II. KELANA MENITI CITA-CITA

Kak Ami Yatmikasari kakak ku, setelah lulus dari pendidikan guru Van Deventer Bandung kemudian diangkat menjadi guru di Sekolah Putri Meijses Vervolig (MVS) di Leles Garut. Aku dan adikku Umbara dan Saffa ikut tinggal bersama kami. Aku dan adiku Saffa masuk ke Sekolah MVS, serta beruntung aku dapat menyelesaikan pendidikan selama enam tahun, sedangkan Saffa kandas ditengah jalan. Umbara masuk sekolah HIS Leles, namun kemudian pindah ke HIS Ciawi Tasikmalaya.
Kedua adikku itu pulang ke Panumbangan karena tidak kerasan tinggal di Leles. Hal yang menyebabkan mereka tidak betah, karena tidak tahan dengan aturan tatakrama feodal yang diterapkan kakak ipar di rumah. Sebenarnya, aku sendiri menguatkan hati bertahan karena harapanku adalah melanjutkan sekolah. Disamping itu, aku ingin mengambil hikmah untuk bekalku kelak.
Kak Ami dan guru-guru lainnya mengontrak dibeberapa rumah saling berdekatan, mendekati Sekolah MVS yang letaknya bersebrangan dengan pendopo Kewadanan. Teman Guru kakak ku juga membawa adik atau saudaranya, sehingga aku mendapat teman sepermainan dan merasa terhibur.
2. Teman Tapi Mesra.
Ketika aku duduk di kelas enam MVS, aku mendapatkan seorang teman pria. Ia murid kelas tujuh HIS dan kakaknya adalah seorang guru yang sama-sama mengajar di MVS bersama kakak ku. Nama teman pria itu adalah Aria Dilaga. Ia asli orang Cangkuang.
Katakanlah ia sebagai sahabat dekat yang selalu menyertaiku. Pada saat itu aku belum mengerti apakah persahabatan kami itu merupakan cinta atau bukan, yang pasti kami saling memperhatikan dan ada rasa kehilangan jika tidak saling berjumpa. Jika liburan sekolah, kami sering bersama-sama piknik. Situ Cangkuang adalah tempat pavorit yang sering kami kunjungi.
Disana kami saling bercerita tentang diri masing-masing. Kami tertawa bersama sambil berlari kejar-kejaran dipinggiran Situ.
Kedua orang tuanya dan saudaranya yang teman guru kakakku itu pun mengetahui persahabatan kami. Malah pernah datang kepada kakakku untuk menjodohkan kami dikelak kemudian hari, karena untuk perjodohan dalam waktu dekat, mereka tahu kalau tekad ku untuk meneruskan sekolah sangat besar.
3. Juragan Wedana Ternyata Familiku
Rumah kontrakan yang kami tempati berada di jantung kota Kewadanan Leles. Ruangan Pendopo Kewadanan terlihat jelas dari rumahku yang letaknya diseberang jalan.
Pada saat itu Mang menjadi juragan Wedana Leles adalah Rd. Pater Dendakoesoemah yang menurut cerita beliau berasal dari Ciamis serta masih ada kaitan famili dengan kami. Katanya beliau masih saudara Eyang Rd.Widayaningsih yang menikah dengan kakekku Mas Murdagiri.
Pada zaman itu feodalisme sangat kental. Juragan Wedana dan keluarganya mempunyai kedudukan istimewa dibandingkan rakyat biasa seperti kami.
Status mereka disamakan dengan bangsa Eropa lainnya.
Walaupun juragan wedana mengakui masih ada hubungan keluarga dengan kami, tapi kami tetap tahu diri dan menjaga jarak. Hal tersebut kami lakukan untuk menjaga martabat juragan wedana sendiri, juga karena merasakan sikap isteri juragan wedana dan anak-anaknya yang semuanya bersekolah di Sekolah bangsa Eropa (Europische School), menunjukkan sikap yang kurang senang kepada kami.
Gaya hidup mereka berlainan dengan gaya hidup kami sebagai rakyat pada umumnya.
Ketentuan kolonial saat itu membagi tiga golongan penduduk, yaitu golongan Eropa, Timur Asing dan Bumi Putera. Golongan Bumi Putera atau pribumi ada yang disamakan dengan golongan Eropa atau Timur Asing yaitu para bangsawan seperti mereka. Secara hukum mereka diberikan hak previlage, yaitu hak diistimewakan atau diutamakan dari pada penduduk pribumi lainnya.
Kehidupan sehari-hari dirumah, mereka seperti orang-orang Belanda pada umumnya. Tatacara dan berbahasa sehari-hari pun menggunakan bahasa Belanda. Pergaulan mereka dibatasi dalam status lingkungan dan derajat yang setara.
Kalau kami kebetulan disuruh juragan wedana berkunjung ke kewadanan tidak dapat berlaku sembarangan, tapi harus mengikuti tatakrama. Berjalanpun harus “ngesor” mulai dari ambang pintu Pendopo Kewadanan. Dalam hal itu, tidak pernah sekalipun isteri juragan wedana atau anaknya menemui kami, kecuali juragan wedana sendiri yang menghampiri kami dan menanyakan keadaan kami semua. Terutama juragan wedana sering menanyakan keadaan keluarga di Panumbangan.
4. Perkawinan Kakak ku
Pada tahun 1937, Kak Ami menikah dengan seseorang keturunan "menak kuningan" bernama Rd.A.Adimiharja. Aku menggunakan sapaan untuk beliau dengan panggilan "Kak Adi", namun keluargaku menggunakan panggilan "Den Adi". Den adalah panggilan pendek dari kata raden sebagai gelar keluarga bangsawan. Panggilan itu dilakukan oleh keluargaku kepada Kak Adi, karena keluargaku mengetahui bahwa Kak Adi terah menak dan sepertinya beliau sendiri memegang teguh keterahan tersebut.
Pada suatu waktu aku mendapat liburan sekolah, kakak ku mengajak berlibur di Panumbangan. Aku gembira mendengar ajakan kakak ku itu, karena aku dapat melepas kangen kepada saudaraku dan orang tuaku.
Bagi Kak Ami seperti ada sesuatu yang menarik dirinya untuk berlibur di Panumbangan. Selain beliau ingin melepas kangen kepada keluarga, Kak Ami seperti dituntun oleh garis takdir untuk bertemu dengan seorang pria yang kelak menjadi suaminya.
Ternyata dalam waktu bersamaan Kak Adi sedang berada di Panumbangan. Beliau sedang berlibur dengan teman Sekolahnya, yaitu putra Juragan Wedana Panumbangan.
Rumah kami di Panumbangan tidak jauh dari Pendopo Kewadanan. Jaraknya kurang dari seratus meter saja, tapi terhalang oleh beberapa rumah. Tidak seperti rumah di Leles, kami dapat melihat langsung keadaan di Pendopo Kewadanan.
Pada sore hari, ketika kaula muda hendak mandi di Pancuran Cimalandang, sepertinya kakak ku bertemu dengan Kak Adi yang pergi mandi juga bersama temannya itu. Mereka kemudian saling berkenalan, seterusnya mungkin saling jatuh hati, karena selanjutnya Kak Adi menjadi sering berkunjung ke rumah Ibu Haji di Panumbangan.
Meskipun aku tidak mengetahui pasti awal pertemuan Kakak ku dengan Kak Adi itu. Tapi pengakuan Kak Ami tentang pertemuan pertamanya di Cimalandang tak urung mengusik pertanyaan ku dalam hati, apakah memang mereka pertama kali bertemu di Cimalandang ataukah sebelumnya telah bertemu dan saling mengenal diluar Panumbangan serta kemudian janjian bertemu saat liburan.
Sebelumnya, kakak ku tidak pernah mencurahkan perasaanya kepadaku karena beliau orangnya pendiam.
Kepribadian Kak Adi yang kental feodalis dan telah diwarnai pendidikan Barat, kelihatannya kurang mengena di hati Ibu Haji yang menganggap Kak Adi angkuh. Padahal yang aku tahu, sebenarnya Kak Adi orangnya baik dan perhatian. Hanya mungkin lingkungannya mempengaruhi sikap dan prilaku beliau yang berbeda dengan lingkungan umumnya masyarakat yang dialami Ibu Haji. Buktinya, kakak ku sendiri sudah merasakan lebih jauh dari yang dirasakan Ibu Haji. Ternyata selang beberapa tahun kemudian, Kak Ami menerima Kak Adi sebagai suami.
Setelah menikah dengan Kak Adi, kakak ku pindah mengajar ke Garut dan akupun ikut pindah kesana, kecuali adik-adiku, Umbara dan Saffa kembali ke Panumbangan mengikuti Ibu Haji.
5. Ada Udang di Balik Batu
Kak Adi mempunyai adik laki-laki, yang biasa aku panggil Kak Barnas. Ia Sekolah di Schekel School Leles, yang kebetulan letaknya berdekatan dengan Sekolahku.
Sebenarnya, perasaanku pada beliau seperti kepada kakak kandungku sendiri. Aku merasa mendapat pengganti kasih sayang yang pernah aku dapatkan dari Kang Purwa, kakak kandung yang saat itu berjauhan.
Jika liburan tiba, aku sering diajak pergi berwisata oleh Kak Barnas, sampai ahirnya kami berpisah karena beliau meneruskan Sekolah di "Cultuur School" Malang. Tapi kemudian, ketika aku melanjutkan sekolah di Jogyakarta, kami sering bertemu dan sering bersama-sama dalam perjalanan naik kereta api kalau pulang dari Jogyakarta ke Garut atau pergi dari Garut ke Jogyakarta.
Aku tidak menyadari, kalau ternyata Kak Adi iparku dan Kak Ami kakaku, sudah mempunyai rencana tertentu untuk menyatukan kami. Menyatukan aku dengan Kak Barnas.
Sayangnya aku sendiri terlanjur menganggap Kak Barnas sebagai kakak kandungku, disamping waktu itu aku belum selesai sekolah.
Alasan kedua aku, sebenarnya tidak masuk akal, sebab kelulusanku tinggal enam bulan lagi dan seandainya aku menjawab iyapun, bukan berarti harus segera menikah. Waktu enam bulan bukan waktu lama untuk Kak Barnas menunggu. Tapi, sebenarnya aku mempunyai pertimbangan lain yang sulit diucapkan dihadapan kakak ku yang belum kubalas budinya dan dihadapan Kak Barnas yang sudah kuanggap sebagai kakak kandungku yang harus kujaga perasaannya.
Sebenarnya aku dicekam kehawatiran jika aku menikah dengan Kak Barnas yang adiknya kakak iparku dan adik iparnya kakakku. Aku khawatir jika dua wanita kakak beradik mempunyai suami kakak beradik, maka jika ada masalah disalah satu pihak akan besar pengaruhnya kepada pihak lainnya.
Karena rasa hormatku kepada Kak Barnas serta budi belum terbalas kepada Kak Ami dan Kak Adi, membuat aku memberikan jawaban dengan diam, sambil merunduk dan meneteskan air mata.
Sebagai orang terpelajar, baik Kak Barnas maupun kakak ku, sepertinya menyelami perasaanku ketika aku ditanya tidak memberikan jawaban apa-apa. Mereka mengerti bahwa di hatiku ada sesuatu yang membuat aku sulit mengambil keputusan dan mereka pun tidak memaksakan kehendak. Selanjutnya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
6. Kakak Aku Inspirasiku
Ketika kakak aku menjadi Kepala MVS di Leles, aku juga ikut pindah termasuk adik-adik ku Umbara dan Saffa. Dengan tatacara feodal yang diterapkan kakak ipar di rumah, serta sikap keras dan tegas dalam menegakan peraturan, sepertinya bagi adik-adikku yang masih kecil merupakan tekanan mental yang berat, sehingga mereka merasa tidak kuat dan tidak kerasan lagi tinggal bersama kami. Ahirnya mereka pulang ke Panumbangan. Adik ku Umbara meneruskan Sekolah di HIS Ciawi, namun Saffa sendiri kandas diawal perjalanan.
Untuk ukuran saat itu, gaji guru yang diterima Kak Ami terhitung besar. Beliau menerima gaji 27 gulden setiap bulannya. Kehidupan kakak ku nampak sejahtera, karena disamping pendapatan sendiri dari guru, gaji suaminya pun besar. Harus aku akui, selama aku sekolah di MVS dan biaya hidupku, ditangani beliau. Namun untuk tidak selalu merepotkan beliau, ketika aku masuk ke Van deventer School, terpaksa kami menjual tanah peninggal ayah.
Bagi aku sendiri, tetap akan bertahan menghadapi berbagai tekanan dan penderitaan. Aku bertekad keras untuk dapat melanjutkan sekolah. Aku ingin masuk Sekolah Guru Putri Van Deventer seperti kakak ku.
Tekad ku mendapat dukungan dari kakak dan kakak iparku. Beliau menasehati ku agar aku tabah dan sabar memperjuangkan cita-cita ku. Karena beliau menyadari bahwa tantangan paling berat dalam menggapai cita-citaku adalah faham orang tuaku yang masih ortodok. Orang tuaku masih berpandangan bahwa wanita tidak perlu sekolah, karena ahirnya juga ada didapur. Wanita itu adalah pengabdi pada suami, asal pandai ngulek sambal dan menanak nasi, sudah cukup, tidak perlu sekolah tinggi-tinggi yang menghabiskan biaya besar.
Tapi pandanganku berbeda, meskipun kodrat wanita harus bersuami dan berumah tangga, jika seorang istri berisi ilmu, akan mampu meningkatkan mutu rumah tangganya kemudian.
Dalam hal demikian, aku siap dicap pembangkang kepada orang tua, dan siap juga menerima resiko penghentian biaya. Tekad ku sekolah telah sekeras baja. Dan Kakak ku, adalah sumber inspirasiku.
7. Menapaki Cita-Cita di Van Deventer School.
Pada awal mengikuti seleksi masuk Van Deventer School, aku sempat ragu dapat diterima, sebab Sekolah tersebut merupakan sekolah pavorit di Hindia Belanda saat itu. Disamping ada jaminan langsung diangkat sebagai pegawai negeri, biaya pendidikan pun ditanggung oleh Yayasan Van Deventer. Mungkin istilah yang digunakan sekarang adalah beasiwa.
Oleh sebab itu, pelaksanaan seleksi sangat ketat. Siswa yang dibutuhkan tiap angkatan hanya tiga puluh orang, sedangkan peserta seleksi dari seluruh wilayah jajahan Hindia Belanada, jumlahnya hampir mencapai seribu orang.
Rasa fasimis makin besar setelah menyadari bahwa hanya golongan pribumi tertentu yang diutamakan mendapat tiket, sedangkan golongan pribumi kebanyakan seperti aku, jelas tidak diperhitungkan. Bisa dilayani waktu mendaftar pun karena ada Kak Adi yang fasih Bahasa Belanda sambil membawa verklaaring dari Juragan Wedana Rd. Dendakusumah. Selebihnya, hanya doa ibu yang menjerit di Panumbangan memohon kepada Al-Kholiq untuk kesuksesan anaknya.
Seleksi dilaksanakan tiga tahap dan tiap tahapan diumumkan dengan sistim gugur. Pada saat pengumuman kelulusan tahap pertama, jantungku berdetak keras, karena peserta seleksi tinggal bersisa tiga ratus orang dan aku termasuk di dalamnya. Begitupun saat tahapan kedua, peserta bersisa seratus orang, aku juga masih termasuk didalamnya.
Lebih mendebarkan waktu pengumuman terakhir, semalaman aku kurang tidur, karena selepas tahajud aku terus bermunajat sampai shalat Subuh. Ibuku di Panumbangan katanya melakukan hal yang sama. Malah menurutnya, beliau memohon sambil bersujud mencucurkan air mata, hingga sajadah basah dibuatnya.
"Innamaa Amruhu idzaa araada syaian an Yaquu lalahuu Kun Fayakuun"
Alhamdulillah, dari hasil seleksi terakhir, aku termasuk tiga puluh orang yang diterima.
Inilah langkah awal meniti cita-citaku, setapak telah mampu kujalani.
8. Mengenal Sekolahku
Saat mulai masuk Sekolah Guru Putri Van Deventer (VDS) di Bandung, aku diantar oleh kakak iparku. Dulu, Sekolah itu terletak di Jalan Cibunut.
Van Deventer School didirikan sebagai akibat Politik Etiek yang digagas kalangan intelektual Belanda di Nederland yang menghendaki diberikan balas budi kepada bangsa pribumi (inlander) yang menderita oleh penerapan Cultuur Stelsel yang mendatangkan keuntungan berlimpah bagi Nederland. Balas budi tersebut, diantaranya memberikan pendidikan yang layak kepada pribumi.
Dalam rangka mencetak tenaga guru, Van Deventer School didirikan.
Berdirinya Sekolah Guru Putri tersebut berkat jasa seorang bangsa Belanda yang peduli pada peningkatan pendidikan bangsa terjajah. Ia adalah Nyonya Van Deventer, dan nama sekolah itu diambil dari nama pendirinya.
Peraturan di sekolah sangat ketat, serta segala sesuatu harus di lakukan secara disiplin berdasarkan aturan yang telah ditetapkan sebagai "internat".
Disiplin ketat yang ditetapkan di sekolah, bagiku tidak menjadi beban berat, sebab selama di rumah pun terbiasa menjalankan aturan yang ditetapkan kakak ipar.
Inilah, barangkali hikmah yang dapat aku petik dari rangkaian perjalanan hidup yang aku alami. Ternyata Allah Subhanahu Wata'ala telah terlebih dulu mempersiapkan diriku sebelum diterima di VDS.
Kalau aku tidak tahan menghadapi ketatnya tatakrama di rumah seperti keadaan adik-adikku, tentu aku tidak akan kuat menghadapi disiplin ala Belanda yang aku alami di sekolah, sehingga ahirnya aku gagal meraih cita-cita.
Awal masuk sekolah, aku sudah merasa senang. Kami bisa berkenalan dengan siswa yang datang dari berbagai daerah luar Jawa, seperti Ambon, Kalimantan dan Sumatera.
8. Fasilitas Sekolahku
Mengikuti di Sekolah Van Deventer segalanya terjamin. Pemenuhan gizi makanan siswa sangat di perhatikan. Pagi-pagi para siswa sudah diberi roti isi daging cincang dan telur rebus. Padahal menurut ukuran kehidupan umumnya orang pribumi saat itu, makanan semacam itu, nyaris tidak pernah ditemukan.
Saat istirahat pertama sudah diberi lagi roti keju dan segelas susu murni. Semua makanan yang dihidangkan harus dimakan, tidak ada alasan tidak suka. Jika tidak dimakan akan kena hukuman.
Apabila ada kegiatan olah raga, makanan ditambah lagi dengan bubur kacang ijo.
Sekitar jam 13.00 kami harus sudah makan siang. Cara duduk, cara makan dan setiap gerakan siswa diawasi ketat oleh Mevrouw De Loof.
Menu makanan berganti setiap hari sesuai daftar yang disusun untuk satu minggu.
Jam 14.00 kami harus sudah tidur siang. Dalam hal ini, kami harus benar-benar istirahat dan tidur. Dalam jadwal istirahat seperti ini, para siswa tidak diperkenankan keluyuran di luar kamar. Di dalam kamar pun kami harus kelihatan berbaring ditempat tidur. Semua gerak-gerik kami diawasi oleh "huishouddme".
Jika keluarga menjenguk dan membawa oleh-oleh makanan, maka makanan tidak boleh disimpan di asrama, karena setiap saat, tempat tidur kami dirazia. Apabila pengawas menemukan makanan di ruang tidur, hukumannya berat. Makanan harus disimpan di lemari khusus (loker) yang berada di ruang makan, dan hanya boleh diambil pada jadwal istirahat dan dimakan di tempat itu.
Nilai yang ingin terapkan oleh bangsa Belanda kepada Sisa-siswa calon guru, agar mereka tidak "Capék-rahém" disembarang tempat dan sembarang waktu.
Kebiasaan tersebut, akan mempengaruhi juga kebersihan lingkungan sekolah. Di lingkungan VDS tidak akan ditemukan serakkan sampah bekas kemasan makanan. Oleh karena itu, tidak heran jika nun disana di negara Belanda, katanya merupakan negara terberesih se dunia.
Asrama di VDS terdiri tiga bangsal dengan ruangan besar-besar. Aku mendapat tempat di Bangsal dua dibawah pengawasan Mevrouw Essinger. Bangsal tiga dibawah pengawasan Ibu Rumsari orang Bandung. Sedangkan bangsal satu dibawah pengawasan Mevrouw De Loof.
Bangsal satu merupakan asrama yang paling ditakuti para siswa, karena pengawasnya Mevrouw De Loof terkenal keras dan kejam. Bangsal satu merupakan tempat pembuangan siswa hukuman atau siswa bandel yang dipindahkan dari bangsal lain. Perawakan badan Mevrouw De Loof, tinggi, besar dan gemuk seperti raksasa, sehingga kami memberi julukan "Si Denawa". Selain Si Denawa sebagai kepala bangsal tiga, ia juga menjadi pengawas dapur dan ruang makan.
9. Wisata dan Liburan Sekolah
Setiap hari minggu, semua siswa pergi jalan-jalan mengelilingi kota Bandung dipimpin Mevrouw Essinger. Kami mengunjungi Savoy Homman, Concordia, Braga serta ke Dago. Semua dilakukan dengan jalan kaki untuk refreshing sekaligus olah raga.
Dulu, kota Bandung udaranya segar tidak seperti sekarang pengap oleh polusi asap knalpot.
Selama perjalanan, para siswa dilarang jajan, sebab semua perbekalan sudah disiapkan yang di bawa dalam kendaraan khusus. Semuanya gratis, para siswa tinggal menikmatinya.
Satu tahun dua kali, kami diberi kesempatan libur pulang kampung. Dalam liburan ini, para siswa boleh dijemput oleh keluarga. Malah kakak kelas banyak yang pulang kampung dijemput pacarnya.
Aku memilih pulang kampung rame-rame bersama teman sekolah dari daerah yang sama. Rasanya lebih menikmati kebebasan selama perjalanan. Kami bisa tertawa lepas bersama dan bernyanyi bersama dalam kendaraan. Mungkin pilihan yang aku tempuh untuk pulang kampung rame-rame itu, karena keadaan aku tidak ada keluarga yang menjemput, apalagi jemputan dari pacar. Jika keadaanku berbeda, maka pilihanku pun akan berbeda.
Di saat liburan itulah, kami merasa terbebas dari segala kekangan yang selama ini membelenggu di sekolah. Dalam perjalanan, kebahagiaan kami terlepas sepuas-puasnya. Kami bisa jajan seenaknya tanpa merasa takut mendapat hukuman dari Sang Mevrouw Pengawas.
Setelah liburan berakhir, kami kembali ke Asrama sambil membawa oleh-oleh khas daerah masing-masing dan kami biasa saling bertukar oleh-oleh dengan teman lainnya. Sehubungan aku pulang kampung ke Garut, maka oleh-oleh yang aku bawa adalah "dodol garut".
Lucunya, teman-temanku banyak yang berasal dari Garut, sehingga oleh-oleh yang di bawa pun banyak jenis yang sama. Akibatnya barter menjadi batal, karena pertukaran hanya berlaku untuk jenis yang beda.
Ada satu jenis makanan yang tidak pernah lupa aku bawa, yaitu kacang goreng. Makanan itu, selain awet dan tahan lama, juga bisa diselipkan di dalam tas buku untuk dibawa ke ruang kelas. Jika pelajaran sedang berlangsung di dalam kelas, aku sering sembunyi-sembunyi mengemil kacang goreng. Tentu saja perbuatan ku semacam itu sangat dilarang dan kalau ketahuan bisa mendapat hukuman berat.
Dari segi etika, sebenarnya orang Belanda ingin menerapkan tatakrama mereka kepada orang pribumi. Mereka, sedemikian rupa memaksakan prilaku mereka sendiri menjadi prilaku pribumi, padahal tidak seluruhnya positif. Sebagaimanapun bangganya mereka kepada kebudayaan mereka paling beradab, tetap memuat unsur kelemahan dan efek nigatif jiga dilakukan bangsa pribumi. Bagaimanapun direndahkan dan dilemahkan kebudayaan pribumi yang mereka anggap tidak beradab, tetap mempunyai unsur kebaikan yang tidak dipunyai oleh mereka.
Rasa kebersamaan dan gotong-royong orang pribumi yang mendarah daging, lebih bernilai dalam kehidupan masyarakat dari pada nilai individualis penuh konkurensi yang selama ini menjadi tabiat mereka.
Mereka lupa, sebenarnya orang pribumi mempunyai tatakrama sendiri yang bersumber dari suatu peradaban yang lebih maju dari pada leluhur mereka. Orang pribumi bukan berasal dari barbarian yang mereka sangka tidak beradab. Orang pribumi telah mempunyai nilai hidup sejak lama, sehingga mereka bisa bertahan dan melangsungkan kehidupan ribuan taun. Tanpa kehadiran bangsa oranye, orang pribumi sedang baik-baik saja. Mungkin jauh lebih baik jika tidak datang mereka.
Orang Belanda menganggap , kebiasaan mereka dengan "Groeten" (Ucapan Selamat) adalah nilai keunggulan dalam komunikasi untuk menjaga relasisasi, sehingga pengucapan "Smakelijke Eten" atau "Welte Ruste" wajib dilakukan kepada orang yang akan makan dan akan tidur. Jika tidak, maka dia akan distraaft.
Orang Belanda lupa bahwa orang pribumi juga mempunyai kebiasaan yang sama walaupun dengan pengucapan berbeda. Di suku sunda seperti aku, dikenal dengan adanya "kawilujengan".
Aku berani bertaruh. Jika seorang siswa Van Deventer mengucapkan "Wiujeng Tuang" saat akan makan, bisa dipastikan ia tetap mendapat hukuman karena dianggap tidak Groeten. Padahal maknanya sama dengan smakelijke eten.
Jadi sebenarnya siapa sich yang keliru.
10. Hukuman Kalana Menerima Surat Cinta
Jadwal kunjungan ditentukan pada hari Minggu jam 08.oo sampai dengan jam11.3o. Tamu yang akan bezoek harus diacatat dulu dalam daftar dengan mencantumkan siapa yang dikunjungi, apa hubungannya dan apa tujuannya. Kalau yang berkunjung mempunyai hubungan keluarga, oleh pihak sekolah tidak dipersulit. Tapi kalau tamu itu teman apalagi pacar, pihak sekolah akan mempersulit atau menolaknya. Sekolah tidak memperbolehkan siswa menerima pacar sebagai tamunya walaupun dalam jadwal bezoek.
Namun para siswa terutama kakak-kakak kelas yang usianya sudah dewasa sering mengakali dengan mengaku sebagai saudara jika pacarnya melakukan kunjungan.
Untuk menerima tamu disediakan ruangan khusus tempat menerima kunjungan. Biasanya, setelah tamu dicatat dalam daftar, siswa yang berada di bangsal asrama dipanggil dan diberi tahu bahwa di ruang kunjungan sudah menunggu tamu.
Selama pendidikan di sekolah itu, aku tidak pernah menerima kunjungan selain keluarga. Jangankan menerima kunjungan terlarang dari Sang pacar, mendapat kunjungang dari bekas teman di Garut pun tidak pernah. Lagi pula, saat itu aku belum punya pacar.
Sebenarnya, dalam kekangan aturan sekolah yang ketat yang aku alami, mendapat kunjungan dari keluarga pun sudah menjadi obat penawar. Selain itu, untuk memikirkan pacaran belum tumbuh di hatiku. Bukan benihnya tidak ada, tapi tanah di hatiku masih perlu penggarapan lebih lanjut. Saat itu aku baru kelas satu. Umur dan pengalaman belum cukup untuk pengembaraan.
Aku pernah kena hukuman tidak boleh menerima kunjungan keluarga selama satu minggu. Hukuman itu dirasakan sangat berat bagi ku, karena satu-satunya obat penawar kangen adalah keluarga. Juga hukuman yang ditimpakan kepadaku bukan karena kesalahanku. Aku mendapat hukuman karena kesalahan yang tidak aku lakukan. Akibat perbuatan orang lain yang tidak aku ketahui, malah tidak aku harapkan.
Seorang sahabat yang aku pernah dekat waktu Sekolah MVS di Leles Garut, yaitu Aria Dilaga mengirim surat kepadaku melalui sekolah. Isinya agak romantis, tapi pastinya aku juga tidak mengetahui karena waktu itu, aku tidak membacanya.
Surat tersebut diterima oleh Ibu direktris Van Deventer, Mevrouw Ulyee. Aku dipanggil dan diintrograsi. Awalnya aku hanya bengong karena tidak tahu apa yang terjadi. Setelah Ibu direktris mengatakan ada surat dari seorang pria bernama Aria Dilaga, aku jadi faham dan kemudian membela diri dihadapan beliau bahwa hal itu tidak aku harapkan dan tidak aku ketahui.
Sambil tersenyum agak sinis, Mevrouw Ulyee memberikan pilihan kepadaku, yaitu tidak mendapatkan hukuman tapi surat tidak diterima, atau menerima surat tapi mendapatkan hukuman.
Pertimbanganku waktu itu, adalah kekhawatiran di dalam surat ada suatu informasi penting selain Cinta yang ingin dia sampaikan, tapi aku harus menebusnya dengan pengorbanan ku sendiri yaitu Asuatu hukuman sekolah. Waktu itu aku berfikir bahwa menjalankan hukuman sekolah bukan berarti mengahiri cita-citaku. Kesalahan itu tidak layak aku di dropout dari sekolah. Ahirnya aku memutuskan untuk menjalani hukuman. Ibu direktris malah tertawa sambil menggeleng-geleng kepala. Gestur Mevrouw Ulyee yang tidak ku ketahui sampai sekarang.
Hukuman yang aku terima adalah harus diam ditangga teras rumah Mevrouw Ulyee sampai jadwal makan dan menuliskan kalimat 100 baris dengan tulisan rapih dan tebal tipis, berbunyi : " Ik mag niet stout bent".
Aria adalah sahabat ku yang dulu sering bermain bersama di Situ Cangkuang Leles. Menurutnya ia telah bekerja di Pontianak pada Dinas Pemetaan (Topografdienst) dan mengirim alamat lengkap kepadaku. Untung aku bersedia berkorban demi informasi berharga ini.
Sebenarnya aku nyaris lupa kepadanya, tapi bukan berarti aku melupakan kenangan bersamanya. Mungkin saja kenangan manis yang pernah kami ukir bersama dulu, tidak lebih besar dari hasratku menggapai cita-cita. Sehingga keberadaan dia tertutup ambisiku.
Saat ini sepertinya aku membutuhkan dia, setidak-tidaknya oleh kehadiran tulisannya sebagai cermin perasaanya. Selain itu aku membutuhkan pengakuan dihadapan teman-temanku. Ketiadaan kunjungan pacar, bukan berarti aku jomlo dan tidak laku, tapi ada seorang ambtenaar yang menunggu di kejauhan.
Puluhan tahun kemudian, anak ku tertawa terkekeh-kekeh ketika aku bercerita kepadanya. Katanya aku melakukan "Cinta berjarak" atau "Long distance" seperti anak muda saat ini media sosial.
Surat Cinta pembawa petaka yang Ia kirim ke sekolah ku, tak urung aku balas. Aku tulis bahwa aku kena hukuman gara-gara surat yang dikirim ke alamat sekolah. Selanjutnya aku sarankan, jika akan mengirim surat lagi agar diujukan ke alamat rumah keluarga temanku yang ada di Bandung. Nantinya, kalau keluarga temanku mengadakan kunjungan, surat akan akan sampai ke tanganku.
Surat balasan dari ku dititipkan kepada tukang kebun sekolah yang tiap hari pulang kerumahnya. Kepada Tukang Kebun aku pesankan agar memasukan amplop suratku kedalam Kotak Pos yang berada persimpangan jalan, karena aku sendiri tidak bisa keluar dari lingkungan sekolah.
Selanjutnya, surat-menyurat antara aku dan sahabatku di Kalimantan berjalan lancar. Aku menerima surat darinya melalui keluarga temanku yang tinggal di jalan Melong dan aku membalas suratnya melalui tukang kebun, walaupun gerakanku harus hati-hati dan sembunyi-sembunyi dari penglihatan pengawas.
11. Masa Akhir Van Deventer School
.
Setelah aku naik kekelas dua Van Deventer, situasi keamanan di Hindia Belanda sangat genting. Jepang memenangkan Perang Asia Timur Raya mengalahkan Sekutu, yang salah satu anggotanya adalah Belanda. Hindia Belanda yang berada dalam kekuasaan Belanda harus diserahkan kepada Jepang.
Suara sirine meraung-raung hampir tiap hari menandakan bahaya peperangan akan terjadi. Ledakan Bom menggelegar pun menjadi warna keadaan saat itu. Hubungan surat-menyurat dengan sahabatku di Pontianak dengan sendirinya terputus.
Sejak saat itu dan seterusnya, sampai sekarang aku tidak pernah lagi mendengar kabar tentang dia.
Pergerakan kemerdekaan dan pergolakan politik yang tidak menentu dalam waktu cukup lama membuat kami, Aku dan Ateng Suriatmadja mengayunkan langkah kehidupan sendiri-sendiri.
Makin hari situasi keamanan makin genting. Sirine tanda bahaya makin kerap terdengar. Tempat persembunyian bawah tanah dari serangan udara, telah disiapkan sebelumnya oleh pihak sekolah.
Shnikelder atau bunkker yaitu suatu ruangan bawah tanah yang diatasnya di timbun tanah menggunung serta ditamani rumput dan pepohonan perdu agar tidak kelihatan, merupakan fasilitas wajib yang harus disediakan bangunan umum.
Shnilkelder adalah merupakan fasilitas bangunan umum yang harus ada. Begitu detail perhitungan orang Belanda dalam perencanaan bangunan umum. Memperhitungkan bangunan sekolah sebagai fasilitas yang digunakan oleh dan menampung banyak orang, serta menyadari keadaan saat itu dalam situasi perang yang rawan serangan udara, maka pembuatan bunker merupakan fasilitas yang diutamakan dalam membuat perencanaan.
Menurut perhitungan mereka, jika tiba-tiba terjadi serangan udara, para siswa tidak panik lagi mencari tempat persembunyian. Semua siswa tinggal masuk kedalam bunkker. Semua langkah sudah direncanakan dalam protokol penanggulangan bahaya serangan udara.
Lain lagi dengan perencanaan bangunan umum yang dibuat bangsa sendiri, pada umumnya bangunan sekolah didirikan asal-asalan. Tidak dipikirkan membuat fasilitas keselamatan siswa. Malah tidak ditentukan suatu sisitm protokol keselamatanan, harus bagaimana dan harus kemana melangkah menyelamatkan diri jika terjadi serangan udara. Murid juga termasuk guru malah panik tidak tahu kemana harus bersembunyi. Ahirnya orang-orang bertebaran lari kesegala arah dan korbanpun banyak berjatuhan.
Hal semacam itu, sebenarnya pernah ku alami setelah menjadi guru beberapa tahun kemudian. Kira-kira sekitar tahun 1947 an, Sekolah Rakyat Panumbangan I di bom oleh Belanda ketika sedang kegiatan belajar-mengajar, murid-murid berhamburan lari tak tentu arah karena panik, bagaikan kelelawar yang terbang berhamburan karena ketakutan. Ada sekelompok murid yang bersembunyi didekat "paimbaran" mesjid agung yang letaknya disebelah sekolah dan disana bom itu meledak dahsyat. Korban berjatuhan tidak dapat dielakan lagi.
Kembali ke keadaan di sekolah pada awal pendudukan Jepang. Sehubungan makin kerapnya serangan udara, seluruh siswa VDS diperintahkan siaga setiap saat. Para siswa yang biasanya diwajibkan memakai piyama saat tidur, kali ini diharuskan memakai pakaian lengkap termasuk sepatu harus dipasang. Setiap siswa dipasang kalung identitas dan dibagi karet gigi.
Suara sirine terus menerus berbunyi siang malam. Akhirnya pihak sekolah memutuskan untuk memulangkan seluruh siswa kepada keluarganya. Namun, belum juga rencana dilaksanakan, pesawat terbang Jepang terdengar menderu mengelilingi Kota Bandung.
Para siswa bergegas meninggalkan sekolah hingga tidak sempat lagi membawa pakaian yang masih tersimpan di asrama.
Tidak berapa lama setelah kami meninggalkan sekolah, kota Bandung dibombardir oleh Angkatan Udara Jepang, termasuk Sekolahku.
Kemudian terdengar Berita bahwa Sekolah kami di jadikan Markas Tentara Jepang. Guru-guru kami dan seluruh pegawai Sekolah Van Deventer orang Belanda di tahan dan di interneer.
Yang tidak aku mengerti, teman sekolah yang berasal dari Sumatera yang biasa aku panggil Cinot atau Cindi Nasution. Pada saat meninggalkan Sekolah ia masih bersamaku, namun kemudian bom jatuh dan meledak tidak jauh dari kami berjalan. Aku meloncat kedalam got, tapi Cindi masih termangu dipinggir jalan. Kemudian aku segera bangkit dan lari meninggalkan tempat itu.
Sejak saat itu aku tidak melihat dia lagi dan tidak mendengar beritanya. Malah pada saat seluruh eks siswa Van Deventer diseru mendaftar ulang dan melanjutkan sekolah di Jogyakarta, Si Cinot pun tidak aku temukan.
12. Minggat Dari Rumah Dipaksa Nikah.
Arah pelarianku dari kota bandung adalah rumah kakak ku di Garut. Entah numpang kendaraan truk milik siapa waktu itu, karena gelombang pengungsi dari kota bandung ke luar kota berbondong sangat panjang. Pemilik truk kelihatannya orang Balanda dari sebuah perkebunan, sehingga aku memberanikan diri minta pertolongan dengan menggunakan bahasa Balanda. Anehnya, dia kemudian mengizinkan ku menumpang. Dalam keadaan darurat seperti itu batas antara bangsa penjajah dan terjajah seolah-olah pudar. Yang muncul kepentingan bersama menyelamatkan jiwa.
Sesampainya di Garut, ternyata kakakku yang baru melahirkan anak kedua, sudah pergi meninggalkan rumahnya, katanya mengungsi ke daerah pinggiran di kaki Gunung Talagabodas.
Pada saat itu aku memutuskan untuk pulang ke Panumbangan, bergabung dengan rombongan pengungsi yang menuju daerah Tasikmalaya, karena jika menyusul kakak ku, aku tidak mengetahui pasti tepatnya pengungsian kakak sekeluarga.
Selama beberapa waktu awal pendudukan Jepang, aku tinggal bersama Ibu Haji di Panumbangan sambil menunggu berita untuk melanjutkan kembali sekolah. Namun tinggal bersama orang tuaku itu membuat kehidupanku menjadi lebih ruwet.
Cita-citaku nyaris gagal oleh konsep keterpakuan tradisi dari orang tua yang ingin diterapkan secara paksa dalam kehidupan pribadiku.
Pada saat itu aku mendapat tekanan yang sangat berat. Orang tuaku yang dalam hal ini Ibu Haji, memutuskan agar aku tidak melanjutkan sekolah lagi. Katanya, gadis remaja sebayaku, saat itu harus segera menikah. Ibu Haji memaksaku untuk menerima lamaran dari seorang pemuda yang tidak aku kenal sama sekali. Laki-laki yang melamarku itu, katanya anak orang kaya dari Talaga Majalengka. Pendidikannya dari Kweekschool tapi belum tamat.
Ternyata Ibu Haji hanya memandang materi belaka. Tidak sedikitpun mau mengerti perasaanku apalagi mendukung cita-citaku menyelesaikan sekolah. Pemikiran Ibu haji begitu pintas. Aku kawin dengan orang kaya dan beliau terlepas dari beban tanggung jawab. Persoalan hatiku, meskipun tidak mengenal calon suami terlebih dulu, adalah urusan nanti. Padahal urusan nanti adalah urusan kehidupanku. Urusan masa depanku yang aku sendiri mengalaminya.
Bagiku kekayaan tidak menjamin kebahagiaan rumah tanggaku nanti. Aku tidak mau kawin kepada laki-laki yang tidak kukenal walaupun telah melamarku lewat ibu haji. Apalagi aku tetap pada tekadku untuk menyelesaikan Sekolah.
Aku menolak rancana Ibu Haji itu, dan Ibu Haji pun memaksakan kehendaknya dengan segala penekanan dan acaman.
Ahirnya aku memutuskan untuk minggat dari rumah. Tujuan utamanya adalah Garut, kerumah kakak ku.
Kepada Kak Ami dan Kak Adi, aku mengadukan kehendak Ibu Haji yang melarangku melanjutkan sekolah dan memaksaku kawin kepada laki-laki yang tidak aku kenal.
Sepertinya kakakku dan kakak iparku mengerti perasaanku dan mereka menyerahkan keputusan kepadaku sepenuhnya. Apapun yang aku pilih adalah keputusan demi masa depanku sendiri. Seandainya aku memilih perkawinan dan tidak melanjutkan sekolah, beliau pun menghargainya dan mendo'akan kebahagiaan bagi rumah tanggaku.Tapi karena tekadku menyelesaikan sekolah dulu, beliau pun mendukungku. Kakak dan kakak iparku berjanji akan mencoba meyakinkan Ibu Haji.
Selanjutnya, tidak lama kemudian Kang Purwa dari Panumbangan datang ke Garut, menyusulku dan menyuruhku pulang ke Panumbangan. Namun aku menolak dan bersikukuh tetap tinggal di Garut mengikuti Kak Ami. Setelah melalui pembicaraan yang alot, aku menyanggupi pulang ke Panumbangan tapi tidak bersama Kang Purwa saat itu.
Aku berangkat ke Panumbangan dihari kemudian diantar oleh kakak dan kakak iparku.
Di Panumbangan, Kak Adi memberikan pengertian panjang lebar pada Ibu Haji tentang perlunya aku menyelesaikan sekolah terlebih dulu dan membiarkan menentukan pilihan sendiri untuk jodohnya.
Awalnya Ibu Haji kukuh pada pendirian bahwa wanita itu kodratnya mengabdi pada suami, tapi setelah dijelaskan oleh Kak Adi bahwa untuk menunaikan pengabdian itu bukan berarti harus segara tunai saat itu, melainkan dengan dibekali ilmu terlebih dulu, maka pengabdiannya akan lebih menciptakan keluarga sakinah. Ahirnya Ibu Haji mengalah walupun dengan rasa kecewa.
Dengan perasaan kecewa dan kurang senang kemudian Ibu Haji membatalkan lamaran orang Talaga yang sebelumnya telah diterima oleh Ibu Haji sendiri.
Sepertinya kekecewaan hati Ibu haji sangat dalam karena keinginannya tidak bisa terpenuhi, ternyata ditunjukan oleh sikap dingin dan masa bodoh kepada ku.
Merasakan kekecewaan serta sikap Ibu Haji yang ditunjukkan kepada ku seperti itu, mendorong aku ikut lagi pulang ke Garut bersama kakak dan kakak iparku.
Selanjutnya Ibu Haji seperti tidak mau tahu lagi tentang biaya hidupku. Tapi aku pun tidak mau menyerah menghadapi ancaman Ibu Haji, aku lebih giat lagi membuat baju sulaman yang banyak dipesan oleh guru-guru rekan kakak ku. Disamping itu Kang Purwa pada saat pendudukan Jepang, sudah mendapat pekerjaan, sehingga beliau bisa membantu biaya ku.
13. Harapan Baru Kelana
Setelah beberapa lama aku tinggal di Garut, langit biru harapan dihatiku mulai cerah. Awan hitam yang beberapa waktu lalu menutupi relung kalbu dan menyeret ku tenggelam hingga nyaris mengandaskan cita-cita, mulai tersibak oleh angin kecang tekad membaja menerobos tradisi.
Suatu hari, aku mendapat berita bahwa bekas siswa VDS Bandung harus mendaftar ulang dan meneruskan ke Sekolah Guru Puteri di Jogyakarta. Kegembiraanku tiada terkira. Bersama teman-teman eks Siswa VDS asal Garut segera menuju Bandung menemui Ibu Rumsari Pengawas kami di VDS dulu.
Beliau tinggal di jalan Cikawao Bandung. Kepada beliau kami menanyakan seputar Surat Panggilan dan Cara Pendaftaran kembali ke sekolah di Jogyakarta. Tidak lupa pula kami menanyakan pakaian-pakaian kami yang tertinggal di asrama.
Bukan main tanggung jawab Ibu Rumsari sebagai guru kepada murid-murid asuhannya. Ternyata semua pakaian siswa sudah disimpan di rumahnya. Satu kamar penuh, pakaian siswa VDS mengonggok di rumah Ibu Rumsari. Aku dan teman-teman disuruh memilih pakaian yang menggunung di sebuah kamar. Sudah sulit lagi ditentukan pakaian siapa milik siapa. Akhirnya kami memutuskan untuk mengambil pakaian sembarang tanpa berpikir lagi asal pemiliknya. Yang penting ukurannya pas. Aku mengutamakan mengambil pakaian sekolah sehari-hari sebagai bahan kelengkapan untuk dibawa ke Jogyakarta.
Kami tidak ingin berlama-lama lagi berada di rumah Ibu Rumsari. Kebahagiaan dan semangat melanjutkan sekolah meletup-letup dihati kami. Rasanya kami ingin segera pulang mempersiapkan segala sesuatu dan segera pergi ke Jogyakarta. Setelah pamitan kepada Ibu Rumsari, kami bergegas pulang ke Garut.
Di rumah, aku dengan dukungan kakakku mempersiapkan segala sesuatu yang sekiranya harus di bawa ke Jogyakarta. Kami tidak bingung lagi apa yang harus dibawa, karena dalam hal ini kakakku sangat berpengalaman. Kekurangan pakaian, beliau membelikan dari Pasar dan aku sendiri menjahit membuat pakaian sendiri.
Teman-teman dari Garut berangkat berombongan ke Jogyakarta mendahuluiku, sedangkan aku menyusul kemudian karena masih ada persiapan yang belum lengkap. Lebih baik sedikit terlambat dari pada bergegas tapi banyak kekurangan dan ketinggalan.
14. Sekolah Pendidikan Guru Sentral Jogyakarta
Satu-satunya angkutan umum antar provinsi yang ada saat itu adalah Kereta Api. Jika penumpang dari Garut akan berangkat ke Jogyakarta, terlebih dulu harus menggunakan Kereta Api Uap sampai ke Halte Cibatu, kemudian dari Cibatu menggunakan Kereta Api Express Jakarta - Bandung - Jogyakarta -Surabaya. Biasanya Kereta Api Express dari arah Bandung, berhenti dulu di Halte Cibatu untuk menurunkan dan menaikan penumpang.
Aku pergi ke statsiun Garut diantar kakak ipar. Kecut juga hati aku saat itu, karena baru pertama kali melakukan perjalanan jauh. Sebelumnya aku tidak pernah melakukan perjalanan sejauh itu.
Untung saja, di statsiun Garut aku bertemu dan berkenalan dengan seorang pria yang juga akan pergi ke Jogyakarta. Namanya Bahtiar yang katanya sudah lama sekolah di Jogyakarta. Ia mengaku sekolah di Algemeene Middelbaar School (AMS) Jogyakarta dan ia pun mengatakan tahu percis alamat dan tempat sekolah yang akan aku datangi, oleh karena itu kakak ipar menitipkan aku kepadanya.
Kami berangkat dari Statsiun Garut sekitar jam 11.oo siang. Kereta Api yang kami tumpangi hanya sampai Halte Cibatu. Kami harus berganti dengan Kereta Api Ekspres jurusan Jakarta - Surabaya lewat jalur Selatan. Kereta itu lewat Bandung yang telah memuat penumpang penuh sesak.
Sehubungan merupakan pengalaman pertama menempuh perjalanan jauh, mungkin kondisi badanku belum terbiasa mengalami keadaan seperti itu. Kepalaku pusing dan mual, ahirnya muntah-muntah. Pria yang menyertai ku itu segera memberikan pertolongan. Ia segera merogoh saku celananya dan memberikan minyak angin untuk aku isap. Lantas ia pun menuangkan minyak angin ditelapak tangannya dan membalur tengkukku seraya memijat-mijat halus.
Memang pusing dan mual ku mendadak hilang, namun kemudian aku merasakan gejala baru, jantung ku berdebar dan berdetak keras. Keringat dingin membasihi seluruh tubuhku yang sudah lemas serasa tak bertulang. Luluh rasanya seluruh ragaku. Kepalaku nyaris kubenamkan kedadanya yang bidang. Namun aku segera sadar dan bangkit, karena laki-laki itu ternyata bukan siapa-siapa aku. Ternyata sentuhan tangan seorang pria, mengakibatkan gejala yang jauh lebih dasyat dari derunya angin.
Sampai di Statsiun Tugu Jogyakarta sekitar jam 18.00 sore. Sekolah yang menjadi tujuanku berada di Jalan Jetis. Itu menurut alamat yang yang aku catat, walaupun tepat letaknya dan arah mana yang harus ku tempuh berada di luar bayanganku. Aku sama sekali tidak tahu.
Lagi-lagi Bahtiar yang mendampingi ku selama dalam perjalanan, masih mau repot-repot mengantarku ketempat tujuan. Malah ia yang menyerahkan Surat Panggilan dan mendaftarkanku kepada petugas. Ia pula yang mengantarkan ke ruangan dimana siswa dari Jawa Barat ditampung, padahal kedua tangannya sudah repot menjinjing bawaanku.
Ia begitu baik dan perhatian, sehingga ahirnya menjadi "teman baik" kami. Temanku dan teman seluruh siswa asal Garut. Kami semua merasa mempunyai seorang kakak dan pimpinan rombongan dari Priangan.
Sayang sekali, setelah aku Lulus dari Sekolah Guru, ia tidak diketahui lagi keberadaannya. Menurut teman-temanku bahwa Bahtiar melanjutkan ke Sekolah Kedokteran. Yang jelas dia tidak kuliah di Jogyakarta. Mungkin dia melanjutkan kuliah di di Stovia Jakarta.
Sekolah yang aku masuki merupakan satu-satunya Sekolah Guru di Indonesia saat itu, sehingga siswa-siswanya datang dari berbagai daerah. Papua, Ambon, Gorontalo, Manado, Bali Sumatera termasuk Pulau Jawa. Oleh karena itu aku jadi mengenal dan faham budaya serta adat istiadat mereka masing-masing.
Sekolah Guru, menggunakan bangunan Hoge Burger School (HBS) yaitu Sekolah Tinggi Kemasyarakatan Jaman Hindia Belanda. Sekarang, bangunan itu menjadi Kampus Universitas Gajah Mada.
Sekolah guru di Jogyakarta terdiri dari Sekolah Guru Putra dan Sekolah Putri, tapi tempatnya dipisahkan. Pimpinan Sekolah Guru Putri dipegang oleh Ibu Ray. Sri Umiyati yang katanya masih keturunan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Siswa dari Jawa Barat, khususnya alumni Van Deventer School Bandung disatukan dalam satu kelas, kemudian siswa alumni VDS selebihnya ditambah siswa baru dari berbagai daerah dijadikan masing-masing satu kelas. Hingga jumlah seluruhnya mencapai enam kelas.
Tiap ruangan (sebesar aula) dibagi menjadi dua sampai tiga kelas. Bisa difahami jika sekolah ini membutuhkan lokasi dan ruangan yang luas, karena merupakan satu-satu sekolah guru yang ada di Indonesia serta merupakan sentral pendidikan guru dari berbagai daerah. Seluruh pendidikan guru yang ada, seperti VDS, VDZ, HIK, Kweekschool serta Sekolah Guru Normal DILEBUR menjadi satu, Sekolah Guru Sentral di Jogyakarta ini.
Asrama yang tersedia sebanyak sepuluh kamar. Tempat tidur antara siswa berdesak-desakan. Kasurnya berisi ijuk sehingga terasa keras dan kasap.Untuk selimut harus membawa sendiri. Siswa yang tempat tinggalnya tidak jauh dari sekolah, tentu bisa membawa kasur dan bantal sendiri termasuk membawa tempat tidurnya supaya nyaman. Tetapi bagi kami yang datang dari jauh terpaksa menerima apa adanya.
Para siswa alumnus Van Deventer tentu merasa "ngarumas" sebab fasilitas sekolah di Bandung serba mewah dan lengkap, sedangkan fasilitas sekolah di Jogyakarta harus menerima segala sesuatu serba terbatas.
Namun sekolah ini mempunyai kelebihan lain, yaitu mempunyai Lapang olah raga yang luas dan Aula yang besar.
Ruangan makan berada di lahan yang lebih rendah dari asrama sehingga jika hendak makan kami harus menuruni tangga tembok terlebih dulu.
15. Kenangan Sekolah di Jogyakarta
Teman sekolah VDS asal dari Garut yang tidak melanjutkan Sekolah guru di Jogyakarta sebanyak dua orang, tidak termasuk Si Cinot yang tidak diketahui lagi keberadaanya setelah kota Bandung dijatuhi Bom oleh angkatan udara Jepang.
Peraturan Disiplin Sekolah di Jogyakarta tidak seketat peraturan VDS Bandung. Kalau sekolah di Bandung nampak sekali banyak pengekangan, tapi sekolah di Jogyakarta cenderung diberikan kelonggaran kalau tidak dikatakan adanya kebebasan.
Di Sekolah Jogyakarta, kami diberi kelonggaran keluar pada Sabtu sore dan Minggu . Apalagi pada hari Minggu sepenuh hari bebas keluar kemanapun kita pergi, asal pada jadwal makan sore sudah ada di tempat.
Menu makanan disini berbeda dengan saat di Bandung yang serba memperhatikan gizi. Sayur rawon, sayur kacang dan lodeh termasuk ikan asin pun kerap kami temukan disini.
Ada peraturan yang masih aku temukan seperti di VDS, tiap akan keluar lingkungan sekolah, harus mengisi dulu daftar izin keluar. Kami harus mengisi alasan apa keluar dan kemana tujuanya. Tapi hal itu kelihatannya seperti formalitas. Berbeda dengan di VDS, diluar jadwal liburan, alasan apapun tidak diperbolehkan keluar lingkungan sekolah.
Tiap hari Sabtu sore atau Minggu, aku bersama teman-teman dari Garut sering keluar jalan-jalan. Bahtiar sering bergabung dengan kami dan mengambil peran sebagai pemandu.
Teman-teman dari Jawa Barat selalu kompak dan sepertinya merupakan geng paling menonjol dan disegani. Jika jalan-jalan atau piknik keluar kota kami selalu bersama-sama. Bahtiar pun sering menyertai kami. Bahkan jika kami pergi ke Candi Borobudur atau ke Candi Prambanan atau pergi ke Candi Kalasan, Bahtiar selalu menjadi pimpinan rombongan. Ternyata selain baik hati dan perhatian, Bahtiar mempunyai jiwa kepemimpinan yang kuat. Ia mampu menunjukan kemampuan sebagai leader of the group yang bertanggung jawab dan disegani.
Bahtiar juga sering membawa temannya dari AMS bergabung dengan kami, sehingga kelompok para pelajar dari Jawa Barat nyaris membentuk organisasi permanen. Tapi ternyata pihak Jepang melarang keras.
Pertemuan kami makin sering walaupun hanya sekedar nongkrong dan jajan eskrim di Malioboro, tidak jauh dari lingkungan sekolah.
Siswi dari Priangan apalagi tempaan VDS Bandung selalu menjadi pusat perhatian orang-orang disana. Selain cara berpakaian berbeda dengan gadis setempat, juga prilakunya dipengaruhi gaya noni-noni. Yang jelas cantik-cantik walaupun agak kegedean genitnya.
Jika aku boleh bangga almamater, ternyata dikemudian hari banyak teman-temanku yang terkenal dan menjadi tokoh nasional. Seperti temanku Emma Norma, kemudian terkenal karena mendampingi suaminya Bapak Soedarmono Wapres RI. Kemudian juga temanku Elin Karlina mendampingi suaminya Bapak Umar Wirahadikusumah menjadi Wapres RI.
16. Pulang Kampung Liburan Lebaran.
Walaupun banyak liburan sekolah, tapi kami pulang kampung ke Garut hanya setahun sekali yaitu menjelang Hari Raya Iedil Fitri. Hal ini aku lakukan untuk menghemat uang karena ternyata saat itu ongkos pejalanan sangat tinggi. Kami lebih memilih menabung atau belanja pakaian di Yogyakarta dari pada sering pulang ke Garut atau ke Panumbangan.
Pada zaman pendudukan Jepang, bahan sandang banyak dan mudah di dapat di kota Yogya. Sebaliknya di Jawa Barat sangat sulit di temukan. Kalaupun ada, hanya di jual di toko tertentu namun harganya sangat mahal dan tidak terjangkau oleh msyarakat luas. Masyarakat di Jawa Barat mengenakan pakaian seadanya. Banyak yang compang-camping, malah masih banyak orang yang hanya mengenakan celana cawat dari getah karet.
Penyebabnya, penyelenggaraan pemerintahan di wilayah Jawa Barat, dibawah langsung penjajah Jepang, yang sedang fokus pada masalah militer dan peperangan, sehingga kehidupan ekonomi pun terbengkalai. Import tektil yang biasanya dari India dan Arab pun ditutup dan di larang. Sedangkan di Yogya penyelenggaraan pemerintah melalui Kerajaan yang otonom dan berdasarkan "lang contrak". Di Yogya ekonomi masyarakat relatif stabil karena Sang Sultan sangat memperhatikan hal tersebut.
Ketersediaan Bahan tektil di Jogyakarta melimpah, karena selain tenunan dalam negeri, tektil impor dari India pun banyak di pasaran. Kalau saja pos penjagaan tentara Jepang tidak ketat, aku bisa berbisnis pakaian dari Yogya ke Priangan. Untungnya akan berlipat ganda, tapi jika tertangkap resikonya tembak ditempat.
Keadaan umum ekonomi bangsa Indonesia saat itu sangat terpuruk. Masyarakat ahirnya mengidamkan kembali pada keadaan ahir kekuasaan Belanda tahun 1942 yang dianggap sebagai zaman "normal".
Sebenarnya keadaan ekonomi bangsa Indonesia saat itu, pada umumnya berada dibawah kemiskinan. Kekayaan kita dikuras habis oleh Jepang untuk biaya pembelian persenjataan militer dan biaya peperangan Asia Timur Raya. Alasan yang dipropagandakan untuk kemakmuran bersama bagi bangsa Asia dimana Jepang menjadi "The Workschop of Asiatic People". Kenyataannya, malah bangsa Indonesia sendiri menjadi menderita. Kemiskinan dan kelaparan merajalela dimana-mana.
Rakyat dipaksa melakukan "romusha" . Ratusan ribu orang rakyat Indonesia meninggal menjadi korban kebiadaban penjajah baru yang mengaku "saudara tua".
Ternyata penjajah terdahulu telah menempa pribadiku dan penjajah yang baru hanya menyisakan penindasan dan kesengsaraan tanpa sedikitpun berniat memajukan kesejahteraan bangsa terjajah.
Padahal mereka selalu mempropagandakan dirinya sebagai saudara tua yang akan mengangkat martabat bangsa Asia dari penindasan kolonial barat. Katanya, mereka mengaku sebagai saudara yang akan menciptakan kemakmuran bersama diantara bangsa Asia dibawah pimpinan "Nippon Teikoku". Bangsa yang mengaku dirinya keturunan "amateratsu omikami" yang selalu digjaya dalam perang dunia kedua. Kenyataannya, hanya penderitaan yang dialami saudara mudanya, karena darahnya diisap sampai kering oleh penjajah baru yang berkedok saudara tua.
Dibalik propaganda tersebut, sebenarnya Jepang menyembunyikan taktik licik. Di babak ahir peperangan Asia Timur Raya, sebenarnya militer Jepang tengah terdesak oleh gempuran sekutu. Personil militer makin menipis dan alat peperangan makin banyak berkurang. Selain itu, sebenarnya ekonomi Jepang sendiri mulai pingsan, hingga situasi politik di parlemen pun carut marut.
Kekuatan Jepang dari berbagai aspek menjadi tidak sepadan melawan sekutu yang terdiri dari empat negara maju termasuk Belanda. Ahirnya Jepang mengincar kekuatan lain di luar potensi yang ia miliki, yaitu dukungan dan bantuan bangsa Indonesia.
Untuk menambah kekurangan personel militer, Jepang melatih pemuda Indonesia dalam barisan "heiho".
Namun Pemuda Indonesia lebih cerdik menyikapi pelatihan militer yang diadakan tentara Jepang. Program pelatihan tersebut hanya dijadikan bekal keterampilan para pemuda dalam menghadapi peperangan. Motifasi juang tetap Indonesia Merdeka.
17. Karena Modis jadi Penjahit
Di kota Yogyakarta saat itu, dapat dikatakan murah sandang, tersedia pangan. Para pengusaha Timur Asing, terutama India dan Arab, lebih cerderung membuka Usaha disana. Toko pakaian langganan kami adalah "KAHÉNOOR" di jalan Malioboro. Pemiliknya orang Pakistan yang sudah kami kenal dengan akrab. Selain bahan-bahannya bagus, kami sering mendapat diskon.
Aku sering berbelanja kain bahan pakaian. Aku mendesain, membuat pola dan menjahit sendiri. Tempaan kakaku dirumah dalam mengajarku menjahit dan hasil pendidikan keterampilan di VDS ternyata membuahkan guna saat sekolah di Yogyakarta.
Bukan hanya teman di Sekolah Guru saja yang pesan pakaian buatanku, tapi hampir sebagian besar pelajar wanita yang sekolah di Jogya menyenangi baju buatanku. Katanya selain modis, jahitannya rapih. Uang simpananku makin gemuk. Malah sudah mampu mengirim wesel untuk Ibu di Panumbangan.
Para siswa dari Jawa Barat selalu berbelanja bahan pakaian bersama. Memilih motif dan warna yang sama. Aku dan seorang teman dari Garut yang menjahitkan, dengan model yang sama. Semua baju teman-temanku dari Priangan selalu mengenakan pakaian yang serba sama, sehingga menjadi pusat perhatian. Maklum, sebagai Gadis Remaja saat itu, masih ingin perhatikan orang.
18. Meraih Izasah Pendidikan Guru
Memasuki bulan ramadhan, sekolah di liburkan dan kami semua pulang kedaerahnya masing-masing. Siswa asal Priangan, pulang bersama-sama naik Kereta Api. Bahtiar yang lagi-lagi dipercaya sebagai ketua rombongan.
Dalam perjalanan kali ini, aku tidak mabuk lagi. Mungkin sudah terbiasa melakukan perjalanan jauh, atau mungkin juga selama diperjalanan aku berbahagia dan tidak stress. Atau mungkin juga, karena rasa senang berada disamping Sang Ketua rombongan, telah menaikan imunitas tubuh ku.
Sepanjang jalan kami bergembira. Bermacam-macam tingkah yang kami lakukan, sehingga riuhlah di dalam gerbong yang kami tumpangi. Perjalanan panjangpun jadi terasa singkat. Tanpa terasa kami sudah sampai di Garut kampung halamanku.
Saat masa liburan habis, kami pun harus kembali ke Yogyakata. Bahtiar sering menghubungiku untuk menentukan waktu keberangkatan. Kami pun pergi bersama-sama lagi dan menikmati kebahagiaan di perjalanan bersama-sama pula. Seperti biasa membuat riuh di dalam gerbong dan memberikan hiburan gratis kepada penumpang lainnya. Lawakan dan candaan konyol dari kami , dapat mengusir rasa jenuh selama perjalanan panjang.
Masa pendidikan Sekolah Guru di Yogyakarta dipenuhi kebahagiaan dan keceriaan bersama terlepas dari segala kekang aturan Sekolah sambil menikmati segala kelonggaran.
Tanpa terasa, aku sudah ada dipenghujung penyelesaian pendidikan. Aku lulus dengan hasil memuaskan. Malah untuk pelajaran bahasa Indonesia, aku mendapat nilai tertinggi di sekolahku. Hanya sayang, pelajaran Bahasa Jepang ku kurang bagus, sehingga pada saat mengawali bhaktiku sebagai guru, aku diharuskan mengambil les tambahan bahasa Jepang.
Bahasa Jepang dalam penalaranku merupakan konsumsi baru, berbeda dengan bahasa Belanda yang sering aku praktekan, baik di rumah maupun di sekolah sebelumnya. Kalau saja di Sekolah Guru Yogyakarta yang berlangsung pada zaman Jepang ada mata pelajaran bahasa belanda, tentu aku mendapat nilai bagus.
Satu tahap, cita-citaku tercapai dengan hiruk-pikuk perjuangan untuk menggapainya. Tapi ini masih awal dari seluruh perjalanan hidupku. Di depan, masih terbentang panjang usaha mengaktualisasikan izasah kepada kenyataan sebenarnya. Aku harus sudah siap pada Pengabdian sebagai Guru.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar