Jumat, 03 Desember 2021

VI. KENANGAN LAMA MUNCUL TENGGELAM

1. Rumah  Untuk Keluarga Baru

Setelah aku menikah dengan seorang polisi, kami menempati sebuah rumah pinggir jalan sebelah Barat rumah Ibu Haji. Rumah itu kepunyaan Kak Rofie, kakak ku dan rumah itu pula yang pernah ditempati oleh Kak Ami selama masa pengungsian sampai kemudian pindah ke Bandung.

Kak Rofie, wafat ketika usia masih muda. Ketika kehidupan ekonominya berada dipuncak kesuksesan. Ia termasuk pengusaha muda berada di saat itu. Ia mempunyai grosir kedelai dan bungkil serta Pabrik Tahu satu-satunya yang ada di Panumbangan. Kakak ku itu wafat meninggalkan enam orang anak, dua diantaranya sudah berumah tangga, sedangkan empat orang lainnya masih kecil.  Suami mendiang kakak ku menikah lagi tanpa membawa dan memperdulikan anak-anaknya yang masih kecil. Salah seorang anaknya, yang keempat kemudian ikut bersamaku. Kebetulan adik suamiku juga ikut bersama kami.

Di rumah kepunyaan kakak itulah, aku mengawali perjalanan rumah tangga dengan suamiku. Walaupun bagai rumah mengapung dipermukaan laut. Yang kerap tergoncang oleh ombak pasang. 

Jika suami ku mendapat giliran piket malam, dirumahku selalu ditemani Ibuku yang sebelumnya tinggal di Cerebon. Namun setelah suami ibu yang terahir itu wafat, beliau kembali ke Panumbangan menempati vapiliun rumah kang Purwa.

Pada saat ditemani Ibu itulah, aku mencurahkan isi hati dan menumpahkan seluruh kegundahan yang membelenggu jiwa selama itu. 
Aku menangis dipangkuan Ibu karena kebimbangan terhadap rumah tanggaku yang dipaksakan. Kebimbangan karena dorongan jiwa untuk menunggu Perwira, selalu menghantui. 

Hari-hari dilalui penuh kegelisahan karena di dalam benakku ada dua beban pemikiran yang saling berbenturan. Disatu sisi, aku harus menjungjung tinggi nilai sakral perkawinan dan apapun latar belakangnya, aku tetap harus berbhakti pada suami. Namun disisi lain, hatiku selalu teriris karena cintaku pada Sang Perwira dijadikan tumbal demi keselamatan keluarga. 

Dengan adanya Ibu menemaniku di rumah, merupakan kesempatan bagiku melepaskan beban yang selalu menyesakkan dada. Aku peluk Ibuku erat-erat. Aku menangis tersedu-sedu dalam pangkuan Ibu. Dengan lembut, Ibu mengelus rambutku. Tetesan air mata ibu pun terasa berjatuhan diatas ubun-ubunku. Rasanya sejuk meresap di kalbu ku termasuk nasihat yang beliau sampaikan. 

Ibu ku mengatakan bahwa aku harus bersyukur menikah dengan suamiku. Perkawinan itu merupakan pilihan terbaik yang diberikan Allah untukku. Coba lihat gadis yang lain, yang awalnya rame-rame menikah dengan tentara seperti latah, namun setelah tentara pergi tanpa kembali, mereka pun nyaris masal menyandang status janda. Engkau beruntung menikah dengan seorang polisi, nasihat ibu selanjutnya, karena engkau tidak ditinggal jauh, jika suamimu dipindahkan kemanapun, istri masih bisa dibawa pindah.

Dari nasihat Ibuku tersebut, kemudian aku merenungi kebenarannya. Sejak saat itu pula hatiku bersyukur. Kisah asmara dengan Sang Perwira kucoba harus diakhiri karena aku telah bersuamikan seorang Polisi. Sejak saat itu aku bertekad untuk membhaktikan diri pada suami dan membina rumah tangga ku sebaik-baiknya.

2. Kekacauan Baru di Desa ku

Setelah Tentara Hijrah ke Yogya, keadaan di Panumbangan menjadi tambah kacau akibat terjadinya perbedaan konsep di kelas elit politik. Disatu pihak menyetujui perjanjian Renvile dengan alasan untuk memperoleh pengakuan kedaulatan Republik Indonesia, harus diterima syarat pembentukan Negara Serikat dan mempersempit kekuasaan Republik Indonesia terbatas daerah Yogyakarta serta mewajibkan Republik Indonesia menarik pasukan kesebalah timur garis "Van Mook" (dimana tanda titik Van Mook sekarang ada di Jembatan Cirahong). Namun dipihak lain ada kelompok yang menolak perjanjian itu seraya menuding Pemerintahan Republik Indonesia (Pemerintahan Soekarno) menjual Negara kepada Kafir Belanda. Mereka tidak setuju dengan hijrah militer ke Yogyakarta, tetapi mereka mengadakan gerakan "hijrah total" yaitu perlawanan habis-habisan melawan Belanda di tatar Jawa Barat. Mereka mendirikan negara baru yang disebut Negara Islam Indonesia atau Darul Islam dengan pasukannya Tentara Islam Indonesia (NII, DI /TII).

Akibatnya ketentraman dan keamanan rakyat menjadi tidak menentu. Mereka menjadi terancam oleh dua pihak. Belanda dengan arogansi kekuasaan membuat rakyat miris dan takut. Disamping itu, gerombolan bersenjata yang menamakan dirinya Tentara Islam Indonesia (TII) yang awalnya hanya perlawanan terhadap Balanda tapi kemudian berhadapan dengan Tentara Republik sekembalinya dari Yogya. Malah kemudian menyerang penduduk sipil. Mereka membunuh rakyat, membakar rumah-rumah dan mengambil harta benda penduduk.

Posisi Rakyat Jawa Barat pada saat itu benar-benar dalam kedudukan terjepit. Mereka tidak tahu harus menyandarkan keselamatan jiwa kepada siapa. Jika menyandarkan keselamatan kepada pemerintah Belanda, mereka pun terancam oleh Gerombolan TII dengan tuduhan membela Kapir dan pula terancam oleh Tentara Republik dengan tuduhan penghianat bangsa. Begitu juga jika menyandarkan keselamatan kepada tentara republik, mereka akan terancam oleh Belanda dan gerombolan TII. Apalagi jika menggantungkan keselamatan kepada gerombolan DI/TII.

Pada waktu itu, ketika Polisi Distrik Panumbangan mengadakan operasi ke basis pertahanan TII di daerah Gunung Cupu Cikoneng, dalam perjalanan dihadang gerombolan DI/TII terlebih dulu di bukit Sanghiang di Sasak Gantung Pamokolan. Gerombolan memberondong tembakan jarak dekat dari arah bukit yang berada diatas sebelah Timur jalan. Banyak polisi menjadi korban. Namun untung, saat itu suamiku sedang mendapat tugas piket di Kantor dan tidak ikut operasi.

Suamiku sering meerdag ke Cihaurbeuti karena disana juga terdapat pos polisi. Cihaurbeuti termasuk daerah rawan ancaman gerombolan dan suamiku pun sering mendapat serangan dengan posisi terjepit. Tapi Alhamdulillah masih bisa selamat.

Setelah dilakukan perjanjian Den Haag yang terkenal dengan nama Konprensi Meja Bundar, Belanda menyatakan pengakuan kedaulatan terhadap negara Indonesia dalam bentuk Negara Republik Indonesia Serikat (RIS). Jawa Barat menjadi Negara Bagian Pasundan sama seperti Republik Indonesia sebagai negara bagian yang berkedudukan di Yogyakarta. Namun, itu tidak berlangsung lama. Setelah mendapat pengakuan kedaulatan, Indonesia kembali lagi menjadi Negara Kesatuan.

Tentara Siliwangi pun kembali memasuki Jawa Barat dengan melakukan Long March setelah sekian lama Hijrah.


 2. Perwiraku kembali dari Hijrah.

Mendengar berita kembalinya Tentara Siliwangi ke Jawa Barat, hatiku yang semula telah mengubur semua kenangan dengan Sang Perwira menjadi goyah.

Aku, sebagai istri yang seharusnya jiwa dan ragaku seutuhnya berada disamping suami, ternyata ada sesuatu dari diriku yang lebih dulu melesat meninggalkan kenyataan. Ia adalah hatiku, yang kebelakang tidak hadir dalam akad pernikahan. 

Walaupun aku sepenuhnya menyerahkan ragaku milik suamiku, namun aku belum bisa menghadirkan hati seutuhnya ditengah-tengah rumah tanggaku. Walaupun kucoba, sedang ku coba dan terus kucoba, tapi kerap aku menerawang jauh keatas awan, melalui lensa mataku memancarkan gambar-gambar kehidupan seperti proyektor film memutar cerita.

Dilangit, dibalik awan disana, terlihat jelas sebuah gambar bagaimana Sang Perwiraku kembali dari Hijrah. Bagaimana dia menghampiriku dan memberikan setangkai bunga tanda ia masih setia untuk ku. Terlihat juga gambar, bagaimana dia menarik tanganku mengajak pergi berdua, menunggangi kuda kesayangannya yang dulu mati tertembak Belanda. Kuda itu, terbang melesat membawa kami dan membiarkan kami saling mencurahkan kerinduan di atas punggungnya. Oh, alangkah indahnya. Terbang meliuk-liuk di awan sambil melihat ke bawah, hamparan bumi menghijau penuh ke damaian. 

Dari atas awan itu aku melihat kebawah terdapat sebuah titik hitam disuatu tempat. Semakin diperhatikan makin membesar dan semakin terlihat jelas. Titik tersebut adalah sosok laki-laki yang sedang duduk disebuah kursi diteras rumahku sedang memeluk seorang anak kecil. Ia kelihatan murung dan bersedih seperti luka hati kehilangan sesuatu. Setelah kuperhatikan lebih seksama, betapa terkejutnya aku, karena wajahnya pernah aku kenal dan akrab dimataku. 

Ia ternyata suamiku dan anakku sedang bersedih kehilangan aku. Moralku terperanjat dipukul rasa bersalah. Aku memejamkan mata kuat-kuat. Lamunanku berahir dan semua gambar tentang Sang Perwiraku diatas awan itu menghilang. 

Mataku kembali dapat melihat kenyataan bahwa aku sekarang sudah menjadi isteri seorang inspektur polisi. 

Demikianlah suasana hatiku setelah mengetahui tentara Siliwangi kembali dari Yogya. Penuh pertarungan antara harapan kedatangan Perwira dan kesetiaan sebagai seorang isteri. Hatiku penuh kebimbangan. Kerap labil dalam menegakan kesetiaan. 

Aku sering tersiksa oleh diriku sendiri. Hatiku makin terkoyak jika mendengar berita tentang Perwiraku. Karena hatiku dijadikan medan pertempuran oleh harapan cinta dengan norma kebenaran yang tetap harus aku pegang. 

Seperti ketika pada suatu hari aku sedang mengajar di Sekolah, tiba-tiba kedatangan seorang tentara pejuang yang dulu bermarkas di Panumbangan. Ia bernama Suwandi dan yang biasa aku panggil “Mas Wandi” karena ia berasal dari Surabaya. Mas Wandi menyampaikan pesan Perwira kepadaku. Katanya, dia sudah pulang dari Jogya namun dimana ia berada tetap dirahasiakan. Mas Wandi sendiri datang ke Panumbangan dengan sembunyi-sembunyi untuk menemui isterinya, yang juga temanku. Namun setelah itu Mas Wandi tidak kembali lagi dan tidak ada kabar beritanya. Isterinya ditinggalkan begitu saja, sehingga isteri Mas Wandi mengugat cerai dan kemudian menikah lagi dengan tentara dari kesatuan Batalyon 314 Sunan Gunungjati yang pada tahun 1958 organik di Panumbangan. 

Pada saat menemuiku, Mas Wandi menyampaikan salam Perwira untukku. Dia belum mengetahui aku sudah menikah. Hatiku menjadi sedih dan tergoyah. Ternyata anggapan keluarga bahwa dia tidak mungkin kembali itu meleset. Kenyataannya dia benar-benar kembali untukku. Aku benar-benar menyesal tidak menunggunya. Aku benar-benar menyesal tidak berani berontak kepada Ibu Haji. Aku menyesal menjadi orang pengecut tidak nekad pergi dari Panumbangan meninggalkan keluarga demi dia. Aku menyesal harus membiarkan diriku menerima pernikahan yang dipaksakan. 

Sekarang nasi sudah jadi bubur. Asmaraku untuk Sang Perwira sudah hancur-lebur oleh ikatan perkawinan dengan suamiku. 

Luka hati kehilangan Sang Perwira yang beberapa waktu lalu hampir mengering, kini tergores lagi malah terkoyak-koyak oleh berita kedatangannya. 

Keadaan hatiku makin tersiksa karena aku sudah menjadi milik suamiku dan tidak ada satu dasar pembenaran apapun untuk aku mengingkarinya.

3. Surat Untuk Sang Perwiraku. 

Setelah aku mempunyai empat orang anak, memasuki tahun 1958, di Panumbangan organik satu Batalyon 314 dari Resimen Sunan Gunungjati Cirebon. 

Pada suatu hari, ke markas Batalyon kedatangan tamu Komandan Detasemen CPM Cirebon dalam rangka tugas rutin. Komandan itu adalah Lekol-CPM Perwira. Sang Perwira yang selama beberapa waktu lalu aku tunggu. Sang Perwira yang terpaksa aku kubur cintanya demi keselamatan keluarga. Sang Perwira yang tidak bisa lagi kupandang walaupun selalu dapat kudengar perjalan hidupnya. 

Menurut berita, dia bertugas selama tiga hari dan bermalam di rumah sahabatnya seorang haji didaerah Landeuh pinggir jalan raya arah ke Cibeureum yang setiap hari kulewati jika pergi ke sekolah. 

Aku tidak mengerti mengapa dia tidak tinggal di Mess Perwira. Aku pikir, dia takut menggangguku karena Mess berdekatan dengan rumah tinggalku. Atau mungkin dia ingin mengintip keadaanku, karena setiap hari aku pergi atau pulang Sekolah melewati rumah itu. Setelah lebih sepuluh tahun berpisah, mungkin dia ingin mengetahui langsung keadaanku. Padahal aku sendiri mendengar dia juga sudah menikah. 

Untuk pergi ke Sekolah, aku menjadi bingung menghindari bertemu dengan dia. Dasar seorang Perwira Invantri, dia cerdik menempatkan diri untuk membuat aku tak berkutik. Untuk pergi ke sekolah, aku hanya mempunyai satu-satunya jalan yang harus kulewati yaitu jalan yang melewati rumah dimana dia bermalam. 

Biasanya aku pergi ke sekolah jalan kaki, karena jaraknya hanya sekitar 400 meter lurus. Tapi untuk hari-hari itu, terpaksa aku pergi ke sekolah dengan menunggang delman. 

Ketika delman mendekati rumah dimana dia berada, aku meminta Sang Kusir memacu kuda berlari kencang. Namun saat delman sudah melewati tidak jauh dari rumah itu, aku sempat mencuri pandang dan ternyata tidak terlihat ada orang disana. Kemudian aku terus memperhatikan rumah itu, barangkali tiba-tiba ada orang yang keluar rumah. Delman malah berlari semakin kencang sehingga jarak makin jauh dan pandangan kearah diapun makin kabur. Hatiku saat itu bergalau antara kepuasan dan kekecewaan. Aku merasa puas, karena menurutku aku menang menghadapi strategi yang digunakan Perwira Invantri. Ia tidak bisa menghadangku untuk bertemu saat aku pergi ke sekolah walaupun ia sudah menguasai medan secara taktis. Aku tersenyum kecil, ternyata dalam siasat asmara, perwira invantri yang bepengalaman tempur bisa kalah oleh mantan anggota PMI. Tapi sebenarnya aku merasa kecewa, karena pada saat delman melewati rumah dimana dia berada, aku tidak sempat melihat wajahnya. 

Di Sekolah, aku membuat surat untuk dia dengan isi panjang-lebar. Namun intinya menyampaikan pesan bahwa “Jadikanlah masa lalu hanya untuk dikenang. Mencintai itu tidak selamanya untuk saling memiliki. 

Sebelum diberikan kepadanya, surat itu aku selipkan dalam buku catatan harianku dan kemudian dibawa pulang ke rumah.

4. Surat  Penyebab Retak Rumah Tangga

Sepulangnya mengajar di sekolah, aku bergegas pulang ke rumah karena harus segera menyusui bayiku yang masih berusia enam bulan. Ia anak ku yang keempat. 
Buku catatan harianku, aku taruh diatas buffet di tengah rumah, padahal biasanya aku bawa ke kamar. 

Tidak lama kemudian, suamiku datang dan membuka buku itu. Betapa terkejutnya melihat tingkah suamiku itu. Mungkin suamiku hanya iseng ingin membaca tulisan apa yang ada di dalamnya. Namun aku panik, karena Surat untuk Raspati diselipkan di dalam buku itu. 

Aku segera merebut buku dari tangan suamiku. Suamiku malah makin curiga melihat reaksiku panik seperti itu. Ia merebut kembali dari tanganku. Kemudian terjadi saling tarik dan surat untuk Perwiraku terjatuh di lantai. Suamiku memungutnya dan membaca surat itu. Ia marah-marah dan mengeluarkan kata-kata kasar dan kotor.

Aku hanya tertunduk, tidak mengeluarkan sepatah katapun. Surat yang aku buat untuk Perwira sebenarnya hanya mengungkapkan rasa bersalah bahwa aku mengahiri penantian demi keselamatan keluargaku. Karena hal tersebut tidak pernah ku sampaikan sebelumnya. Namun alasan demikian tidak mungkin bisa dijadikan dasar pembelaan kepada suamiku yang tengah meluap amarah.

Suratku itu, oleh suamiku ditik ulang dan diperbanyak, kemudian disebarkan kepada keluarganya dan keluargaku, termasuk mengirimkan petikan surat kepada  Kak Ami di Bandung.

Sebenarnya aku telah banyak menderita dan berkorban untuk kebahagian keluarga. Aku berkorban menghancurkan harapanku sendiri. Aku tengah berjuang sekuat tenaga menyumbat setiap  celah peluang kembali kepada Sang Perwiraku. Walau hatiku terus-terusan menderita. Walaupun hatiku terkoyak-koyak, tapi aku relakan demi keutuhan rumah tanggaku. 

Sebenarnya suamiku mengetahui latar belakangku dengan Perwira. Suamiku mengetahui bahwa rumah tanggaku awalnya merupakan tumbal keselamatan keluarga. Dia juga menyadari bahwa rumah tanggaku dibangun diatas lahan cinta orang lain. Dan suamiku mengetahui pula bahwa aku tengah berjuang melupakan masa lalu. 

Seharusnya suamiku memahami hal tersebut. Seharusnya suamiku membantu menguatkan perasaanku. Karena keutuhan rumah tangga dengan dia pun merupakan tujuanku. Jangan seperti saat ini. Hanya sekedar membuat surat untuk menjelaskan keingkaranku kepada janji dengan Perwira, yang tidak pernah kusampaikan sebelumnya, suamiku meluap amarah hingga mengeluarkan kata-kata penghinaan kasar dan kotor.

Jika tidak kutemukan maaf dari suamiku dan terus-terusan mengumbar amarah dengan mengeluarkan kata-kata kotor, merendahkan dan penghinaan, maka meskipun tidak aku harapkan, perceraian ahirnya pilihanku. Aku siap hidup sendiri dengan membawa seorang bayi, sedangkan tiga anak lainnya terserah ayahnya.

Aku berpikir saat itu, aku baru menginjak usia tiga puluhan, masih muda dan mempunyai harapan masa depan. Jika suami menceraikan aku, aku akan mengajar pindah ke Bandung dengan membawa seorang bayi yang akan ku besarkan. Tiga anak yang lainnya, terserah menjadi urusan ayahnya. 

Aku putus asa saat itu. Usaha membangun fondasi kuat dari rumah tangga yang kami dirikan diatas tanah yang labil, telah disia-siakan suamiku. Rasanya hatiku sangat pedih. Manakala aku berbekal nilai kebenaran dan pengabdian harus mendepak kenangan lama yang terlalu kuat, yang seharusnya suamiku memperkuat upayaku, ternyata sebaliknya, rumah itu dibuat roboh oleh amarah tidak mau kompromis.

Dalam keadaan rumah tanggaku nyaris roboh, lagi-lagi Ibu Haji - orang tuaku - menyudutkan ku. Beliau malah lebih memperkeruh. Dengan pintas menuduhku keras kepala, "ngagugulung nafsu", mengharapkan terus tentara yang tidak menentu, umpatnya.

Untung saja Kak Ami dan kak Adi segera datang dari Bandung. Mereka ikut menyelesaikan masalah kami. Dengan lemah-lembut, mereka meredam emosi suamiku dan juga menasehatiku. Tapi sepertinya Kak Adi tidak begitu ngotot mempertahankan perkawinan kami. Beliau kehilangan interest kepada suamiku yang dinilai kasar memperlakukan istri. Namun ahirnya suhu menurun pada titik terendah. Suamiku merasa iba melihat anak-anak masiih kecil, apalagi anak ketiga perlu penanganan dokter karena mempunyai kelainan kesehatan sejak lahir.

Memang, mencapai indahnya rumah tangga itu tidak semulus seperti apa yang dibayangkan pada awalnya. Ternyata harus menghadapi terjangan ombak yang keras. Jika kami tidak pandai-pandai bersikap, karam sudahlah bahtera rumah tangga kami.


5. Balas Dendam Suami

Setelah ombak menerjang keras bahtera kami karena kekeliruan ku sudah berlalu. Diganti desiran angin dan riak gelombang kecil mengalun, terasa pelayaran kami menjadi indah. Langkah demi langkah dilalui kami berdua untuk membesarkan anak. Ekonomi kami makin mapan. Gajih kami berdua lebih cukup untuk biaya hidup, malah bersisa tabungan yang kami gunakan untuk membangun rumah.

Suamiku sepertinya sebagai nahoda yang baik, dan seharusnya juga didampingi istri yang baik pula. Kami mencoba membuka peta pelayaran bersama. Memutuskan berdua; di Pelabuhan mana harus membuang sauh untuk berlabuh menikmati indahnya Pantai. Kemudian mengadakan pelayaran selanjutnya, menetukan arah bersama agar tidak membentur karang. Aku menjadi terlena oleh kemahiran suamiku dan percaya sepenuhnya, sehingga aku membiarkan suamiku mengemudikan bahtera sendiri. 

Beberapa lama kami merasakan indah nya rumah tangga. Sampai suatu waktu, tiba-tiba perahuku bergoyang keras membentur karang. Kali ini, kelalaian Sang Nahoda. Barang kali Sang Nahoda sedang mabuk, karena dibuai angin. Atau mungkin juga terbuai keindahan, sehingga lupa apa tujuan utama pelayaran dan bagaimana keselamatan penumpang. Atau mungkinkah suamiku balas dendam kepada ku?

Pada saat itu, Kantor Komando Distrik Kepolisian - tempat suamiku berkerja - terletak di pengkolan sebelah Timur, persimpangan jalan Babakan, tidak jauh dari rumahku, sehingga jika kami berada di teras rumah, akan terlihat jelas ruang jaganya.

Di seberang jalan, sebelah Utara Kantor Polisi - sebelum melintas jembatan Cipanjeleran - terdapat sebuah lapang batminton. Setiap sore atau malam hari, lapang batminton tersebut ramai dikunjungi orang. Suamiku hampir tiap hari main barminton disana, malah kerap kali pulang larut malam. Malah pernah juga pulang pagi, katanya kecapean hingga tertidur di ruang jaga. Pernah juga suamiku tidak pulang dua hari. Alasannya langsung berangkat meerdag ke daerah.

Sesekali, kalau sabtu sore aku juga suka main batminton. Banyak guru wanita yang senang main batminton atau gadis-gadis remaja lainnya. Pokoknya sabtu sore atau minggu pagi, lapang tersebut, digunakan untuk jadwal para Wanita.Tentu saja penonton makin banyak dan ramai melihat para wanita main. Terutama waktu itu ada "kembang lapangan". 

Tepat disebrang Jembatan Cipanjeleran tinggal seorang janda muda cantik. Sebut saja namanya Kinanti. Sebenarnya Kinanti itu bekas muridku. Ia kemudian nikah dengan seorang tentara dan ia dibawa ke Cianjur. Tapi sepertinya perkawinan mereka tidak lama, setelah bercerai dan berstatus janda, Kinanti kembali ke Panumbangan dan tinggal di rumah orang tuanya di sebrang jembatan Cipanjeleran itu.

Sebenarnya aku dekat dengannya. Aku sudah menganggap dia adiku sendiri. Dia pun baik dan santun kepadaku, sampai terjadi suatu peristiwa yang membuatku terkejut. Diluar dugaan Kinanti begitu tega menikamku dari belakang.

Suatu hari suamiku bicara bahwa dia diperbantukan tugas di Kepolisian Cikoneng selama satu minggu. Aku pun mempersiapkan baju dinas yang diperlukan.
Di luar dugaan, ketika akan mencuci pakaian bekas dinas, dari saku depan, aku menemukan sepucuk surat pernyataan. Isinya Surat Pernyataan Izin Menikah bagi Suami. Surat itu ditanda-tangani oleh aku sendiri. Ternyata suamiku akan melangsungkan pernikahan dengan Kinanti di Cianjur lusa. 
Dengan datar dan dingin aku menyampaikan kepada suamiku bahwa aku menemukan Surat Keterangan Palsu dari saku bajunya. Suamiku terperanjat, namun aku tidak terpancing emosi.

Besok harinya, pagi-pagi aku berangkat ke Ciamis menghadap Kapolres. Aku mengadukan ulah suamiku memalsukan tanda tanganku pada Surat Izin Menikah. Hari itu juga Kapolres memanggil suamiku, tapi ketika suamiku menghadap Kapolres aku sendiri sudah pulang ke Panumbangan. 

Katanya, pada hari yang direncanakan oleh suamiku menikah di Cianjur, suamiku dipindah tugaskan ke Sektor Padaherang. Tapi anehnya, suamiku malah menjadi Komandan Sektor di disana. Kinanti pun pergi ke Cianjur dan tidak kedengaran lagi datang ke Panumbangan.

6. Balas Dendam Kedua Suamiku

Waktu suamiku menjadi Kapolsek Padaherang, aku sendiri tidak ikut pindah dan tetap tinggal di Panumbangan. Untuk mengajukan pindah kerja akan memakan waktu lama dan tidak mudah. Terpaksa kami berjauhan. Suamiku menjalankan tugas di Padaherang dan aku sendiri tetap mengajar di Panumbangan.
Walaupun rumah tangga kami berjauhan, kebutuhan kami tetap terjamin. Disamping gaji bulanan diberikan secara utuh. Sembako lainnya pun selalu dikirim. Biasanya aku dikirim dua karung beras dan dua blek minyak goreng yang dititipkan pada Bis Gunung Tua trayek Panjalu - Pangandaran.

Kurang lebih tiga tahun suamiku menjabat Komandan Sektor Kepolisian Padaherang dan aku pun kemudian melahirkan anak kelima, putri pertama. Ia sangat di sayang dan dimanja ayahnya. Maklum baru mempunyai anak perempuan. Semua keinginannya selalu dipenuhi suamiku. Namun kadang-kadang berkesan kelebihan. Sejak masih kecil sudah didandani perhiasan-perhiasan berharga. Mungkin suamiku berpikir bahwa keadaan ekonomi kami saat itu sudah mapan.

Kalau mendapat libur atau cuti kerja, aku biasa pergi ke Padaherang mengunjungi suamiku, sambil membawa putri  kesayangan ayahnya. Saat itu rumah tangga kami mengalami kebahagiaan terutama dari segi ekonomi. Aku sendiri diangkat menjadi Kepala Sekolah, sehingga pendapatan kami pun makin bertambah. Namun, ya.... namanya juga hidup. Perjalannya tidak selalu melawati jalan datar atau menurun, tapi juga harus siap mendaki tanjakan.
Begitu pun rumah tangga kami, ditengah-tengah kebahagiaan, kami harus melalui goncangan lagi yang pada ahirnya tergantung kita menyikapinya.

Gelagat tidak baik suami yang aku rasakan, sejak dua bulan terahir tidak pulang ke Panumbangan. Memang kiriman masih ada, tapi apalah artinya semua itu. Aku mempunyai firasat tidak baik, termasuk dirasakan oleh Ibuku. Beliau sering menanyakan kenapa suamiku tidak pulang-pulang. 

Pada bulan ketiga, menghadapi hari minggu dan kebetulan juga mendapat cuti, aku pergi menjenguk suamiku di Padaherang sambil membawa putri kami yang baru bisa berjalan. Tapi, ketika aku sampai di Padaherang, suamiku tidak ada ditempat. Menurut anggota polsek mengatakan bahwa suamiku sedang pulang ke Panumbangan.

Di Padaherang, suamiku menempati rumah kontrakan di Dusun Patinggen diseberang Mapolsek. Aku bermalam di rumah itu sambil menunggu suamiku pulang. 

Semalaman aku tidak bisa tidur. Kemudian aku membuka-buka laci meja tulis. Di dalam laci aku menemukan pistol suamiku yang ketinggalan. Dalam benakku aku berpikir, tentu suamiku tidak pergi jauh, apalagi pulang ke Panumbangan. Jika suamiku pulang ke Panumbangan tentu membawa senjata.

Kemudian aku sangat terkejut. Dibawah pistol di dalam laci, terselip sebuah amplop surat untuk suamiku. Surat tersebut dari seorang wanita, katakanlah ia bernama Kirana. Dulu suamiku pernah berkata, saat ia akan menikahiku sebenarnya mempunyai pacar yang ia putuskan. Wanita itu bekerja di Mapolres Ciamis dan ia adalah anak seorang Kepala Bagian di kantor itu.

Dalam suratnya, Kirana menulis bahwa dirinya belum menikah dan tetap akan menunggu suamiku, meskipun ia mengetahui suamiku telah berkeluarga.

Aku memaklumi kesetiaan Si Kirana. Menurutku, daripada suamiku memaksakan berumah tangga denganku, tapi berbagi hati dengan Si Kirana, lebih baik suamiku kembali kepada cinta lamanya, menikah dengan mantan pacarnya. Namun aku tidak mau dimadu. Menceraikan aku terlebih dulu, merupakan langkah yang lebih dulu harus suamiku lakukan.

Yang aku sesalkan sikap seorang Polwan bernama Kirana itu. Ia tahu suamiku sudah berumah tangga denganku dan mempunyai lima orang anak, tapi masih memaksakan untuk dinikahi. Artinya, dia sudah tidak memandangku, dan hal ini harus aku hadapi.

Semalaman aku menangis di rumah terpencil itu. Kemudian anak ku mendadak rewel dan terus-terusan menangis, sehingga aku mengeyongnya hingga menjelang subuh.

Katanya, kemarin suamiku datang di Panumbangan. Entah memang sejak semula berniat pulang ke Panumbangan atau ternyata ada disuatu tempat dan kemudian mendengar aku datang di Padaherang, lantas ia terpaksa pulang ke Panumbangan. Aku tidak peduli lagi tentang alibi yang ia ciptakan.

Katanya, ketika suamiku tiba di Panumbangan , ia merasa terkejut tidak menemukan aku dan putri kesayangannya. Hari itu juga suami ku pulang kembali ke Padaherang. Namun ketika menjelang magrib suamiku baru sampai Banjar. Ia tidak berani melanjutkan perjalanan karena rawan ancaman gerombolan DI/TII. Katanya, dia bermalam di rumah uwaknya di jalan Cimenyan. Menjelang subuh baru ia melanjutkan perjalanan dan sampai di Padaherang dini hari. Bla.... bla.... bla...., apapun sekenario yang di bangun oleh suamiku tidak lagi masuk di logika ku yang sedang emosi.

Suamiku masuk rumah tidak melalui pintu depan, tapi sambil mengendap-ngendap masuk lewat pintu dapur. Mungkin ia tahu kunci rahasia sehingga dengan mudah ia mesuk ke ruangan belakang.

Aku, yang sebelumnya telah mendengar kedatangan suami, langsung menghadangnya diambang pintu tengah rumah. Aku menodongkan pistol keatas pelipisnya. Padahal terlebih dulu, telah aku kosongkan pelurunya. Suamiku langsung berlutut hingga memeluk kakiku, seraya memohon maaf dan mengatakan akan memilih keluarga demi masa depan anak-anakku.

Aku tidak bisa banyak bicara lagi selain langsung berkemas dan pulang ke Panumbangan. Selama dalam perjalanan aku menahan tangis, merasa "diteungteuinganan" oleh penghianatan suami, manakala aku mulai berhasil menumpahkan seluruh jiwa raga pada suami.

Sesampainya di Panumbangan aku bergegas menuju rumah Ibu untuk menitipkan putriku, dan akupun langsung pergi lagi ke Ciamis untuk menghadap Kapolres.

Kepada Kapolres, aku mengadukan kejadian yang dilakukan suami ku bulan terakhir itu. Surat Si perempuan Kirana itu, aku perlihatkan kepada beliau. 
Akhirnya suamiku dipindahkan menjadi Kapolsek Panjalu dan si perempuan polwan itu, katanya ditarik ke Polda Jabar.

Suamiku bertugas di Panjalu hingga tahun 1965. Setelah itu ia di pindahkan lagi ke Komdis Panumbangan dan tidak beberapa lama kemudian diangkat menjadi Pejabat Kepala Desa Panumbangan sampai ahirnya, di tahun 1967 dipilih menjadi Kepala Desa difinitif hingga tahun 1980.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

VI. KENANGAN LAMA MUNCUL TENGGELAM

1. Rumah  Untuk Keluarga Baru Setelah aku menikah dengan seorang polisi, kami menempati sebuah rumah pinggir jalan sebelah Barat rumah Ibu H...