V. DALAM PENANTIAN PERWIRA
1. Panumbangan Bagai Kota Mati
Setelah terjadinya pengeboman oleh Belanda, tentara pejuang tidak lagi berkedudukan di Panumbangan. Mereka ditarik mundur ke berbagai daerah pegunungan atau perbukitan membentuk kantong-kantong pertahanan.
Saat itu Tentara Pejuang melakukan taktik "Gerilya" atau yang dikenal dalam teori militer dengan istilah "Hit and Run". Mereka menyerang, kemudian menghilang. Mereka mengadakan serangan dadakan kepada tangsi-tangsi Belanda disertai penghancuran fasilitas militer. Atau kerap mengadakan penghadangan diperjalanan ketika pasukan Belanda lewat.
Taktik gerilya memang efektif jika suatu peperangan terjadi dengan sistim persenjataan tidak seimbang. Para pejuang memang tidak dilengkapi persenjataan yang memadai jika harus langsung kontak senjata dengan militer Belanda yang mempunyai persenjataan lengkap. Namun para pejuang mempunyai kelebihan yang tidak dipunyai Belanda. Pejuang mempunyai fasilitas sosial. Mereka mempunyai rakyat yang mendukung perjuangannya. Mereka bisa berbaur dengan rakyat. Mereka bisa disembunyikan dan di lindungi rakyat.
Namun taktik gerilya pun mempunyai celah kelemahan. Rakyat sendiri bisa saja menjadi penghianat dan sebagai bumerang.
Walaupun nampaknya tentara sudah ditarik mundur ke kantong pertahanan di pegunungan, tapi aku tahu ada beberapa orang anak buah Perwira yang masih berkeluyuran di pemukiman, menyamar menjadi rakyat biasa. Mereka mungkin sedang melakukan penyamaran untuk mengamati keadaan. Atau mungkin juga mencari perbekalan untuk logistik di tempat persembunyian.
Pada saat itu Balanda belum sampai di Panumbangan. Katanya mereka baru menguasai Kota Tasikmalaya. Untuk melintasi Panumbangan mereka harus melintasi Sungai Citanduy, sedangkan semua jembatan pengubung telah dihancurkan oleh tentara pejuang. Malah jalan yang biasa dipakai jalur kendaraan pun, dicangkul dan ditanami pohon pisang oleh penduduk.
Saat itu Panumbangan bagai kota mati. Sebagian besar penduduk pergi ke pengungsian. Rumah-rumah mereka dibiarkan kosong dan kekayaan pun ditinggalkan. Dalam situasi seperti itu, penjarahan kerap terjadi. Sasaran utamanya rumah-rumah orang berada. Rumah Ibu Haji pun sering disatroni penjarah. Meja marmer dan lampu hias serta bokor-bokor dari perak raib diambil orang.
Memang, dalam situasi yang sulit seperti itu, karakter asli manusia menjadi nampak kepermukaan. Ada orang yang berjuang dan mendukung perjuangan, namun ada juga yang mengeruk keuntungan dari sebuah kekacauan. Malah ada bangsa kita sendiri yang menghianati perjuangan.
Pada saat itu tersebar isu provokasi, katanya Panglima Divisi Siliwangi telah berunding dengan pihak Balanda dan keamanan rakyat akan terjamin. Rakyat di himbau turun dari pengungsian untuk mengadakan kegiatan sehari-hari di tempat tinggalnya.
Dengan adanya penyebaran isu tersebut, rakyat banyak yang berani turun gunung dan mengadakan kegiatan ekonomi. Mereka membuka Pasar baru, mulai dari Dusun Landeuh sampai ke Pasar Kolot (dekat Kantor Pos sekarang). Pasar yang lama didekat alun-alun belum berani digunakan. Rakyat khawatir jika sewaktu-waktu datang patroli Belanda, mereka sulit berlari mencari tempat persembunyian. Lain lagi jika mengadakan kegiatan jual-beli di Pasar Kolot, jika tiba-tiba datang patroli Balanda, mereka masih sempat lari ke Munjul dan Bojongrenged (sekarang dusun Sindangharja).
Meskipun mendengar isu adanya perundingan dan gencatan senjata antara pihak Tentara Pejuang dan Belanda, keluargaku masih belum berani turun dari pengungsian. Kami mempertimbangkan sikap Belanda seringkali mengingkari perjanjian. Selain itu, masih cemas adanya provokasi, seperti sebelum terjadi pengeboman pertama tempo lalu. Kami hanya berani turun dari pengungsian sekedar untuk menengok rumah atau menangkap ikan dari Balong Gede. Malah kang Purwa pernah memancing ikan dari kolam di Cibuniseuri bersama tiga orang anggota Trip, anak buah Perwira yang berasal dari MULO. Aku mengenal mereka bertiga, yaitu Widodo, Sarwo Edi dan seorang lagi biasa aku memanggilnya Chan, karena berasal dari Chaniago. Untuk Sarwo Edi, aku masih ragu, apakah dia yang kemudian menjadi Danjen Kopasus dan menjadi mertua Bapak Susilo Bambang Yudoyono atau orangnya berbeda.?
2. Bom Kedua Meledak di Teras Rumahku.
Pada hari Sabtu, tanggal nya aku tidak ingat lagi, aku dan teman-teman gadis pengungsi merencanakan mengadakan makan-makan (botram) di teras rumahku di Panumbangan. Rencananya akan dilaksanakan besok hari Minggu pagi-pagi, sekalian membuat rujak (rurujakan) dan sekaligus menengok rumah yang selama itu ditinggalkan.
Dari tempat pengungsian, Ibuku membekali makanan untuk botram. Nasi timbel dan Goreng ayam sudah dimasukan ke kantong kaneron. Kemudian untuk membuat rujak, kami hanya membawa bumbunya, sebab di depan rumah di Panumbangan tumbuh Jambu Aer dan Pepaya sedang berbuah lebat.
Dari tempat pengungsian aku pergi sendirian, karena sudah janjian dengan teman-temanku, kami akan langsung bertemu di bekas warung kopi berontak, di pinggir rumahku.
Jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi. Tiba-tiba perasaanku merasa tidak enak dan badanku mendadak lesu. Rasa malas mulai menggelayuti pikiranku. Seandainya kemarin aku tidak berjanji kepada temanku, mungkin sekarang aku tidak akan memaksakan langkah. Dengan bermalas-malasan aku terpaksa mengayunkan kaki, setapak demi setapak. Malah aku sering berhenti untuk duduk sejenak di bawah pohon. Sepertinya aku mendapat pirasat kurang baik akan terjadi.
Ternyata benar, baru saja aku menginjakan kaki di jalan Babakan, seratus meter di belakang rumahku, tiba-tiba terdengar suara gaduh menderu dari tiga buah pesawat terbang Belanda. Terbang rendah melintasi kota Panumbangan. Mereka berputar-putar sambil menghamburkan peluru. Tiba-tiba terdengar dentuman amat keras suara bom meledak. Suaranya terdengar dahsyat dan getarannya terasa keras menggocang. Awalnya aku menyangka ada bom meledak didekatku, karena tanah yang aku pijak bergetar seperti ada gempa.
Aku bersembunyi di sebuah gubug tempat penyimpanan kayu. Setelah pesawat itu menghilang, aku memberanikan diri keluar dari persembunyian. Aku langsung kembali ke tempat pengungsian, karena aku menduga, tidak berapa lama lagi Belanda tiba di Panumbangan.
Di perjalanan, aku mendapat berita bahwa Bom yang meledak itu tepat di Teras Rumah Ibu Haji yang semula aku merencanakan botram disana. Aku terperanjat kaget hingga mulutku menganga beberapa saat. Bukan saja karena aku teringat pirasat saat badan terasa lesu dan malas melangkah hingga tidak segera sampai disana, tapi yang aku khawatirkan justru teman-temanku telah lebih dulu datang dan mereka menjadi korban.
Di tempat pengungsian, keluargaku tengah menangis setelah mendapat berita rumah kami di Panumbangan hancur tepat dibagaian teras depan. Mereka menduga aku dan teman-temanku yang merencanakan botram di teras itu, menjadi korban ledakan.
Katanya, tanah bagian depan rumah berlobang sedalam dua meter lebih dengan lebar lebih lima meter. Rumahku hancur oleh kedakan dahsyat itu.
Allah Subhanahuwata'ala Maha Pengatur. Dia telah mengatur langkahku untuk menyelamatkan aku. Seandainya pada saat berangkat pagi-pagi dari tempat pengungsian aku ditetapkan menyegerakan langkahku seperti kebiasaanku sebelumnya, tentu badanku dan badan teman-temanku sudah hancur berkeping-keping.
Terima kasih Ya Rabb, Engkau telah menyelamatkan jiwa kami dan terimalah syukur kami kapada Mu.
Di pengungsian kami sekeluarga berembug bahwa kemungkinan besar, hari besok pihak Belanda sudah sampai di Panumbangan.
Pengeboman tepat di rumah Mama Haji Idris bukanlah suatu hal kebetulan dan salah sasaran, tapi pihak Belanda sudah memperhitungkan sedemikian rupa untuk menghancurkannya. Mungkin saja ada pihak pribumi yang menjadi mata-mata Belanda melaporkan bahwa selama ini rumah Mama Haji dijadikan Markas pejuang tentara hisbullah. Selain itu, adikku Umbara yang aktif di barisan hisbullah, mengatakan bahwa ia mendapat informasi, Belanda sedang mencari seseorang di Panumbangan yang bernama Haji Idris.
Menyikapi keaadaan seperti itu, malam hari itu juga kami sekeluarga pindah mengungsi ke pedalaman hutan Gunung Sawal yaitu di Gunung Tujuh.
Perjalanan malam mendaki gunung, menyusuri jalan setapak yang licin sambil membawa orang tua, makin terasa menyulitkan. Mereka sudah terlalu tua melakukan perjalanan di malam gelap, lebih-lebih harus menapaki jalan sempit ditepian jurang yang curam.
Setelah semalaman kami melalukan perjalanan melelahkan, ahirnya sampai di Gunung Tujuh pada dini hari. Ternyata ditempat itu sudah banyak pengungsi lainnya. Mungkin mereka sudah lama mengungsi di sana, karena kami menemukan banyak gubug sudah berdiri dikelilingi kebun palawija.
Aku merasa sangat lelah dan tidak tahan kantuk. Kemudian aku merebahkan diri di dekat kandang kambing. Aku tidak menghiraukan lagi bau pesing menyengat dan kotoran kambing yang berserakan. Aku pun tertidur pulas.
Mama dan Ibu Haji serta ibuku menempati gubug yang sudah disiapkan oleh pengungsi pendahulu. Mungkin mereka mengetahui bahwa suatu waktu ketempat itu akan berdatangan pengungsi. Pada saat itu rasa toleransi sangat tinggi.
Pada saat Belanda sampai di Panumbangan, keadaan dikota sudah kosong tanpa penghuni. Rakyat sudah mengungsi di pegunungan yang dipandang aman. Tentara sudah menempati kantong-kantong pertahanan ditempat tertentu. Keluargaku sendiri sudah pindah lagi mengungsi ke daerah Ciwalen Banjarangsana. Maksudnya untuk menjauhi pos Belanda, karena benar saja Tentara Belanda tengah mencari seseorang bernama Haji Idris.
Mungkin para informan memberikan keterangan kepada Belanda bahwa orang yang sedang dicari itu adalah Mama Haji Idris orang tuaku, padahal Mama Haji sendiri tidak melakukan kesalahan apa-apa.
Sebelum aku mengungsi ke Ciwalen, terlebih dulu aku mengantarkan istrinya dr.Kartobi mengungsi ke kampung Panday Sukakerta. Beliau baru saja melahirkan seorang bayi. Bayi itu adalah adiknya Neng Deetje, yang kemudian diketahui bernama Atje.
Pada ahir tahun 1999 aku mendapat kabar dari besanku di Cirebon, bahwa Atje, sang bayi itu menjadi mertuanya Jendral Polisi Hendarto Bambang Danuri yang kemudian menjadi Kepala Kepolisian Republik Indonesia.
3. Ditinggal Hijrah ke Yogya
Tujuan keluargaku mengungsi ke Ciwalen adalah untuk menjauhi pos Belanda yang berada di Panumbangan. Kami merasa kaget bahwa keluarga kami menjadi buronan tentara Belanda.
Usut punya usut, ternyata beberapa waktu yang lalu ada pesawat Belanda jatuh di tengah sawah di Desa Sukasetia Pamokolan. Pilotnya diburu oleh masyarakat dan di bunuh oleh orang setempat bernama Haji Idris.
Yang biadabnya adalah orang pribumi penghianat dari Panumbangan, menunjukan Haji Idris itu kepada Mama Haji Idris orang tuaku. Barang kali orang tersebut dipenuhi rasa iri sehingga tega melakukan fitnah. Selain itu, mereka melaporkan bahwa rumah mama haji dijadikan markas trip dan anaknya (maksudnya adiku Umbara) aktif di barisan hisbullah dan bergabung dengan pejuang. Oleh karena itu Belanda mengejar Mama Haji dan saudara-saudaraku. Untung saja adiku Umbara segera pergi dan bersembunyi di kota besar. Sampai ahir hayatnya Ia tinggal di Jakarta.
Tempat pengungsian keluargaku di Ciwalen adalah rumah Ibu Martha, kakaknya Ibuku yang biasa ku panggil Ibu Ita. Beliau mempunyai seorang cucu, usianya tiga tahun lebih muda dariku, tapi dalam pergaulan sehari-hari serasa sebayaku. Ia bernama Kartika, yang biasa ku panggil neng Uka. Neng Uka menikah dengan seorang TRIP bawahan Perwira bernama Adang Kartaman (Dikemudian hari, Kolonel Adang Kartaman menjadi Bupati Sumedang, periode 1966-1970).
Setelah beberapa hari tinggal di rumah Ibu Ita, aku menerima surat dari Perwira yang dititipkan kepada Adang Kartaman. Tapi Adang tidak langsung menyerahkan surat itu kepadaku. Ia menitipkannya kepada Neng Uka, sehingga aku tidak sempat lagi bertanya lebih jauh tentang Perwira kepadanya. Entahlah, memang Adang sendiri terburu-buru akan mengadakan hijrah ke Yogya atau malah sengaja tidak ingin menemuiku untuk menghindar dari pertanyaanku tentang komandannya.
Dalam suratnya, Perwira menyampaikan bahwa tentara pejuang dari Jawa Barat diperintahkan Hijrah ke Yogya dan dia sendiri akan berangkat serta mengucapkan vaarwell. Selanjutnya dia menanyakan apakah aku akan ikut hijrah? Sebab banyak anggota PMI juga yang ikut hijrah. "Ga je mee?, ia bertanya padaku.
Tanpa terasa derai air mataku berjatuhan membasahi surat yang sedang ku baca. Banyak tulisan yang luntur karena tetesan air mata. Aku benar-benar terluka duka ditinggal dia pergi. Belum tentu kami dapat bertemu kembali. Atau mungkin kami tidak bisa bertemu lagi.
Seandainya kami sudah menikah, tentu aku akan ikut berjuang bersamanya. Walaupun sebenarnya pernikahan itu bisa dilangsungkan dalam keadaan darurat yang penting terpenuhi syariat. Namun setelah aku mempertimbangkan matang-matang, aku memutuskan untuk tidak ikut hijrah. Perjalanan jauh dengan menembus hutan dan gunung, bukanlah suatu hal yang mudah bagi seorang wanita. Ahirnya aku hanya bisa mendoakan dia agar selamat dalam perjuangan dan kami bisa bertemu kembali nanti.
Dalam hati aku berjanji akan setia menunggu dia sampai perjuangan usai. Jika kedaulatan negara republik ini telah digenggam. Aku mengharapkan dia datang lagi untuk ku dan bersama-sama menikmati hasil jerih payah perjuangan. Kami akan menikah sesuai janji bersama yang pernah kami ikrarkan.
4. Pemancing di Air Keruh
Manakala hatiku tengah terluka ditinggal Sang Perwiraku Hijrah ke Yogya. Ketika akalku tengah berjuang mengendalikan kegelisahan diri ditinggal pergi. Mengendalikan kegundahan terpisah karena hijrah. Mengendalikan gejolak asmara yang berkecamuk dalam kalbu setiap waktu. Mengendalikan hasrat ingin selalu bersama dengan pujaan hati, walaupun ahirnya aku membiarkan diri sendiri ditinggal pergi. Membiarkan diriku terhanyut dalam rindu dan membiarkan diriku Setia menanti hingga dia kembali.
Tiba-tiba datang seseorang yang lebih senang memancing di air keruh. Orang yang lebih suka mencuri kesempatan dari kesempitan dan kesusahan orang lain. Orang yang tidak memahami perasaan orang lain dan selalu memaksakan kehendaknya. Orang yang memaknai cinta hanya sebatas menguasai dan memiliki. Lagi-lagi Ariefin datang ke tempat pengungsian dan memaksa akan menikahiku, dengan menghasut kegelisahanku bahwa tentara yang hijrah tidak mungkin kembali dan percuma untuk di tunggu.
Tentu saja kedatangan Dia dengan harapan nya sendiri, membuat hatiku jengkel. Malah kejengkelanku sudah sampai pada puncak yang tidak bisa ditolelir lagi. Mungkin menurut perhitungannya, setelah aku kecewa ditinggal berjuang oleh seorang pria yang dipuja, akan begitu mudah berpindah ke lain hati.
Sebagai seorang wanita aku merasa direndahkan oleh jalan pikiran dia. Begitu picik dan dangkal dia menilai diriku. Padahal dalam pemikiranku, karakter dia sendiri yang lebih sampah. Kemampuannya dalam memperjuangkan hasrat sendiri hanya mengandalkan ketebalan muka dan kejumawaan bisa menundukan hati orang tuaku.
Mungkin karena keadaan seperti itu, sehingga dia berani mendesakku mengajak nikah, saat orang yang menjadi saingan berat dirinya sudah lepas dari sampingku. Kali ini aku harus bertindak tegas kepadanya tanpa harus memperhatikan perasaannya.
Anehnya ia tetap ngotot memaksakan kehendak, walaupun berkali-kali aku menjelaskan bahwa aku akan menunggu Sang Perwiraku yang sedang Hijrah dan tidak ada seorangpun dapat menggantikan kedudukannya.
Kejengkelanku tidak tertahan lagi, manakala dia terus-terusan mendesakku. Kata-kata kasar pun terucap untuknya: "Sudahlah!! aku muak melihat anda dan aku tidak sudi menikahi orang seperti anda, sekalipun Perwiraku tidak kembali. Scheer je Weg!!!", teriaku mengusir dia.
Tentu menyakitkan tindakan ku seperti itu, tapi rasanya tidak ada jalan lain mengatasi orang Stijkop seperti dia.
5. Ditaksir Opsir Belanda
Lolos dari terkaman harimau, kemudian diancam menganga mulut buaya ganas. Itulah kira-kira ungkapan yang mendekati gambaran kisah asmaraku selama penantian Sang Perwira. Setelah kesetiaan dalam penantian Sang Perwira lolos dari sergapan licik Ariefin, ternyata aku harus berhadapan dengan invasi seorang opsir Balanda bernama Velmaat.
Awal ceritanya, dimulai ketika aku masih berada di tempat pengungsian di Ciwalen. Saat itu daerah Jawa Barat dibawah kekuasaan langsung Pemerintahan Belanda. Pejabat dan pegawai publik yang berada di pengungsian diseru untuk menjalankan tugas kembali ditempat asalnya, termasuk para guru harus menjalankan tugas mengajar lagi.
Untuk hal tersebut, aku mendaftar ulang ke Kabupaten dan tidak mendapat kesulitan, karena izasahku dan besluit pengangkatan pertama masih tersimpan baik, sekalipun pada saat genting seperti itu umumnya dokumen banyak yang hilang, karena sering berpindah-pindah tempat pengungsian.
Kepala Pendidikan Kabupaten Ciamis masih dipegang oleh bangsa Indonesia. Aku pun tetap ditempatkan di sekolah dimana waktu belakangan aku mengajar. Gadis-gadis pengungsi yang sebelumnya membantu mengajar, sudah kembali ke kota asalnya masing-masing, sehingga di sekolahku kekurangan tenaga pengajar.
Untuk memenuhi kekurangan tenaga guru, ahirnya orang yang mempunyai izasah Vervolig atau Mulo pun diangkat guru. Banyak murid-muridku yang kemudian bersama-sama menjadi tenaga pengajar. Tentu saja dalam perkembangan selanjutnya, mereka meningkatkan mutu propesi dengan melanjutkan pendidikan kejenjang lebih tinggi.
Waktu itu di Panumbangan sudah ada satu peleton tentara Belanda. Mereka mendirikan markas di tepi Jembatan Cipanjeleran. Komandan peleton tentara pendudukan Belanda adalah Meester Velmaat.
Waktu kembali dari pengungsian, Mama dan Ibu Haji tidak menempati rumah yang lama, karena rusak berat akibat ledakan bom. Untuk sementara beliau tinggal di rumah Ka Ami yang berada disebelah Barat rumah beliau.
Entah mendapat informasi dari siapa, Meester Velmaat mengetahui bahwa aku keluaran Pendidikan Guru Belanda. Ia menjadi sering datang ke rumah ingin menemuiku. Aku selalu menghindar, dan jika tiba-tiba datang Si Velmaat aku sering loncat melalui dapur kemudian bersembunyi di rumah saudaraku di Kebon Kopi Landeuh.
Jika Si Velmaat datang ke rumah, ia dihadapi oleh Kak Adi, karena diantara keluarga kami yang fasih berbahasa Belanda adakah beliau. Mereka jadi suka diskusi berlama-lama karena Kang Adi sendiri dari Europische School. Kemudian Si Velmaat jadi sering menanyakan tentang aku. Sepertinya ia menduga-duga atau mendapat informasi mentah bahwa aku aktif dalam perjuangan dan ia pun ingin memastikannya. Tapi Kak Adi berkilah bahwa aku seorang pegawai negeri di Bandung dan tidak lama lagi akan pulang melaksanakan pekerjaan. Hal itu ditempuh oleh Kak Adi agar jika besok lusa kedatangan lagi Si Velmaat dan menanyakan aku, maka akan dijawab sudah berangkat ke Bandung, walaupun sebenarnya aku bersembunyi di rumah Uwaku di Kebon Kopi Landeuh.
Sepertinya Velmaat tengah menyelidik sesuatu tentangku, tapi anehnya tidak bertindak formal langsung menangkap aku atau saudaraku untuk selanjutnya di intrograsi. Mungkin ada keraguan kepada informasi awal yang ia terima. Sebab bisa saja ada orang yang mempunyai hati busuk memberikan laporan tentang sepak terjang aku dan keluarga ku selama ada tentara pejuang.
Penomena seperti itu sebenarnya kerap terjadi. Seseorang dilaporkan ada kaitan dengan tentara pejuang, kemudian ditangkap dan selanjutnya disiksa. Digantung diatas pohon jeruk bali pinggir Sungai Cipanjeleran. Atau nyawanya dihabisi dan jasadnya dibuang entah dimana.
Ada juga orang tak berdosa, harus mati karena sentimen pribadi orang lain. Saat itu aku tahu, orang-orang yang tadinya dekat dengan Perwira ditangkapi dan tidak diketahui jasadnya lagi. Namun, beruntung sahabat Perwira dari Medanglayang yaitu Bapak Kepala Desa Medanglayang pernah ditangkap Belanda tapi kemudian beliau dilepaskan.
Aku dan keluargaku menjadi cemas dan takut, apalagi setelah salah seorang keluargaku yang aktif dalam perjuangan barisan hisbullah dengan adikku Umbara tiba-tiba hilang.
Karena khawatir masalah akan merembet kepada adikku, maka segera ia disuruh pergi ke Jakarta bersembunyi dalam keramaian kota.
Kejadian-kejadian tersebut, bagi keluargaku bagai hantu yang menakutkan. Tiap hari dicekam kecemasan. Kalau melihat tentara Belanda lewatpun rasanya mau menangkap. Bagaimana tidak, jika Belanda sudah bisa membuka keterlibatan aku dan keluargaku pada perjuangan maka tumpas lah seluruh keluargaku.
Setiap hari aku seperti main petak umpet menghindari Velmaat. Pagi-pagi aku pergi mengajar harus sembunyi-sembunyi diantara celah-celah rumah tetangga. Di dalam kelas hatiku tidak tentram. Aku selalu cemas membayangkan, tiba-tiba datang kedalam kelas tentara Belanda, menangkapku, menggiringku ke Markas, mengintrogasi dan menyiksaku. Menekankanku untuk membuka mulut siapa-siapa pejuang yang aku kenal dan dimana persembunyiannya. Aku jadi merinding oleh bayanganku sendiri.
Kalau malam hari, aku menginap di rumah Uwak di Kebon Kopi Landeuh. Seperti keadaan siang hari, malam pun aku tetap gelisah dan cemas. Apabila terdengar suara derap sepatu janggle di luar rumah, jatungku berdebar keras. Terbayang ketika derap sepatu berhenti, kemudian disusul suara keras menggedor pintu dan beberapa orang berseragam loreng menyeretku keluar. Astagfirullah aku paranoid akut. Aku juga jadi kasihan kepada Uwak yang punya rumah ikut-ikutan terbawa panik.
Sejak Belanda bercokol di Panumbangan, kehidupanku dan keluargaku selalu dihantui ketakutan. Kalau keluar rumah, aku bagai buronan menghindari pengejaran. Tengok kanan kiri sebelum melangkah. Jika berjalan selalu bergegas sambil menghindari berpampasan dengan orang.
Kami bingung kepada siapa harus berlindung. Kadang terlintas penyesalan keputusan ku tidak ikut hijrah dengan pejuang. Seandainya aku ikut hijrah dengan mereka, biarpun sengsara di perjalanan namun setidaknya ada yang melindungi keselamatanku dan menjadi tegas siapa kawan dan siapa lawan. Dari pada saat ini, aku juga jadi khawatir kepada bangsa ku sendiri, bisa saja menikam dari belakang.
6. Tertangkap Tangan Sang Polisi.
Liku-liku perjalanan kisah asmaraku selama penantian Sang Perwira, setelah hidup bagai buronan dari kejaran Opsir Velmaat, akhirnya tertangkap tangan oleh seorang Polisi berwajah tampan bak Sean Connery.
Demi menyelamatkan keluarga, ahirnya aku menerima kenyataan untuk mengubur kenangan manis dan mengahiri penantian Perwira serta kemudian harus bersedia dipersunting sebagai isteri seorang polisi.
Awalnya, pada saat itu untuk penegakan ketertiban hukum di daerah yang dikuasai Belanda berada ditangan dan dijalankan oleh aparat polisi bangsa Indonesia. Walaupun polisi bekerja dalam lingkungan pemerintahan Belanda, tapi sesuai fungsinya yang dilindungi oleh polisi adalah rakyat Indonesia sendiri. Jadi bukan berarti bahwa orang Indonesia yang menjadi polisi adalah antek-antek Belanda. Mereka tetap bertugas untuk kepentingan rakyat dan bangsa sendiri, walaupun bekerja dalam lingkungan kekuasaan Pemerintahan Balanda.
Seperti juga profesiku sebagai guru, walaupun bekerja dilingkungan pemerintahan Belanda tetapi tugas guru tetap untuk kepentingan pendidikan bangsa Indonesia sendiri.
Di Panumbangan saat itu ditugaskan beberapa orang Polisi yang baru lulus pendidikan latihan dari Tegalega Bandung, namun ada seorang polisi lulusan Sekolah Polisi Sukabumi.
Beberapa orang anggota polisi kost makan di rumah kakakku. Aku dan adikku Saffa selalu menyiapkan makanan untuk mereka. Dalam hal ini ternyata adikku lebih dulu menikah dengan seorang polisi berasal dari Garut.
Diantara polisi-polisi muda itu, ada seorang polisi berparas tampan dan berprilaku santun sehingga menarik perhatian Ibu Haji dan keluargaku. Harus aku akui, sang polisi idola keluargaku itu memang mempunyai wajah ganteng. Hidung mancung, mata tajam, alis tebal dan rona muka bagai orang-orang timur tengah.
Tapi hatiku tetap terpaku pada penantian Sang Perwiraku. Ketampanan seperti apapun, buat hatiku tidak akan berarti tanpa Perwira ada bersamaku. Kebulatan cinta ku tetap utuh untuk menunggu Sang Perwira kembali. Setampan apapun polisi itu, tetap tidak bisa menggeser Perwira dari hatiku.
Keluarga Sang Polisi itu berasal dari Panjalu. Dari isteri saudara kakeknya masih ada hubungan dengan keluarga kami. Sepupu ayahku menikah dengan kakak dari kakeknya Sang Polisi itu. Konon juga diketahui bahwa polisi itu masih "teureuh" kerajaan Panjalu tapi dari garis keturunan Ibu.
Selain itu pula sang polisi nampak taat terhadap agama. Hal-hal itulah yang menjadi pertimbangan keluargaku sehingga bersikeras menjodohkanku.
Namun sebenarnya ada alasan yang lebih utama, jika aku kawin dengan polisi itu, maka keselamatan keluarga dari ancaman Belanda bisa terhindari. Setidak-tidaknya ada pihak yang melindungi kami.
Ibu Haji mendesakku untuk kawin dengan polisi itu. Aku menangis dan menolaknya. Aku tetap akan menunggu Perwira kembali dan aku yakin dia pasti kembali untuk ku. Namun Ibu Haji tidak mau tahu tentang keadaan hatiku. Beliau terus mendesakku dan akupun tetap menolaknya.
Dalam fikiran ku ada niat untuk kabur lagi seperti dulu. Tapi kali ini mendapat jalan buntu. Kak Ami yang baru bekerja lagi di Bandung masih numpang di rumah orang. Tidak mungkin lagi aku tinggal bersamanya. Untuk kabur ketempat lain, tidak tahu kepada siapa aku harus mendatangi. Disamping itu kondisi keamanan saat itu sangat berbahaya untuk berpergian apalagi aku seorang wanita. Pos penjagaan Belanda dibangun hampir disetiap persimpangan jalan. Mereka mengadakan pemeriksaan kepada setiap penduduk yang lewat.
Jika ingin menghindari pemeriksaan, satu-satunya jalan harus melewati pegunungan. Namun inipun masih terancam keselamatan oleh gerombolan DI/TII.
Gelap dan buntulah pikiranku untuk melaksanakan rencanaku kabur dari rumah.
Sementara itu Ibu Haji memberi ancaman, jika adalam waktu dua hari aku tidak memberikan jawaban, maka aku harus pergi dari Panumbangan.
Menurut pemahaman Ibu Haji, selama aku ada di Panumbangan, sulit mengelak tidak ada kaitan dengan pejuang dan keselamatan keluargaku akan selalu terancam.
Selama dua hari dua malam aku menangis sedih memikirkan betapa beratnya tantangan mempertahankan kesetiaan menanti Perwira. Kali ini diuji untuk mengahiri penantian demi keselamatan keluarga.
Aku tidak tahu lagi mana jalan terbaik yang harus aku tempuh. Aku bingung dan aku tidak kuat lagi berfikir. Akhirnya aku bersimpuh dalam pangkuan Ibu kandungku. Aku menangis tersedu-sedu mengharapkan ketulusan do’a dari seseorang wanita yang melahirkanku.
Ibuku menasihati agar aku mematuhi keinginan Ibu Haji. “Beliaulah yang mengurusmu sejak kecil ditinggal Ayah sampai akhirnya dewasa dan mendapat bekerja”, ujar ibu menasihatku sambil juga menangis terharu. Tetesan air matanya terasa hangat menitik dirambutku, tapi menyerap kedalam fikiranku terasa sangat sejuk.
Pada malam terahir, aku berfikir bolak-balik dalam kegelisahan. Badanku saat bebaring ikut gelisah dibuatnya. Kadang mengarah kekiri seraya fikiranku melayang mencari jalan keluar namun tiba-tiba mendapat jalan buntu, dengan tiba-tiba juga badanku berbalik kearah kanan dan begitu seterusnya, Aku terus berfikir untuk menentukan satu dari dua pilihan: Apakah aku harus mengorbankan asmara bagi Sang Perwira demi keselamatan keluarga ataukah aku harus pergi demi menunggu Sang Perwiraku kembali.
Akhirnya aku berfikir untuk mengorbankan Cinta dan mengahiri penantian kepada Sang Perwiraku. Aku memahamkan jika kawin dengan tentara, maka suami berjuang ditinggal pergi dan banyak terjadi suami tidak kembali lagi. Tapi jika kawin dengan polisi, maka suami dipindah-tugaskan kemana pun isteri masih bisa dibawa.
Tuhan telah menggariskan jodoh buat aku. Betapapun berlikunya Kelana menorehkan kisah asmara. Yang Maha Pemasti telah menyiapkan sebuah Bahtera untuk ditumpangi dalam pelayaran di Samudera rumah tangga yang luas tak bertepi. Aku ahirnya pasrah menjatuhkan pilihan pada seorang polisi calon suamiku.
Sehari kemudian aku dinikahkan dengan seorang polisi tampan pilihan orang tua bernama Achmad Fatoni.
Pernikahan dilakukan hanya dihadiri keluarga dekat dan tidak mengundang orang lain. Hal ini untuk menghindari musuh dalam selimut dari bangsa sendiri yang biasa menikam dari belakang.
Walaupun awalnya aku tidak mencintai sepenuh hati. Lambat laun aku menerima sang polisi itu sebagai suamiku yang aku harus berbakti kepadanya. Perlahan tapi pasti, hatiku luluh oleh norma sakral ikatan perkawinan. Asmara kepada Sang Perwiraku harus dikorbankan dan dikubur dalam-dalam. Ternyata benar ungkapan: “Onbekend maakt onbemind” (Kecintaan seseorang akan timbul manakala kita mengenalnya).
Masa lalu yang indah benar-benar sebagai “Mijn Schat” harus berusaha dilupakan. Kini aku harus siap menempuh lembaran hidup dengan nuansa asmara yang berbeda dengan nuansa waktu lalu.















