Selasa, 23 November 2021

GADIS KELANA I

GADIS KELANA I

I. MASA KECIL KELANA

1. Kisah Dibalik Nama

KELANA, begitulah aku menamakan diriku. Nama samaranku yang pertama kali diangkat ketika aku masih duduk di Sekolah Guru Puteri Van Deventer Bandung tahun 1941. Awalnya, saat itu disekolahku ada kebiasaan membuat cerita pendek dan saling berkirim diantara teman. Dalam setiap karangan yang kubuat, aku selalu mencantumkan nama samaran penulis seperti itu. Akhirnya aku dikenal dengan nama Gadis Kelana.

Nama pemberian orang tua sejak lahir adalah Sofia. Aku tidak pernah tahu apa alasan orang tuaku memberi nama seperti itu. Yang aku sadari, aku menikmati nama pemberian orang tua tersebut. Hanya nama itu yang melekat setia menemani jasadku, menelusuri perjalanan hidup penuh liku. Mendampingi jasadku ketika masa kecil menyandang status anak yatim. Mendampingi jasadku ketika harus bersusah payah menggapai cita-cita. Mendampingi jasadku ketika berpeluh menunaikan bakti guru. Mendampingi jasadku dalam mempertahankan kemerdekaan, berjuang dibelakang senjata serta berkelit diantara desingan peluru dan dentuman bom. Mendampingi jasadku ketika mewarnai gelora juang dengan asmara Sang Perwira.

Atau... jika Jasadku telah berakhir menempuh perjalanan panjang dan tidak lagi dilengkapi sukma, Apakah namaku itu masih mau dikenang oleh anak cucuku kelak?. Walau ditulis di nisanku sebuah nama : "SOFIA KELANA"

Setelah aku masuk Sekolah Guru Puteri Van Deventer Bandung, nama lengkapku menjadi Sofia Sriwekasari. Nama akhir Sriwekasari adalah nama gelaran yang diambil sesuai angkatan siswa sekolah itu. Kebetulan aku merupakan angkatan terakhir, maka Sriwekasari merupakan “achternaam” yang melengkapi namaku. Begitu juga angkatan-angkatan sebelumnya, seperti achternaam Priatnasih, Kendarsih, Yatmikasari, Nursari dan Sriwenda akan melengkapi nama ahir para alumnus. Sehingga jika kemudian menemukan seseorang dengan nama yang diakhiri achternaam itu, akan mudah dikenali sebagai alumnus Sekolah Puteri Van Deventer, termasuk tahun angkatannya.

2. Leluhurku.

Menurut cerita Ibuku, aku dilahirkan di Panumbangan pada hari Sabtu, tanggal 23 Desember 1925. Ibuku bernama Siti Mutia dan aku adalah anak kedua, puteri pertama dari perkawinan keduanya dengan ayahku bernama  H. Idrus. 

Sebelum Ibu menikah dengan ayahku, ibuku pernah melangsungkan pernikahan pertamanya dengan H.Ishak. Beliau adalah kakak kandung ayahku. Katanya, suami ibu itu meninggal dunia di Jedah selepas menunaikan ibadah haji, saat perjalanan pulang ke Tanah Air. Saat itu perjalanan ke Saudi Arabia melalui jalur Laut, sehingga masa perjalanan menghabiskan waktu enam sampai delapan bulan. Ibu sendiri tidak ikut menunaikan ibadah haji, karena saat itu tengah mengandung bayi usia enam bulan serta tidak bisa meninggalkan anak pertamanya yang masih berusia tiga tahun. Anak pertama ibu yang masih kecil itu adalah Kak Rofie dan bayi dalam kandungan itu kemudian adalah Kak Ami. Mereka berdua, sebenarnya kakak ku seibu lain ayah.

H.Ishak menikahi Ibuku sebenarnya merupakan perkawinan yang kedua. Sebelumnya, pernah menikah dengan seorang wanita asal Banjarsari Ciawi. Dari hasil perkawinan mereka, menurunkan seorang anak bernama Kak Ibrahim. Ia juga merupakan saudaraku. Paling tidak, dia adalah kakak sepupuku. 

Terlepas adanya perkawinan Ibu dengan ayahnya Kak Ibrahim, tetap Haji Ishak adalah Uwak ku. Bukankah Uwak haji Ishak itu kakak kandung ayahku?. Disamping itu, Ibu mempunyai kakak seorang perempuan bernama Siti Murti. Ibu Siti Murti, yang kemudian biasa kami memanggil dengan sebutan "ibu haji", menikah dengan adik kandung H.Ishak yaitu Haji Idris. Dan H. Idris juga adalah kakak kandung ayahku.

Setelah berselang beberapa waktu ditinggal Wafat suami, ibuku mengalami penderitaan hidup sendiri mengurus kedua anaknya. Selanjutnya, barangkali sebagai upaya agar kedukaan ditinggal suami yang dialami ibu tidak berlarut-larut atau mungkin agar tidak "kapalang mikanyaah", atau mungkin agar tidak lepas dari ikatan keluarga, kemudian beliau dinikahkan dengan adik kandung mendiang suaminya, yaitu dengan H. Idrus, ayah kandungku. 

Pada saat itu, atau sebelum Ayahku menikah dengan ibuku, beliau sedang menduda. Sebelumnya, ayahku pernah menikah dengan seseorang dari Desa Medanglayang bernama Siti Imoh Fatimah dan mempunyai seorang anak bernama Yoyo Kosasih. Ia juga termasuk saudaraku. Kakak satu ayah lain ibu.

3. Leluhur Pihak Ibu

Ibuku adalah putri ke empat H.Hamzah, seorang pengusaha asal Cirebon. Beliau adalah kakek ku dari pihak Ibu. Ibuku mempunyai lima orang saudara kandung, tiga orang wanita dan seorang laki-laki. Lengkapnya, saudara-saudara ibu termasuk ibuku adalah:
1. Siti Emeh
2. Siti Mursita
3. Hj. Siti Murti (Ibu Haji).
4. Siti Mutia (Ibu)
5. Mohamad
6. Siti Munirah (Ibu Munirah).

H. Hamzah membuka usaha Losmen dan Rumah Makan di Panumbangan. Beliau bersahabat-erat dengan sesorang tokoh masyararakat setempat bernama Mas Murdagiri atau kerap mendapat panggilan Haji Yahya atau Eyang Murdagiri. 

Kedekatan dan keeratan mereka kemudian diwujudkan pada pertalian perkawinan anak-anaknya. Mas Murdagiri mempunyai lima orang anak, diantaranya tiga orang putra.

Pertama-tama, putri ketiga H. Hamzah yaitu Hj. Siti Murti ditikahkan dengan putra ketiga H.Yahya yaitu H. Idris. Kemudian, kakak kandung H. Idris, yaitu H.Ishak ditikahkan dengan adik iparnya (adik Hj.Siti Murti) yaitu dengan  Siti Mutia, ibuku.

4. Leluhur Pihak Ayah

Menurut cerita Ayahku, leluhurku sebenarnya bukan asli orang Panumbangan. Katanya, Giri Laksana kakeknya Mas Murdagiri (kakek ku) berasal dari Gresik Jawa Timur. Mbah Giri Laksana dituturkan termasuk salah satu keluarga Giri Kedaton yang didirikan oleh Sunan Giri.

Pada tahun 1680 Masehi, ketika kerajaan pesantren itu dipimpin oleh Ki Ageng Giri, tiba-tiba diserang oleh tentara Mataram dibantu VOC, karena Giri Kedaton tidak mau menyatakan tunduk kepada Mataram. Semua keluarga kedaton dibunuh habis dan Kedaton dihancurkan. Kenyataannya, Mbah Giri Laksana bisa meloloskan diri, didampingi seorang santri senior asal Singacala (Panjalu) dan berlari ke tatar Galuh. Beliau bersembunyi di lembah Gunung Sawal yaitu disebuah daerah pemukiman yang disebut Panumbangan.

Mbah Giri Laksana mempunyai anak, antara lain Murdagiri Laksana yaitu ayahnya kakek ku. Buyut Murdagiri Laksana adalah Kepala Desa Panumbangan pada periode 1801 - 1819. Murdagiri Laksana adalah buyutku dari pihak Ayah. 

Buyut Murdagiri Laksana menikah dengan seorang wanita yang dipastikan ada kaitan keluarga dengan istrinya Rd. Wiradikusumah Bupati Galuh saat itu. Hal tersebut ternyata dari petunjuk yang ditulis dalam Historiografi Unpad yag menyebutkan bahwa Keluarga Galuh pernah kehilangan anak perempuan, menumpang mobil Kompeni untuk mendatangi saudara dari fihak ibu yang menjadi pejabat di Panumbangan

Kalau yang dimaksud oleh Historiografi Unpad, seorang anak  perempuan dari keluarga Galuh yang minggat itu adalah Rd. Widyaningsih artinya istri Giri Laksana atau Murdagiri Laksana sendiri yang saat itu menjadi Kepala Desa (seorang pejabat) adalah saudara istri nya Bupati Ciamis.

Yang uniknya - ayahku melanjutkan cerita leluhurnya - bahwa Rd.Widyaningsih kemudian menikah dengan putranya Murdagiri Laksana yaitu dengan Mas Murdagiri (kakekku). Dengan demikian Rd.Widyaningsih adalah nenekku dari pihak ayah. 

Boleh jadi, saat itu nenek ku terpikat oleh kakek, seorang pemuda alim anak Kepala Desa, saudara ibunya dari Panumbangan. Jadi kakekku dan nenekku, atau Mas Murdagiri dengan Rd. Widyaningsih, sebenarnya masih mempunyai kaitan keluwarga. Beliau berdua melangsungkan pernikahan.

Kakek Mas Murdagiri dan Nenek Widayaningsih kemudian menunaikan ibadah haji, serta nama-nama beliau berdua diganti menjadi Haji Yahya dan Hajah Fatimah. 

Pertalian keluarga Kakek dan nenekku dengan keluarga Galuh, yang diceritakan ayahku, sebenarnya bukan isapan jempol, karena diperkuat oleh kejadian yang aku alami selanjutnya. Pertama, pada awal tahun 1940an, saat aku masih sekolah di Leles Garut, ada seorang Wedana Leles yang mengakui kami ada kaitan keluarga dari Ciamis. Kemudian berlanjut peristiwa kedua, pada tahun 1947 ketika Sang Wedana Leles yang baik hati itu, sudah menjadi Bupati Ciamis, beliau datang ke Panumbangan untuk mencari makam saudaranya (Rd.Widayaningsih atau Hj.Fatimah). Bupati Ciamis itu adalah Rd. Pater Dendakusumah. 

Jika Rd.Pater Dendakusumah menurut silsilah Galuh terbukti merupakan keturunan Rd.Wiradikusumah, maka Rd.Widayaningsih itu benar-benar seorang gadis yang minggat dari keraton Galuh.

Hasil perkawinan H.Yahya atau Mas Murdagiri dengan Hj. Fatimah atau Rd. Widayaningsih menurunkan keturunan lima orang anak, yakni :
1. Hj. Siti Maryam.
2. H.Ishak
3. H. Idris
4. H. Idrus 
5. Hj. Imi Siti Hamidah.
Semuanya adalah saudara ayahku juga merupakan orang tua kami.

Disamping itu aku mempunyai saudara lain, karena ternyata kakeku menikah lagi dengan putri seorang ulama besar yaitu dengan Nyimas Sutyaningsih. 
Beliau juga termasuk nenekku, sehingga aku memanggil beliau Eyang Tia. 

Dari hasil perkawinan dengan Eyang Tia, kakek Mas Murdagiri memperoleh keturunan lima orang anak, yaitu;
1. Nyimas Siti Muti'ah
2. Nyimas Siti Emoh Marhamah
3. Mohamad H. Hanafiah
4. Mohamad E. Kosasih
5. Mohamad Dawami.
Semua nya aku anggap orang tuaku dan aku pun dekat dengan mereka. Sejujurnya, mereka juga termasuk "teureuh Galuh" dari istrinya Bupati Rd.Wiradikusumah, sebab mereka juga anak-anak Mas Murdagiri dan bukankah Mas Murdagiri itu sendiri saudara pihak istri Sang Bupati?

5. Putri Kesayangan Ayah.

Putra-putri Siti Mutia, ibuku, dari H.Idrus ayahku,  setelah disamarkan namanya adalah sebagai berikut:
1. H. Purwa;
2. Sofia Sriwekasari;
3. H. Umbara.
4. Siti Saffa
5.Sanggara

Ayahku sangat mendambakan mempunyai anak perempuan, mungkin karena sebelumnya anak Ibu dari ayah selalu lahir laki-laki. Oleh karena itu, ketika aku dilahirkan sebagai putri pertama, ayah sangat memanjakan aku, sampai-sampai kemanapun ayah pergi aku selalu dibawa dalam gendongannya. Malah ketika aku sudah masuk sekolah dasar pun, berangkat ke sekolah masih digendong di pundak ayah, serta dengan sabar beliau menunggui ku belajar di kelas sampai aku keluar sekolah.


6. Kampung Halamanku



Desa ku yang ku cinta,
Pujaan hatiku
Tempat ayah dan bunda
Dan handai taulanku

Tak mudah ku lupakan
Tak mudah bercerai
Selalu ku rindukan
Desa ku yang permai.

Lagu ciptaan seorang pengajar bernama Liberty Manik (21 Nopember 1924) tersebut mengalun indah dengan tempo at a moderato. Keluar dengan suara nyaring dari sebuah radio tetangga yang kudengar ketika aku jauh dari Kampung Halamanku. Alunan lagu itu membuat hatiku terenyuh dan timbul kerinduan pulang ke desaku yang permai. Tempat ayah dan bunda serta handai taulanku. Desaku yang tak mudah kulupakan.

Aku dilahirkan dan menikmati masa kecilku di sebuah desa di lembah Gunung Sawal, di bagian Utara Kabupaten Ciamis, yang kemudian terkenal dengan nama Desa Panumbangan. 

Rumah keluargaku terletak di dusun Babakan tidak jauh dari alun-alun pusat desa. Tepatnya disekitar Balai Desa. 

Dari pinggir alun-alun, manjang ke sebelah Timur sampai belokan jalan Babakan dan melintang dari Utara ke Selatan sampai persimpangan jalan Nyangkokot, saat itu adalah tanah-tanah keluargaku. Rumah-rumah keluarga ku berdiri dalam satu blok mulai dari sebelah Utara jalan Kabupaten sampai ke Selatan tepian jalan desa ke arah Nyangkokot.

Dulu, di sebelah rumahku berdiri sebuah Pesantren untuk belajar keagamaan bagi anak-anak di desaku. Ayahku yang mengelola dan memimpin pesantren itu, malah mengajar juga selepas menjalankan pekerjaannya. 

Ayahku bekerja di Kantor Urusan Agama di Panumbangan, tetapi tidak mendapat gaji dari Pemerintah seperti sekarang. Saat itu, pemerintah kolonial membiarkan urusan keagamaan orang pribumi dalam lingkungan hukum adatnya, sehingga untuk gaji para pegawainya diatur oleh hukum adat tersendiri, yaitu dengan diberikan garapan tanah Kas Desa berupa tanah "bengkok" seperti para pamong desa lainnya.

Di Belakang Balai Desa, memanjang ke sebelah Selatan sampai ke jalan Babakan, terdapat kolam yang sangat besar, kepunyaan Mama Haji (panggilan kami kepada H.Idris) kakak ayahku. Kemudian setelah ayahku wafat, mama haji menjadi "orang tua angkat" kami. 
Aku tidak tahu pasti seberapa luas kolam milik mama haji itu. Yang aku tahu, jika mama haji menyuruh pekerja membobolkan kolam, baru airnya bisa surut setelah tiga hari tiga malam. Seluruh warga Panumbangan menyebut kolam itu "Balong Gede".


Dipinggir sebelah Selatan Balong Gede terdapat sebuah bukit. Walaupun Bukit itu tidak terlalu tinggi, tapi sangat rimbun oleh pepohonan dan semak belukar sehingga memberikan kesan angker. Dari celah-celah akar yang menjuntai dan dari celah bebatuan, keluar mata air yang sangat jernih dan memancar sangat besar. 

Untuk menampung mata air itu dibuatkan bak penampungan atau kami menyebutnya kulah. Dari kulah tersebut dipasang talang bambu untuk mengalirkan air berupa "pancuran" .  Jumlahnya ada tujuh buah  yang berjejer memanjang sebagai tempat pemandian umum di desa kami. 

Kami semua menyebutnya Pancuran Tujuh, Cimalandang.

Selain digunakan sebagai tempat pemandian umum, disekitar lokasi Cimalandang, biasa juga digunakan tempat berkumpul pemuda dan pemudi. Bercengkrama mencari pasangan. Tapi ada juga pemuda atau pemudi yang sekedar curi-pandang "naksir" lawan jenis yang ia harapkan. 

Momen seperti itu tidak hanya di lakukan siang hari yang biasanya ramai pada sore hari, tapi kadang juga dilakukan malam hari, yaitu kalau bulan purnama memancarkan cahaya paling terang dan besar. Kami menyebutnya peristiwa itu Ngabungbang.

Masih ingat masa kecil ku, kalau kami sekeluarga pergi ke pancuran Cimalandang, aku paling senang berlama-lama di pancuran itu. Memainkan air ciprat-cipratan dengan teman sebayaku. 

Kalau sudah keasyikan bermain, aku menjadi sulit diajak pulang. Tapi ayahku tidak pernah memaksaku berhenti. Ayah sendiri dengan sabar menungguiku sampai aku bosan sendiri. Biasanya kebosananku datang, jika aku sudah menggigil kedinginan dan bibirku sudah membiru. Aku sendiri yang berhenti seraya meminta ayahku untuk menyelimuti dengan handuk.

7. Aku  jadi anak yatim

Seperti pribahasa sunda: "takdir teu bisa dipungkir, bagja teu bisa dipĂ©nta", maka maut sebagai takdir kedatangannya pasti dan tidak bisa dihindari. Allah Subhanahu Wata'ala  menghendaki sesuatu dari keluarga kami. Menghendaki aku dan saudara-saudaraku pandai memetik hikmah dan makna dari jalan hidup yang ditempuh tanpa ayah dimasa kanak-kanak

Manakala Kang Purwa, kakakku masih duduk di Vervolig School kelas IV, sementara aku masih lekat dari buaian ayah, apalagi adik-adikku Umbara dan Saffa masih sangat kecil, terutama adik bungsuku Sanggara masih bayi berumur tiga bulan, ayah meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Beliau wafat di usia empat puluh lima tahun.

Wajah ayahku yang putih bersih bersinar dengan rona lembut penuh kesabaran, selalu membayang di hati kami. Mengiris kenangan manis oleh kepiluan. Menghempas anak-anaknya ke dalam keterlantaran dari buaian kasih ayah. Sebelum kami kenyang kasih sayang, beliau telah meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Sebelum kami besar "menjadi orang" dan berbhakti kepadanya, jasad beliau telah membujur kaku tidak membutuhkan apa-apa lagi, selain doa-doa dari kami semua. 

Rontoklah harapan masa depan bagiku dan saudara-saudaraku, karena satu-satunya harapan dan tulang punggung keluarga telah tiada. 
Baru aku menyadari setelah beberapa hari kemudian, ternyata sejak saat itu, aku dan saudara-saudaraku resmi menjadi anak yatim. Tanpa ayah yang menyayangi dan mengayomi. Tanpa ayah yang melindungi kami. "Selamat jalan Mama.Semoga engkau bersama orang-orang Sholeh di alam sana".


8. Terpulas diatas rumput, ditinggal kakak mengejar layang-layang putus.

Bukan aku saja yang kehilangan belaian ayah setelah beliau wafat, tapi seluruh keluargaku merasakan hal yang sama. Hal itu disebabkan semasa hidupnya, ayah sangat perhatian kepada keluarga. Ayah memberikan peranan besar dalam seluruh kegiatan keluarga kami. Walaupun ayah sibuk menjalankan pekerjaan di Kantor Urusan Agama serta mengurus pesantren, tapi masih bisa menyempatkan diri melakukan pekerjaan kecil di rumah untuk meringankan tugas ibu. Beliau sering membantu Ibu memasak di dapur dan mencucikan pakaian atau mencuci piring sekalipun. Beliau berperangai lembut, pendiam dan sabar. Kami belum pernah melihat dan merasakan ayah marah. 

Menurutku, ayah mempunyai rasa kasih sayang kepada sesama begitu besar. Jangankan kepada manusia, kepada binatang dan tanamanpun ayah sering mengajak bercakap-cakap dengan ungkapan sayangnya. Yang paling berkesan terhadap karakter ayah, beliau sangat dekat dengan anak-anaknya.

Setelah ayah wafat, kami terdorong untuk bahu-membahu membantu ibu. Anak ibu yang saat itu agak dewasa hanyalah Kang Purwa, kakak sulungku. Aku sendiri baru masuk Sekolah dasar, apalagi adik-adiku masih kecil-kecil, terutama adik bungsuku baru berusia empat bulan.

Dengan demikian, beban membantu ibu berada dipundak kakak ku itu. Tugas utamanya mengasuhku, karena dua adik ku yaitu Umbara dan Saffa di asuh oleh saudar-saudara ibu, kecuali adik bungsuku, Anggara ditangani langsung oleh ibu.

Bagiku, perhatian dan kasih-sayang ayah yang hilang ternyata mendapat pengganti berupa kasih-sayang dari seorang kakak. Kang Purwa yang saat itu biasa kupanggil "akang", selalu mengasuhku dengan ikhlas, mengayomi dan melindungi.
Kemanapun akang bermain, selalu membawaku pergi. 

Kemanapun, aku digendong di punggungnya bagai menunggang kuda poni. Akang bermain kelereng dengan teman-temannya pun, aku dibawanya. Ketika akang mendapat giliran menjentrik gundu, aku ditaruh duduk dulu dipinggiran arena sambil memegang kelereng hasil permainannya. Malah ketika akang ingin bermain layang-layang jauh dari rumah ; di sawah kering, di tegalan atau di alun-alun, akupun digendong dibawa berlari-lari.

Pada suatu hari, ketika akang ingin bermain di alun-alun, akang tidak tega meninggalkanku di rumah sendiri, meskipun sebenarnya beban tugas mengasuhku menjadi tanggung jawab akang. Ahirnya, terpaksa aku dibawa oleh akang bergelayut dalam gendongannya pergi ke alun-alun. Akang menggendongku sambil berlari dengan langkah berjingkat meniru langkah kuda, sehingga badanku bergoyang keras, dan akupun mempererat pegangan.

Yang membuat aku jengkel dengan ulah akang, ia berlari sambil kepalanya mendongak keatas memperhatikan layang-layang yang terbang di langit. Aku memejamkan mata ketakutan. Terbayang dibenakku, kaki akang terantuk memagut batu dan kami jatuh tersungkur.
Lama-lama aku kenyang kecemasan dan sepertinya ngantuk karena lelah. Aku tertidur dalam gendongan akang, kepalaku berkali-kali membentur punggungnya. Untung peganganku tetap ketat-erat mendekap leher akang. 

Menyadari keadaan tersebut, kemudian akang merebahkan badan ku diatas rumput yang tebal, di bawah Pohon Beringin yang rindang dan teduh, di tengah alun-alun. Aku tertidur pulas, apalagi dibelai kesejukan dari desiran angin.

Tiba-tiba akang melihat sebuah layang-layang putus, meleok-leok ditiup angin melintasi alun-alun. Akang sontak bangkit mengejar layang-layang itu dan meninggalkanku terpulas diatas rumput sendirian. 


Sepertinya, kemudian akang menjadi keasyikan mengejar layang-layang yang beruntun putus. Setelah mengejar satu layang-layang ke suatu tempat, kemudian menyusul mengejar layang-layang yang putus berikutnya ke tempat lain dan seterusnya hingga menjadi lupa telah meninggalkan adiknya tertidur sendirian di bawah pohon beringin sampai sore.

Pada sore harinya, aku terbangun dan menoleh disekelilingku tidak ada orang. Aku tidak mengetahui kemana akang perginya. Yang terakhir aku ingat, aku masih dalam gendongan akang dicekam kehawatiran. Tapi mengapa akang begitu tega meninggalkan aku sendirian? Aku menangis sejadi-jadinya karena takut dan tidak berani pulang sendirian ke rumah.

Sementara itu, ibu mencariku kemana-mana sambil membawa adik bungsu ku dalam pangkuannya. Ahirnya Ibu menemukan aku yang tengah menangis di tengah alun-alun sendirian. Ibu sangat marah kepada akang karena dinilai tidak tanggung jawab. 
Ahirnya, setelah di rumah, akang menceritakan kejadiannya seraya meminta maaf kepada ibu. Yang paling berkesan dari sikap akang, setelah bersujud kepada Ibu, kemudian menghampiriku sambil mencium keningku tanda penyesalan dan rasa sayang.

Sejak saat itu, aku tidak diperkenangkan dibawa jauh dari rumah.


9. Kelana Merindukan Ibu

Setelah anak-anak tumbuh agak besar, Ibu menikah lagi dengan seorang Naib di Palimanan Cirebon. Mama Naib, suami ibu yang baru itu aslinya dari Ciwalen. Katanya masih ada kaitan famili dengan kami. 

Ibu mengikuti suaminya tinggal di Karanggetas, kemudian pindah lagi ke Pamuketan Cirebon tanpa membawa seorang pun anak kandungnya. Semua anak-anak Ibu ditinggalkan di Panumbangan diurusi oleh Ibu Haji. 

Ibu sendiri yang mengurusi anak-anak tirinya yang jumlahnya banyak. Walaupun umumnya anak tiri ibu sudah berumah–tangga, tapi masih ada yang kecil-kecil. Isteri Mama Naib terdahulu meninggal dunia, sehingga ibukulah yang menggantikan posisi dan peranan ibu bagi anak-anaknya. 

Mereka tidak seperti kami sunyi tanpa kehangatan dan kasih sayang ibu. Setidak-tidaknya bagi mereka ada kehangatan ibu yang menggantikannya.

Waktu Ibu meninggalkan kami, aku dan saudara-saudaraku diurus oleh Ibu Haji. Walaupun ibu haji merupakan kakak kandung ibu, ternyata tidak sepenuhnya mencurahkan kasih sayang kepada keponakannya yang telah manjadi anak yatim ini. 

Mungkin beliau berpikiran bahwa anak ibu sebelumnya (dari H. Ishak) sudah diangkat anak oleh beliau. Kemudian secara tiba-tiba diserahi lagi lima orang anak ibu dari ayah yang masih kecil-kecil. Mungkin Ibu haji pusing harus mengurus anak kecil sebanyak itu dan sering rewel. Padahal Mama dan Ibu Haji sendiri tidak mempunyai keturunan. Satu-satunya anak angkat yaitu Kak Ami, sudah besar dan sudah Sekolah di Van Deventer Bandung.

Kemarahan Ibu haji kapadaku dan saudara-saudaraku sering dilakukan tanpa sebab atau mungkin sebabnya muncul pada saat kemarahan itu meledak. Ada-ada saja tindakan dan prilaku kami yang beliau persalahkan setiap harinya. Jika diam dipersalahkan tidak memperhatikan dan menyepelekan, tetapi jika berkata pun dipersalahkan membantah omongan orang tua. Aku dan saudaraku menjadi serba salah menghadapi ibu haji. Kesehariannya mengalami penekanan, sehingga prilaku kami cenderung fasip dan takut melakukan inisiatif. Orang-orang bilang, semua anak ibu mengalami "teunggar kalongeun".

Hari-hari bagi kami diisi dengan tekanan dan penderitaan menahan kerinduan kepada Ibu yang jauh. Kami semua sering menghayalkan saat hangatnya dalam belaian orang tua, penuh cumbu dan gelak tawa, apalagi ketika ayah masih ada di tengah kami.

Begitu sedihnya hati kami, setiap hari sering melamun dan merindukan Ibu. Memang Mama Haji termasuk orang berada di desa kami, Tapi bagi kami masih akan memilih hidup apa adanya disamping ibu, dari pada hidup serba cukup tapi menderita tanpa ibu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

VI. KENANGAN LAMA MUNCUL TENGGELAM

1. Rumah  Untuk Keluarga Baru Setelah aku menikah dengan seorang polisi, kami menempati sebuah rumah pinggir jalan sebelah Barat rumah Ibu H...