama bulan lalu.
Untuk pertunjukan itu kami mengadakan persiapan seadanya. Properti hiburan bekas peringatan hari Kemerdekaan masih tersimpan di Sekolah sehingga masih bisa digunakan. Kami membagi-bagi tugas. Seni tari dan seni suara dipercayakan kepada Neng Deetje putri dr.Kartobi seorang dokter tentara. Aku dan teman lainnya mempersiapkan untuk karangan bunga (cocarde) yang nantinya akan disematkan di dada para pejuang.
Menjelang malam penyelenggaraan, Perwira datang menjemputku ke rumah di pengungsian. Ia datang dikawal dua anggota TRIP.
Setelah dia meminta izin orang tuaku, kami berangkat menuju alun-alun. Ibu haji menugaskan adik bungsuku Anggara melakukan pengawalan dan mendampingiku pergi.
Lucu, dalam hal kawal mengawal antara aku dengan dia sepertinya berlaku dua prosedur. Pertama prosedur keluarga untuk mengawal keselamatan ku termasuk ganguan dari kejahilan tentara disampingku. Kedua prosedur militer untuk mengawal komandanya. Kalau harus jujur, kedua prosedur pengawalan tersebut tidak membuat kami nyaman.
Acara hiburan diawali pertunjukan Band dari anggota Trip. Walaupun band tersebut tidak tergolong profesional karena perlengkapan musik seadanya, tapi cukup menghibur kami. Kemudian disusul berbagai hiburan dari anggota tentara lainnya. Dan Acara terahir diisi oleh nyanyian dan tarian gadis-gadis dibawah asuhan Neng Deetje.
Pertunjunkan mereka mendapat sambutan riuh dari penonton. Neng Deetje sendiri, mempertunjukan tarian tunggal Goro-gorone dan Tari Payung. Gerakannya dinamis dan lincah. Lenggang lenggoknya sesuai irama musik. Maklum ia Gadis Cantik orang kota. Penampilannya percaya diri, berbeda dengan gadis-gadis desa yang umumnya pemalu.
Selesai pertunjukan tarian, kami menyematkan cocarde di dada para tentara pejuang. Diawali kepada para komandan kompi kemudian tentara lainnya, di iringi lagu karangan bunga.
Lirik lagu tiap bait seperti mengundang haru:
Membela Ibu Pertiwi,
Kan kukenang bunga karangan mu,
Untuk menambatkan hati.
Andai kata ku gugur nanti,
Beta pesan padamu
Hiaskan di batu nisanku
Tanda Cinta padaku.
Keharuan telah menggerakan getaran jiwa para pejuang, sehingga semua tentara serempak berdiri menyanyikan lagu bersama-sama.
Aku sendiri, tidak kuat menahan haru, air mata ku pun jatuh menetes. Syair lagu tadi serasa pesan bagi kami. Bagiku dan bagi Perwira.
Para tentara yang terkenal bermental tangguh dalam jurit, namun dalam keharuan, hati mereka lembut dan rapuh. Mata mereka nampak berlinang-linang, berkemerlip memantulkan cahaya lampu petromak. Benar-benar momen tersebut sangat menyentuh hingga meneguhkan jiwa pejuang dalam menghadapi kedholiman penjajah.
Selesai hiburan, Perwira menghampiriku dan mengucapkan terima kasih dengan suara terbata-bata. Terlihat matanya sembab. Diantara kelopak matanya masih tersisa beberapa butir tetesan yang tidak terseka. Bulu matanya masih terlihat kuncup membasah. Menunjukan bahwa beberapa saat yang lalu, ia terhanyut oleh nyanyian keharuan.
Ternyata nyanyian yang mengharukan tadi, bukan sekedar pengobar semangat para pejuang. Bukan saja sebagai penggugah kesadaran, betapa pahitnya suatu bangsa dibawah penindasan bangsa lain. Bukan saja sekedar seruan masa datang dari Ibu pertiwi. Tapi ternyata juga nyanyian itu merupakan persembahanku yang terakhir untuk Sang Perwiraku.
Sekolah tempat aku mengajar letaknya bersebelahan dengan Mesjid Agung Panumbangan. Memanjang dari Barat sampai Timur sebanyak enam kelas.
Di Desa kami, sekolah itu dikenal dengan sebutan "Sakola Panjang". Ujung bangunan Sekolah bagian Timur sejajar dengan bagian depan Mesjid. Jarak antara Mesjid dengan Sekolah tidak lebih dari lima meter. Mesjid Agung itu menghadap Alun-alun yang berada di sebelah Timur.
Di tengah Alun-alun tumbuh Pohon Beringin sangat besar dan rindang, hingga dahan-dahannya menaungi sebagian besar alun-alun. Saking besarnya lingkaran batang pohon beringin, baru bisa didekap oleh rentangan tangan delapan sampai sepuluh orang dewasa.
Di puncak beringin itu dibangun Pos pemantauan udara berupa gubug terbuat dari bambu. Untuk mencapai gubug tersebut dibuatkan tangga-tangga yang tinggi. Tangga itu juga terbuat dari bambu.
Markas Batalyon berada di Sebelah Selatan alun-alun, menggunakan bangunan Kantor Kewadanan. Di sebelah Timur Markas Batalyon, terdapat istal (kandang) kuda dimana kuda-kuda yang biasa ditunggangi para komandan ditambatkan.
Kalau aku berdiri dipojok sebelah Timur Sekolah, pandangan bisa langsung kearah Markas Batalion. Keadaan Markas Batalyon beserta kuda-kuda yang berada di istal akan terlihat jelas dari pojok sekolah dimana aku berdiri itu.
Sekolah Panjang menghadap kesebelah Utara pinggir jalan kabupaten. Di sebrang jalan depan sekolah, terdapat pesawahan yang luas, yang kami sebut "Serang". Namun sebelumnya harus menyebrangi sebuah sungai yang airnya membuncah besar. Sungai itu, kami sebut Cibolodo.
Sekirar pukul 09.oo pagi, yang sayangnya hari dan tanggalnya tidak kuingat lagi, tiba-tiba terdengar deru pesawat terbang Belanda dari arah Selatan. Kemudian disusul rentetan senapan mesin yang dimuntahkan dari pesawat itu mengarah ke pos pamantauan udara di atas pohon beringin.
Sirine tanda bahaya pun dibunyikan meraung-raung. Guru-guru dan murid yang tengah mengadakan kegiatan mengajar-belajar terperanjat kaget dengan panik berhamburan keluar kelas. Berlari tidak tentu arah mencari tempat perlindungan. Murid yang agak dewasa mampu berlari menyebrangi jalan dan bersembunyi ditepian Sungai Cibolodo, tapi murid kelas satu dan dua yang masih kecil tidak sempat berlindung jauh. Mereka hanya sempat berlindung di belakang Mesjid Agung dengan seorang guru, sebut saja bernama Bapak Mintarja.
Aku sendiri tidak sempat berlari jauh, karena sebelumnya membereskan buku-buku bekas kegiatan mengajar terlebih dulu. Pesawat Terbang Belanda terlanjur datang kembali dari arah Utara dengan serentetan tembakan senapan mesin.
Aku hanya bisa bersembunyi disebuah bak kosong dibagian depan Mesjid, dipojok Timur bangunan sekolah. Diatas bak itu, berdiri sebuah bangunan tingkat terbuat dari kayu yang biasa dipakai tempat penyimpanan bedug.
Menurut perhitunganku, jika ada tembakan dari arah atas, aku masih terlindung oleh bedug dan bangunannya. Aku tidak memperhitungkan pesawat Belanda itu kemudian akan menjatuhkan Bom. Jika bom itu jatuh disana dan meledak, tentu badanku hancur beserta seluruh bangunannya.
Dari tempat persembunyian, aku melihat jelas bagaimana pesawat terbang Belanda berputar-putar mengelilingi kota. Kemudian datang dengan posisi miring memuntahkan peluru menghujani Markas Batalion. Hujan peluru pun berjatuhan di halaman sekolah dan dibelakang Mesjid termasuk disekitar tempat persembunyianku. Aku menyaksikan genting-genting Masjid dan Sekolah hancur berterbangan. Malah aku melihat jelas kearah istal Markas Batalion. Aku menyaksikan sendiri, bagaimana kuda kesayangan Perwira meringkik kesakitan terkena tembakan ahirnya sekarat dan mati.
Setelah beberapa kali putaran sambil menghujani tembakan, pesawat terbang itu kemudian menjatuhkan Bom tepat dibelakang Mesjid dimana Bapak Mintarja beserta murid kelas satu bersembunyi. Aku memejamkan mata dan menutup telinga rapat-rapat. Terbayang di benak ku, Bom yang jatuh di belakang Mesjid itu meledak dan seluruh murid beserta guru hancur, termasuk aku sendiri yang bersembunyi tidak jauh dari jatuhnya Bom.
Namun setelah beberapa saat aku menutup telinga, belum terdengar suara dentuman keras. Sepertinya Allah tidak mengizinkan terjadi malapetaka mengerikan didepan mata ku. Bom yang jatuh dibelakang Mesjid Agung, tepatnya di paimbaran itu tidak meledak.
Akibat serangan Belanda itu, banyak murid-murid yang bersembunyi di belakang mesjid menjadi korban peluru nyasar. Seorang murid kelas satu meninggal dunia tertembus peluru hingga isi perutnya keluar. Bapak Mintarja pun terluka dibagian tangannya.
Setelah terdengar suara sirine tanda aman, semua keluar dari tempat persembunyian. Mereka begitu panik dan ketakutan, malah banyak murid-murid yang keluar dari persembunyian sambil menjerit-jerit, karena melihat teman didekatnya sudah bersimbah darah.
Aku sendiri tidak dapat segera keluar dari persembunyian. Kakiku amat berat untuk dilangkahkan. Aku gemetar seperti orang mengigil kedinginan. Aku stres karena menyaksikan langsung bagaimana serangan udara dilancarkan dan korban berjatuhan. Sampai tua, aku menderita traumatik jika mendengar suara ledakan. Jantungku bedebar dan mulutku menjadi kaku.
Ibu dan keluargaku dipengungsian sangat mencemaskan aku. Mereka menangis, karena mendengar bom jatuh di halaman sekolahku. Bayangan mereka, aku telah menjadi korban serangan Udara. Tapi setelah aku datang di rumah pengungisian, mereka pun malah lebih mengeraskan tangisannya. Tangisan terahir itu, mungkin karena kebahagiaan aku lolos dari maut.
8. Serang Udara itu Awal Perpisahan Kami
Dengan adanya serangan Udara Belanda itu, kami sekeluarga pindah pengungsian lagi kedaerah pinggiran hutan gunung Sawal, sebab menurut informasi militer, Belanda akan segera menduduki Panumbangan.
Warung dadakan yang biasa kami bikinkan "kopi beronrak" untuk para pejuang di tutup. Selain situasi tambah genting, jumlah tentara pejuang pun makin sedikit. Markas Batalion sudah dipindahkan ke daerah lain, yaitu ke daerah Lemah Putih Majalengka.
Sebelum meninggalkan Panumbangan para Komandan Kompi termasuk Perwira menemuiku dan keluargaku dipengungsian. Mereka pamitan seraya mengucapkan terima kasih oleh bantuan dan dukunganku sekeluarga kepada perjuangan.
Mereka sopan-sopan dan menghargai keluarga ku. Bukan karena mereka mengetahui aku pacarnya salah seorang komandan kompi, tapi juga karena aktifitasku selama ada Batalion tentara dinilai membantu perjuangan, terutama kegiatan PMI untuk merawat pejuang yang teluka.
Kompi TRIP mundur ke kaki Gunung Sawal di daerah Pasireurih Pamijahan dan sebagian lagi berada di kampung Singkup desa Medanglayang.
Sebenarnya, saat Belanda akan menyerang, pihak tentara pejuang sudah mengetahuinya, sehingga personil yang berada si Markas sudah ditarik mundur. Alat komunikasi radiogram sudah dipindahkan ke Kebonkopi. Tempat itu sekarang menjadi rumah putriku.
Sebelum serangan udara dilakukan Belanda, ada juga bangsa sendiri yang menjadi penghianat. Mereka menjadi mata-mata Belanda. Perwira pernah mengatakan orang-orang yang dicurigai, tapi tidak sepatutnya aku katakan lagi. Mereka memprovokasi keadaan di Panumbangan akan tetap tetap aman, katanya telah dicapai kesepakatan dalam perundingan Pemerintah Belanda dengan Republik. Maksud provokasi mereka untuk menjebak tentara agar tidak mundur dan nantinya mudah dihancurkan.
Tapi tentara pejuang pun lebih waspada, selain mempunyai jalinan komunikasi dengan para politisi Republik dan pembesar militer, juga mempunyai intelejen yang disusupkan di pihak Belanda.
Namun bagi rakyat umumnya banyak yang terprovokasi, sehingga ketika terjadi serangan, rakyat tengah mengadakan kegiatan rutin sehari-hari. Termasuk aku tidak menyangka akan terjadi penyerangan udara tapi bukan karena aku terkena provikasi. Hari itu, aku turun dari pengungsian karena panggilan nuraniku sebagai guru. Murid-murid telah berkumpul di sekolah menunggu Guru mengajar, sangat mustahil aku meninggalkan mereka.
Setelah serangan udara itu aku tidak bertemu lagi dengan Sang Perwiraku. Ternyata rentetan peluru dari Senjata Otomatis dan Bom Belanda itu awal perpisahan kami. Setelah malam harinya aku kalungkan bunga dan nyanyian perpisahan, ternyata siang harinya Belanda menyerang.
Namun sebelum pasukan mundur ke Gunung Sawal, tentara pejuang terlebih dulu menghancurkan jalan dan jembatan. Maksudnya untuk menghambat pergerakan Belanda, agar tidak segera sampai ke Panumbangan.
9. Perwiraku Sakit Keras
Setelah peristiwa pengeboman dan para tentara pejuang ditarik mundur ke pegunungan, aku tidak bertemu lagi Perwira, sampai suatu hari aku mendengar berita bahwa dia bersembunyi disuatu lokasi, yaitu di pasir Singkup Medanglayang. Malah si pembawa berita menyampaikan pesan, bahwa Perwira dalam keadaan sakit parah.
Jarak tempat pengungsianku dengan tempat persebunyian kompi Trip sekitar dua sampai tiga kilometer dengan perjalanan melalui hutan dan melintasi bukit.
Begitu cemas hatiku setelah mendengar berita tentang keadaannya. Kecemasan berbaur rindu telah mengalahkan rasa takut dari ancaman keselamatan oleh keadaan yang sedang genting saat itu. Aku memberanikan pergi menemuinya di persembunyian, sekalipun sewaktu-waktu aku harus menanggung resiko di hadang pasukan Belanda. Perjalanan yang melelahkan, harus menerobos hutan dan mendaki bukit tidak lagi menjadi rintangan bagiku. Akhirnya aku sampai di tempat persembunyian Perwira.
Dia tengah tergolek diatas balai-balai gubug bambu yang lapuk, dialasi sehelai tikar kusam. Ia berbaring dengan ganjal sebuah bantal. Dari sarung bantal yang dipakainya, aku melihat bordiran buatan tanganku sendiri.Ternyata, kemanapun dia pergi selalu membawa sarung bantal dari ku.
Sedih hatiku melihat keadaan Sang Perwiraku. Aku menangis hingga terisak-isak, menyusupkan kepalaku ke dadanya. Aku ingin terus mendekap dan memeluknya. Aku ingin lama di dekatnya. Aku ingin terus mendampingi dan merawatnya. Namun keadaan perang memaksakku untuk jauh darinya.
Dia pun kemudian menyuruhku segera pulang, dengan nada perintah: "Tinggalkan Tentara demi nyawamu". Namun aku malah mempererat pelukan hingga dia membentaku:" Zoo leven de tentara!!". Aku hanya bisa menjawab dengan anggukan seraya mengusap air matakaku yang membasahi pipi.
Disela-sela keharuan, aku memahami segenap keadaan dan tanggung jawab dia dalam perjuangan. Dengan hati berat, aku pelan-pelan meninggalkan dia dengan berjalan mundur tanpa melepas pandangan kearah gubug tempat dia berbaring.
Langkahku terhenti, tertegun sejenak seraya menggit bibir menahan tangis. Tak kausa aku untuk membalikan badan dan pergi meninggalkan dia. Pirasatku mengatakan, hari itu terakhir aku melihat wajahnya dan dekat dengannya.
Tiba-tiba tanganku ditarik oleh seorang anggota Trip agar aku segera meninggalkan persembunyian. Kemudian aku pulang dikawal oleh dua orang anggota sampai ke batas Kampung Nyangkokot. Mereka mengatakan, tidak bisa masuk ke permukiman dengan senjata lengkap. Bisa saja ada penduduk sebagai mata-mata Belanda. Selebihnya aku disuruh berjalan sendiri dengan hati-hati.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar